CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 72. BERDAMAI DENGAN MASA LALU


__ADS_3

"Hanya saja..." Aisyah berucap di sela isaknya yang tertahan


"Kenapa ayah tak pernah mencariku jika ayah merasa rindu? Ayah tahu, bahkan ibu menjadi gila karena merindukan ayah."


Suara Aisyah bergetar di pundak ayahnya, kata-kata itu menyembur dalam kesedihannya.


"Empat tahun yang lalu, ayah pernah memberanikan diri kembali ke rumah kita yang lama, tetapi...rumah itu sudah di jual kata kata pemiliknya mereka tak tahu di mana kalian berada." Faraz berucap serupa bisikan yang sarat sesal.


"Dan ayah terlalu takut untuk berhadapan dengan kalian...ayah tak punya muka dan keberanian untuk datang kepada kak Syarif setelah membuat ibumu begitu menderita..." Air mata Faraz meleleh, melewati tulang pipinya.


Setelah meninggalnya Ani, Faraz mengurus anak tirinya, Adka dan anak kandungnya sendiri yang masih balita, seorang diri.


Hidup mereka kadang dari belas kasihan tetangga, bahkan Faraz harus menyadap karet di kebun-kebun penduduk untuk mendapatkan upah dari hasil bagi dua dengan pemilik kebun. Jika musim penghujan maka Faraz akan mencari orang yang memakai jasanya untuk memperbaiki perabotan atau apapun. Untuk mencari ikan dia trauma, setelah kehilangan empat jari kakinya di mulut buaya.


Selang hampir dua tahun dalam masa yang sulit, Faraz memutuskan kembali ke Surabaya membawa dua anaknya, dengan biaya seadanya naik kapal lewat pelabuhan kota Banjarmasin.


Dan Tuhan bahkan tak memberinya kesempatan bernafas lega, dalam perjalanan pulang itu dia kehilangan dompetnya dengan uang yang tak seberapa untuk bertahan hidup.


Setahun terlunta di Semarang, menjadi pemulung. Untunglah Adka, anak tirinya itu sangat menyayangi bapaknya itu, dia membantu menopang kehidupan mereka. Dia tahu tanpa Faraz, dia tak punya siapa-siapa, meski dia punya ayah kandung tapi dia tak ingin meninggalkan Faraz, ayah tiri yang di cintai ibunya itu, yang telah merawatnya selama ini.


Ketika cukup uang, Faraz memboyong mereka ke Surabaya, dia sungguh ingin melihat Atifa dan Aisyah, jika mereka telah bahagia dia cukup datang melihatnya saja.


Tetapi, saat dia datang ke rumah mereka, Atifa dan Aisyah telah pindah dari sana, rumah itu telah di jual.


Hidup itu sungguh aneh, berputar-putar begitu saja. Ketika keluarga Faraz yang terlunta itu di angkut satpol PP dan tempat tinggal mereka di gusur, mereka tinggal di bantaran sungai Jagir. Mengadu nasib dan untung, sibuk dalam kehidupan mereka, pernah sekali dua Faraz meluangkan waktu mencari tempat tinggal baru Aisyah, dan dia kemudian tahu Syarif telah membawa keluarga itu pindah ke kampung sebelah yang tak jauh dari rumah mereka yang lama.


Sayangnya, saat dia melihat Aisyah bersama seorang anak, dia menyerah pada hatinya. Dia kehilangan keberanian untuk berhadapan dengan anak yang telah di telantarkannya. Dikiranya Aisyah telah hidup tenang berkeluarga dan berumah tangga, dia takut kehadirannya menimbulkan kekacauan baru dalam hidup anaknya itu. Dia memutuskan menghilang, dan tak pernah kembali lagi untuk mencari.


Hidupnya yang sengsara adalah karma dari perbuatannya sendiri, lelaki macam apa yang meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil besar demi perempuan lain? Bukankah tangisan seorang istri yang teraniaya adalah do'a yang tak perlu di katakan kepada Tuhan?


"Ayah, apakah ayah tahu apa yang terjadi pada ibu?" Tanya Aisyah dengan suara yang pelan, sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Faraz terdiam, dia menatap Aisyah dengan tatapan sendu. Lama sekali dia memandang wajah Aisyah, terlihat secantik Atifa di masa muda, bahkan lebih cantik mungkin karena dia menitipkan lesung pipi yang indah di sana.


"Ayah tahu..." Faraz menunduk, sambil memegang ujung selimutnya, jemarinya gemetar.


Aisyah tertegun, menatap mata ayahnya yang berkaca-kaca.


