
"Maksud mang Diding, tumben hari ini bawa suami?" Goda mang Diding, matanya melirik pada Bram yang ada di belakangnya, menenteng dua kantong kresek ukuran sedang dengan bermacam isinya.
Wajah Aisyah memerah, semerah jambu matang.
Bram terbengong sendiri, pias wajahnya berubah sesaat, sedikit salah tingkah ketika mendengar kalimat yang dilontarkan penjual daging itu.
"Bukan, ini bukan suami mang."
"Memang mamang curiga bukan suami." Sahut mang Diding sambil tertawa jenaka.
"Lho?" Sekarang Bram kebingungan dengan tingkah mang Diding.
"Maksud mamang?"
"Pasti pacar Neng Aisyah, kan? kalau pacar mah masih mau nenteng-nenteng, tapi kalau suami biasanya di ajak ke pasar saja susah." Mang Diding menyerahkan daging yang sudah di timbangnya setelah di masukkan ke dalam kantongan kresek.
"Aduh mamang, bukan suami bukan pacar, ini...teman abah eh...teman saja maksudnya." Aisyah juga jadi bingung menjelaskannya pada mang Diding.
"Oooooh...temen saja." Mang Diding tertawa, menerima dua lembaran uang biru dari Aisyah.
"Iya, mang...mas Bram cuma membantu mengantar saya berbelanja."
"Ohhh...." Mang Diding menaikkan alisnya yang tipis itu, raut wajah enjual daging langganan Aisyah ini memang lucu.
"Sekilo saja?" Tiba-tia Bram nyeletuk.
Aisyah menoleh kepada Bram sambil mengangguk.
Bram bingung melihat daging yang hanya sebesar kepalan dua tangannya itu, rasanya terlalu sedikit untuk di masak bagi satu keluarga.
Bram hanya tahu, jika makan semua sudah tersaji di atas meja dan itu dalam jumlah yang cukup banyak.
"Itu cukup?"
"Ini sudah banyak, cukup untuk makan dua kali kalau dipanaskan. Kita kan' tidak mengundang orang banyak makan. Hanya untuk makan siang ulang tahun abah saja. Kalau ngundang makan anak-anak satu pengajian memang tidak cukup..."Aisyah tertawa, melihat wajah Bram yang tak berkedip menatapnya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita undang satu pengajian untuk makan siang bersama abah."
"Haaah..." Aisyah kebingungan.
__ADS_1
"Mana cukup?" Lanjutnya sambil mengernyitkan kening.
"Beli dagingnya yang banyak, kita undang semua muridmu mengaji makan bersama abah."
"Tapi..."
"Bukankah pahalanya besar jika memberi makan anak-anak, apalagi di hari ulang tahun abah?" Tanya Bram dengan gaya sok tahu.
"Benar sekali, om..." Mang Diding menyeletuk di sela pembicaran dua orang itu yang tanpa sadar masih berdiri di depan lapaknya.
Wajah Bram langsung cemberut mendengar dirinya di panggil om, oleh laki-laki berperawakan tambun bulat itu.
"Memangnya aku setua itu? rasa-rasanya tahun ini baru lewat sedikit dari tigapuluh tiga. Dasar sok tahu ini mamang-mamang." Bram merutuk dalam hati. Matanya melirik ke arah Aisyah yang tampak merona wajahnya menahan geli.
"Tapi..."
"Mang, tambahkan lagi sepuluh kilo." Bram berucap pada mang Diding tanpa perduli dengan Aisyah yang tampak kebingungan antara protes dan tak tahu harus mengatakan apa.
"Aku yang bayar, boleh kan? Aku juga ingin memberikan hadiah ulang tahun untuk Abah, tetapi tidak tahu harus memberi apa. Setidaknya dengan bantuanmu membuat masakan yang enak aku bisa berterimakasih kepada Abah telah membimbingku selama ini." Bram berargumen, dia tahu Aisyah tak setuju jika dia mengeluarkan uangnya.
"Tapi..."
"Aduh, Isah...tidak perlu tapi-tapian. Kamu menghalangiku ingin membahagiakan abah, itu bisa di hitung dosa, lho." Bram nyengir, sementara mang Diding dengan senang hati menimbang daging pesanan Bram.
Bram melepaskan kantong kresek yang ada di tangannya, dan merogoh dompetnya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang merah sambil menyerahkannya kepada Mang Diding.
"Ini cukup, mang?"
"Cukup, om..." Mang Diding menyambut sepuluh lembar uang tunai itu dengan wajah sumringah.
