
Aisyah duduk di samping Retno, menunggu Bram yang tampak berbicara serius di teras samping. Matanya berkali-kali mencuri pandang pada Bram.
"Mereka sedang membicarakan apa, sih? Serius amat?" Retno tampak kepo.
"Entahlah." Aisyah duduk dengan kaki di rapat-rapatkan, berusaha bersikap kalem di depan Mbak Retno padahal pangkal pahanya masih terasa agak sakit dan pegal. Pengalaman malam pert@ma yang luar biasa itu baru menyisakan rasa pegel.
"Eh, kamu duduknya kenapa?"
"Akh, tak apa-apa." Aisyah tersipu.
"Kamu mirip orang lagi kambuh ambeien begitu?"
Aisyah tak menyahut, dia sibuk menuangkan teh dari teko, pura-pura tak mendengar apapun.
"Bagaimana dengan rencana resepsi pernikahanmu?" Tanya Mbak Retno, untung saja mbak Retno adalah orang yang tak betah mencecar dengan satu topik, pembicaraannya suka kemana-mana.
"Akan di laksanakan di minggu depan, mama mengurusnya."
"Mertuamu?"
"Iya."
"Astagfirullah, menantu macam apa yang membuarkan ibu mertuanya mengurus semuanya sendiri...?" Mbak Retno melotot.
"Iso kualat, lho." Tambahnya dengan bibir monyong.
"Tapi mamanya mas Bram memaksa mengurusnya semua, lagian aku tidak terlalu mengerti urusan segala EO itu. Gedung, dekor sampai segala cateringan, rasanya aku takut tak sesuai selera orang kalau aku ikut campur." Aisyah membela diri.
"Memangnya seleramu apa?"
"Aku menunya nasi rames, lalapan, pake lodeh aja sudah."
"Eh, itu kawinan bukan menu warung makan tenda."Mbak Retno melotot pada Aisyah.
"Makanya itu, mbak. Aku pasrah saja sama mama mertua soalnya kalau aku pribadi sudah ijab qobul, rasanya sudah beres saja mbak. Aku yang penting sudah sah saja." Sahut Aisyah dengan wajah menyeringai sambil mengangsurkan gelas teh ke hadapan Mbak Retno.
"Iya, juga ya..." Mbak Retno manggut-manggut.
"Orang kaya memang suka aneh-aneh, ya. Orang sudah sah tetep aja di kawinin lagi. Coba duitnya buat beli motor, mobil..." Mbak Retno terkekeh sendiri, seraya membenarkan pendapat Aisyah yang sederhana itu.
__ADS_1
"Kemarin Aku masih membantu Adka membersihkan rumah, mengatur kepindahan pak Faraz, mereka masih canggung di sana tetapi ku rasa pak Faraz memang perlu suasana baru. Kesehatannya tidak terlalu baik menurutku."
Aisyah terdiam.
"A...ayahku baik-baik saja?" Tanyanya tanpa bisa menyembunyikan rasa cemas.
"Beliau baik-baik saja, tetapi ku rasa beliau memang perlu memeriksakan kesehatannya." Kalimat itu di ucapkan Retno dengan nada ragu.
"Mbak, apakah ayahku mengatakan sesuatu?"
"Ndak ada, sih. Cuman perasaanku aja. Yang namanya sudah tua, kan? siapa tahu?"
Aisyah hanya manggut-manggut.
Tak lama Bram dan Adka menghampiri tempat mereka berdua duduk, buru-buru Aisyah menuangkan teh untuk suaminya.
"Terimakasih, sayang..." Bram menyambut gelas teh itu sambil tersenyum.
"Cie-cie...dah sayang-sayang aja nih panggilan..." Goda Mbak Retno sambil mencolek bahu Aisyah.
"Akh, mbak..." Aisyah tersipu malu-malu. Mencuri pandang pada Bram yang cuek bebek menyeruput tehnya.
"Sebenarnya ada apa?" Tanya Aisyah kemudian mengalihkan pembicaraan sambil melirik pada Adka yang diam, setengah menunduk.
"Dia hanya bertanya soal sebuah surat."
"Surat?"
"Tempatnya bekerja memberinya surat, aku rasa pihak toko sedang mengurangi karyawannya. Karena aku yang memasukkannya bekerja di situ, Adka menanyakan maksud dari surat itu."
"Adka di PHK?"
"Belum pasti juga, hanya semacam surat peringatan."