"Ayah tahu, ibumu telah bahagia dengan orang lain. Dia telah melupakan ayah dalam kebenciannya pada ayah." Lanjutnya dengan suara sedih.


Aisyah menarik sudut bibirnya dengan hati yang perih.


"Ayah benar," Aisyah menghela nafasnya, begitu berat.


"Ibu telah melupakan semuanya. Karena itu...cepatlah sembuh ayah, aku akan membawamu kepada ibu untuk bertemu. Setidaknya, dia melihat apa yang sangat ingin di lihatnya selama bertahun-tahun." Ucap Aisyah dengan suara parau.


Seorang anak yang sedari tadi duduk di sudut kamar hanya menatap mereka dengan mata bulatnya tiba-tiba menghampiri Faraz, menggenggam tangan Faraz dengan erat sambil melirik Aisyah dengan takut. Dia kumal dan kurus, rambut tak terawat dan merah tersengat matahari.


Aisyah menatapnya lurus, anak itu hampir lebih kecil dari Tito meski umurnya sepuluhan tahun.


Aisyah tak berkedip menatap anak itu, ingatannya melayang pada Faiq, adiknya yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Jika adiknya itu masih hidup dan tidak di lemparkan oleh ibunya, maka dia akan seusia anak ini.


Sekelebat rasa amarah lewat di sudut kepalanya, membuatnya kepalanya berdenyut dan sakit. Rasa marah dan cemburu yang lamat-lamat menggoda rasa benci keluar dari sudut yang lain.


Aisyah memejamkan matanya, dia tahu Tuhanlah yang menuliskan takdir tetapi kadang kala sebagai manusia, terlalu sulit untuk menerimanya, ketika itu terasa menyakitkan.


"Dia...dia..." Faraz berusaha mengumpul segenap kata untuk memperkenalkan anak yang tampak takut sekaligus bingung menatapnya Aisyah itu.


"Dia adalah adikku." Suara itu terdengar tegas dan tajam, seolah di ucapkan Aisyah untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Faraz terpana, melihat bagaimana Aisyah begitu berusaha berbesar hati di depannya.


"Dia adalah anak ayah, yang membuat ayah harus pergi dari aku dan Faiq... dan dari ibu." Ucap Aisyah lirih sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba keluar begitu saja dari sudut matanya.

__ADS_1


Lalu di raihnya kepala anak itu dan mengusapnya.


"Apakah kamu lapar?" Tanyanya dengan suara tersendat, hatinya seakan teriris-iris saat mengucapkannya.


"A...ah...ahku...tidak...lap...lapar." Dia menggeleng dengan cepat, kalimatnya tersendat-sendat sambil menoleh kepada ayahnya yang tak lagi mampu bersuara.


Aisyah menghapus airmatanya dengan kasar, seolah berusaha melawan rasa sakit yang meremas hatinya saat menatap wajah Aqsa.


Dengan segera dia berdiri, dia ingat Bram tadi meninggalkan satu kantong besar makanan, roti, minuman dan segala macam yang mungkin diperlukan Aisyah.


Diambilnya makanan itu, diletakkannya di atas meja.


"Kemarilah, makanlah, kamu pasti lapar..."


Aqsa menggeleng lagi, sambil menoleh pada ayahnya yang bersandar di kepala tempat tidur dengan begitu haru tak terkatakan melihat bagaimana Aisyah bersikap.


Aisyah membuka kemasan sebuah roti manis isi cokelat, lalu menghampiri Aqsa.


"Adikku, jangan takut. Makanlah. Aku adalah kakakmu." Ucap Aisyah.


Senyumnya merekah perlahan meski sederas itu airmatanya yang turun, dia telah memenangkan perang bathinnya atas kebencian pada masa lalunya.


"Abah, terimakasih...Abah telah mengajarku untuk selalu berdamai dengan kenyataan, dan aku tahu dari alam yang berbeda, abah melihatku telah berhasil melakukannya. Aku benar-benar telah berdamai dengan dendam dan masa lalu." Bisik Aisyah dalam hatinya.


*Hanya orang yang besar hati yang bisa berdamai dengan kenyataan sepahit apapun*



(Besok adalah part pertemuan Atifa dan Faraz, seperti apakah saat Atifa melihat seorang laki-laki yang di nantikannya sepuluh tahun yang lalu saat kembali? Dan Sttt...setelahnya ada yang lamaran lho😅 jangan lupa sediakan VOTEnya untuk yang di lamar🤣🤣)


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......

__ADS_1


...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis😂...


__ADS_2