"Sttt...mang, jangan panggil aku om, aku tidak tua-tua amat. Kalau tidak ini terakhir kali neng Aisyah beli daging di tempat mamang." Bram melepaskan uang dari tangannya sambil merengut. Masih kesal mang Diding memanggilnya om di depan Aisyah.
"Wah, jangan dendaman begitu om eh bang..." Mang Diding menyahut sambil menepuk-nepuk plastik besar berisi daging itu.
"Nah, gitu...bagusan di panggil abang, lebih enak dengarnya." Bram melirik Aisyah yang masih melotot padanya dengan matanya yang cantik itu.
"Makasih banyak bang. Aduh, abang memang baik sekali. Neng Aisyah, terimakasih membawa pacar seganteng ini ke tempat saya, sudah di borong banyak lagi. Mang Diding doakan cepat naik pelaminan." Mang Diding menyahut girang.
Bram tertawa mendengar dirinya di sebut pacar yang ganteng sambil mengambil semua kantongan yang berat itu. Dia tak tahu entah mengapa kalimat yang di ucapkan oleh Mang Foding membuat hatinya menggelayar aneh. Sementara Aisyah sendiri menutupi raut tersipunya.
__ADS_1
"Mas Bram, abah cuma menyuruh mas Bram mengantarku ke pasar bukan membayar belanjaanku." Aisyah masih protes, tapi dia bingung sendiri karena uangnya tak akan cukup untuk mengganti uang yang sudah di keluarkan Bram, dia hanya punya beberapa lembaran biru lagi, sisa tabungannya untuk membuat acara makan spesial ulang tahun abah ini.
"Abah pernah mengatakan, Barangsiapa yang memberi makan oranglain hingga membuatnya kenyang dari rasa lapar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam salah satu pintu surga yang tidak dimasuki oleh orang lain. Aku juga mau masuk sorga. Jangan cuma kamu saja..." Dalih Bram dengan santainya.
"Tapi, bukan begini juga, mas..."
"Lalu bagaimana?" Bram menarik sudut bibirnya membentuk senyum aneh, Aisyah tak menjawab, dia mengambil sebuah kantongan yang tidak bisa di bawa oleh Bram karena tampak dia cukup berat membawa kantongan daging dan satu kantongan berisi sayur.
“Aku juga pernah mendengar satu ceramah saat sembayang dengan Abah, bahwa ada sejumlah kamar di Surga yang di sediakan Allah bagii orang-orang yang memberi makan iorang lain, jadi kalau kamu masih menolak aku membelinya berarti kamu menghalangi aku masuk surga. Sebagai orang yang tahu banyak tentang agama kamu tidak boleh bersikap begitu keras, menghalangi orang mau masuk surga itu berdosa, lho...Benar tidak?"
Aisyah seketika terbengong, melihat Bram yang dengan penuh percaya diri menggunakan apa yang di dengarnya untuk membuat Aisyah tak lagi bisa menolaknya.
"Terimakasih, mang..." Pertama kali Bram mengucapkan terimakasih atas jasa seseorang dengan tulus dan penuh kesantunan, Aisyah telah memberinya contoh secara tidak langsung bagaimana cara menghargai orang lain dengan baik dan sopan. Dan Bram merasa bahagia dengan dirinya setelah mengucapkan kata itu dan melihat bagaimana raut wajah senang mang Diding menyahutnya.
Sekarang Aisyah yang mengikuti langkah Bram dengan tergesa, dia masih tampak tak enak dengan apa yang dilakukan Bram.
"Kemana lagi?" Bram menoleh pada Aisyah.
"Kita pulang saja..." Sahut Aisyah, wajahnya masih menunjukkan rasa bingung dengan apa yang di lakukan.
"Kita harus menambah sayur dan bumbunya, kan? Yang makan banyak nanti..." Kata Bram dengan gaya sok tahu.
"Iya, tapi..."
"Tapi apa? Uangnya tidak cukup?"
"Ada, cuma..."
"Cuma apa?"
"Yang membantuku memasak banyak begini siapa?" Aisyah bertanya dengan polosnya.
"Aku yang akan membantumu, Isah..." Sahut Bram, dengan senyum lebar. Dia tak pernah melakukan hal ini seumur hidupnya tetapi saat melihat wajah bingung Aisyah yang terlihat menggemaskan baginya, dia rela menyanggupi hal itu.
Perasaan Bram benar-benar tak dia mengerti sekarang, agak aneh saat melihat wajah polos Aisyah yang tak berdosa itu.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
__ADS_1
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...