CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 91. BERLALU BEGITU SAJA


__ADS_3

Pintu kamar di buka oleh Bram, wajah Atifa terlihat cemas terpampang di depan matanya.


"Oh, ada apa, bu?" Tanya Bram berusaha tenang mungkin sambil menegang erat sarungnya.


Baju atasannya di kenakan dengan sembarangan.


"Ada apa tadi? Seperti ada yang jatuh atau ambruk?" Tanya Atifa.


"Oh, tak ada apa-apa, bu. Hanya lemari Aisyah jatuh..." Bram menjawab denga salah tingkah, mencari alasan sekenanya. Dia tak mungkin mengatakan dipan mungil Aisyah itu ambruk karena terlalu bersemangat di m@l@m pengantin.


"Kok bisa?"


Walaupun pernah tidak waras tapi tak bisa di bohongi mentah-mentah. Alis itu bertaut penuh curiga bercampur cemas.


"Mmmm...terkait sarung Bram, bu..."


Mata Ibu Aisyah segera membulat sekarang benar-benar terheran-heran. Siapapun tak percaya dengan alasan ajaib seperti itu, hanya saja Bram sudah tak tahu harus berkata apa.


"Tapi..." Atifa berusaha melongok ke dalam, melewati celah pintu yang hanya di buka selebar badan Bram.


"Sungguh tak apa-apa, bu." Bram sekarang sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Isah mana?"


"Aisyah...Aisyah sudah tidur."


"Cepat sekali."


"Mungkin dia kecapekan, bu."

__ADS_1


"Oh..." Atifa mengangguk-angguk tetapi wajahnya masih cemas.


Bram menarik sudut bibirnya berusaha tersenyum.


"Aisyah baik-baik saja, bu!" Suara Aisyah dari dalam kamar segera membuat Bram memejamkan mata, Aisyah ini tak bisa di ajak bekerjasama untuk berbohong satu kali saja demi keamanan dunia.


"Dia...dia...nungkin terbangun gara-gara lemari jatuh." Bram menghela nafas tapi tak berani membuka pintu kamar.


"Itu ada mbak Retno datang..."


"Hah! ngapain mbak Retno ke sini?" Bram melotot, tak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu.


"Iya, mas Bram dari tadi aku di sini." Suara mbak Retno terdengar lantang dari arah arah dapur yang tak jauh dari tempat Bram.


Rumah itu terlalu kecil bahkan orang sekedar ngobrolpun akan terdengar dari ruangan lain.


"Aku kemari mengambil termos mpok Mumun tempat menyimpan nasi sekalian pamit ke mas Bram dengan Aisyah, membawa ibu Atifa menginap di rumahku saja, kasihan Tito tidur sendiri di sana, dia terbiasa tidur dengan Aisyah." Mbak Retno muncul dengan sebuah termos nasi besar di tangannya.


"Akh, mbak Retno." Bram benar-benar malu, tadinya dia mengira bisa membohongi ibu mertuanya tetapi mbak Retno, dia tidak seculun ibu mertuanya itu.


"Tolong titip pesan Aisyah, saya nginap tempat Retno, ya." Wajah cemas Atifa masih terpampang nyata. Lalu berbalik menuju kamar sebelah untuk mengambil sesuatu sebelum pergi dengan mbak Retno.


"Oh, iya tolong bilang Aisyah juga..."


"Apa?"


"Kalau suami pasang baju diperhatikan, takut bajunya kebalik." Mbak Retno tak bisa menahan tawanya sebelum pergi dari hadapan Bram.


Bram menatap dengan pasrah bajunya yang terbalik itu, depan ke belakang, belakang ke depan, karena begitu buru-buru.

__ADS_1


"Jangan lupa pintu rumah di kunci, ya...Assalammualaikum, mas Bram..." Suara tawa mbak Retno masih tertinggal di bawa angin, setelah bunyi pintu depan di tutup. Suasana sepi, tersisa Bram yang lemas sekuruh tubuhnya, berjalan menuju pintu depan untuk menguncinya sambil membuka bajunya yang terbalik. Untuk sementara dia tidak akan berani berhadalan dengan mbak Retno.


...***...


Menjelang tengah malam, Bram berjibaku memperbaiki dipan Aisyah, dia malu kalau besok pagi semua orang tahu kalau dipan Aisyah ambruk di m@l@m pertama.


Bram menjadi tukang dadakan di tengah malam.


Aisyah terpaksa menggelar karpet di lantai, menunggu sang suami memnyambung lantai papannya dengan sisa papan dari belakang dapur.


Dan lewat tengah malam akhirnya Bram menyelesaikan pekerjaan yang tak pernah di lakukannya itu seumur hidup, bermodal melihat tutorial di youtube. Untung saja alat-alat tukang sederhana abah Syarif masih ada.


"Sayang..." Bram mencolek Aisyah yang tertidur meringkuk di lantai beralas karpet. Desah nafasnya beraturan terdengar halus.


Bahkan saat Bram menyentuh pipinya yang hangat Aisyah tak bergeming, istrinya itu tertidur lelap.


Bram membaringkan tubuhnya di sebelah Aisyah, menghela nafasnya kuat-kuat.


"Begini amat malam pertamaku. Penuh cobaan dan rintangan..." Des@hnya sambil menatap wajah sang istri yang polos tanpa beban itu.


Punggungnya terasa sakit, dia tak pernah tidur hanya beralaskan karpet saja.


"Mudah-mudahan saja aku tak terserang masuk angin, encok pegelinu gara-gara ini." Dipejamkannya mata. Sebentar lagi mungkin suara adzan terdengar, m@l@m pertamanya segera akan berlalu begitu saja.


...***...



(yuk tetap ikuti, pengalaman Bram yaaa...segera otewe boyong Aisyah kerumah baru, tidak ada lagi drama2an dipan ambruk🤣🤣🤣)

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis


__ADS_2