"Kok, bisa?"
"Nanti aku coba hubungi pak Didi, managernya. Aku rasa meskipun nanti Adka di resign, karena tokonya itu akan tutup dalam tiga bulan ke depan, aku bisa carikan pekerjaan yang lain untuknya." Bram tersenyum, dia tahu Adka sangat berat untuk melepaskan pekerjaannya itu. Anak ini meskipun berhenti sekolah dan tak tamat sekolah menengah atas, dia bersedia mengambil ujian paket C.
Meski dia sekedar anak tiri dari Faraz tetapi Aisyah tak pernah melihat seorang anak tiri sesayang itu mengurus ayah yang tak punya pertalian darah dengannya.
__ADS_1
Aisyah hanya menganggukkan kepalanya, sekarang dia mengerti mengapa Adka tak ingin membicarajan hal ini kepadanya, Aisyah pasti tak mengerti apa-apa.
"Tapi, untuk sementara aku rasa kita tak perlu mencemaskan ini, kita harus fokus pada resepsi pernikahan yang di adakan beberapa hari lagi. Ku harap Adka bisa ikut terlibat bersama mbak Retno."
"Oh, tentu saja, Aku pasti siap mengurusnya." Senyum mbak Retno lebar sembari mengedipkan mata pada Aisyah. Sekali lagi Adka mencuri pandang pada mbak Retno, lirikan malu-malu dan sedikit kagum. Sayangnya, perbedaan umur mereka jauh berbeda. Adka belum genap 19 tahun sementara mbak Retno sudah memasuki awal kepala tiga.
Mbak Retno si janda baik hati itu, cuek bebek, seakan tak tahu ada pemuda tanggung yang diam-diam jatuh cinta padanya.
...***...
"Dik Aisyah, lihatlah kamu seperti puteri."
Diah menatap kagum pada bayangan Aisyah yang terpantul di cermin, yang di tatap terlihat tersipu.
Hari ini, Diah mengundang Aisyah untuk mencoba pesanan baju pengantin di butik Sarah, Diah menepati janjinya menghadiahkan sebuah gaun pengantin untuk resepsi pernikahan Aisyah dan Bram.
Baju yang dipesan seminggu sebelumnya itu memang tidak di buat secara khusus, itu gaun pengantin jadi tetapi Diah meminta tambahan beberapa ornamen dari renda dan mutiara di bagian dadanya.
Gaun itu berwarna putih bersih, anggun dan elegan dengan bagian punggung menyerupai jubah. Dan dalam saat yang sama menampilkan keserderhanaan.
"Cantik sekali." Diah tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada gadis muda yang kini menjadi isteri dari mantan suaminya itu.
"Terimakasih mbak...tapi..." Aisyah menundukkan wajahnya yang bersemburat merah.
"Tapi apa?"
"Aku takut ini terlalu mahal..." Aisyah menelan ludahnya.
"Akh, sudahlah kamu tak perlu memikirkan harganya. Pokoknya, aku mau kamu tampil cantik di resepsimu nanti." Diah menepuk pipi Aisyah dengan lembut.
"Mbak Diah, aku tak mau merepotkan mbak. Kebaya sederhana saja sudah cukup bagiku." Aisyah menyahut sungkan.
"Aisyah, berikan aku kesempatan menepati janjiku untuk memberikan hadiah baju pengantin ini untukmu."
Aisyah terdiam, wajahnya terangkat menatap ke cermin besar di depannya tetapi tatapan sesungguhnya terarah pada Diah.
"Kenapa mbak Diah begitu baik padaku?" Tanya Aisyah, perlahan. Pertanyaan itu tak bisa di tahannya lagi.
Diah menatap Aisyah lekat-lekat, tatapan itu seperti tatapan seorang kakak pada adiknya.
__ADS_1
"Aisyah, aku tak punya alasan untuk membencimu. Lalu kenapa aku tidak boleh bersikap baik padamu? Aku dan mas Bram mungkin pernah bersama di masa lalu, tapi kami telah memutuskan untuk saling melepaskan. Jika kamu adalah muara kebahagiaan mas Bram sekarang dan padamu dia bisa menjadi lebih baik lagi, baik secara ahlak dan kehidupannya. Bukankah seharusnya aku berbahagia dengan itu? Aku berterimakasih padamu, Aisyah karena telah mencintai mas Bram dengan kepolosan serta kesederhanaanmu..."