
Acara resepsi itu selesai dengan lancar, semua tamu pulang dengan senyum bahagia tak terkecuali orangtua Bram.
Ibu Aisyah, Atifa beserta Tito sudah di antar pulang ke rumah oleh sopir keluarga Bram. Begitupun Ayah Aisyah, Faraz dan rombongan kecil dari kampung Aisyah juga sudah pulang dengan beberapa kendaraan yang di sediakan khusus oleh pihak EO untuk keluarga pengantin.
Bram sengaja menyewa kamar di hotel tempat perhelatan resepsi itu di laksanakan. Dia mengklaim malam ini adalah malam pengantin kedua, Bram sungguh tak ingin ada gangguan sekecil apapun lagi.
"Sayang..." Bram langsung memeluk Aisyah dari belakang saat pintu kamar sudah di tutup.
Aisyah tampak manyun, terlihat sedari tadi dia sedikit kesal.
"Kenapa muka istriku ini cemberut?" Tanya Bram sambil memeluk erat Aisyah.
"Kenapa di acara resepsi tadi ada minuman beralkohol?" Protesnya sambil berusaha lepas dari pelukan Bram.
"Eh, itu yang bikin kamu manyun dari tadi?" Bram menaikkan alisnya sambil membalikkan badan Aisyah yang masih berbalut gaun itu.
"Mas Bram tahu, agama kita melarang minum alkohol?"
"Mas tahu."
"Kok ada itu?"
"Sayang, yang mengurus semuanya itu pihak EO nya, minuman itu hanya alternatif saja disediakan untuk yang bukan muslim. Itu lazim ada di pesta-pesta, mungkin papa mengijinkannya mengingat relasi bisnis papa juga ada dari berbagai kalangan."
"Tapi minuman itu tidak baik..."
"Aku tahu..." Jemari Bram tiba-tiba menyentuh bibir Aisyah yang terus mengoceh.
"Bisakah kita melupakan itu sejenak?" Tanya Bram memelas.
"Tapi..."
Tiba-tiba bibir Bram menyosor tanpa permisi membungkam mulut Aisyah.
"Hmm..." Aisyah melotot tapi bibir Bram begitu lengket seperti bekicot yang menempel di tembok.
Dengan bersemangat Bram mengul*m bibir ranum Aisyah membuat istrinya itu hampir kehilangan nafas. Saat Aisyah berusaha melepaskan diri tangan Bram meraih pinggangnya dan menguncinya ke dalam pelukan.
"Mas..." Aisyah yang masih menggunakan pakaian lengkap dari resepsi itu seperti orang kebingungan.
"Sayang, aku tak sabar..." Desis Bram, dia berusaha mencopot kerudung Aisyah dan tentu saja dia kesulitan dengan lapisan-lapisannya yang banyak itu.
Aisyah mau tak mau tersenyum geli melihat tingkah Bram yang seperti orang kerasukan itu.
"Mas, yang pelan dong." Protes Aisyah sambil mendorong perlahan dada suaminya itu.
"Sayang..." Bram menghiba ketika Aisyah melenggang dengan santai sembari melepaskan kerudungnya.
"Mas..." Aisyah menoleh pada Bram, rambutnya yang panjang sudah terbebas dari dalam gelungannya.
"Ya?"
__ADS_1
"Sini."
Dengan semangat Bram mendekat, raut wajahnya senang bukan main.
"Tolong."
"Tolong apa?"
"Lepaskan resleting di punggungku." Pinta Aisyah.
Tanpa di minta dua kali Bram menarik ujung resleting gaun Aisyah sehingga punggung mulus istrinya itu segera terpampang nyata, mengintip dari balik rambutnya yang panjang sedikit ikal itu.
Tangan Bram yang terampil dengan penuh niat dan dedikasi menyibak punggung Aisyah sambil menurunkan lengan baju Aisyah.
"Stop dulu, mas. Aisyah bisa sendiri." Aisyah menahan tangan Bram. Lalu menggeliat dan menjauh, meraih piyama mandi dari lemari sambil melepaskan gaun itu dengan malu-malu.
"Astaga sayang, tidak usah di tutup-tutupi, aku kan sudah suamimu." Bram menelan ludahnya sendiri.
"Tapi Aisyah malu di pelototin mas Bram begitu." Wajah Aisyah memerah seperti jambu mengkal.
"Oh, sayang..." Bram mengurut dadanya yang sedari tadi turun naik tak karuan. Dia harus menambah stok sabar menghadapi istrinya yang masih polos ini.
Aisyah sungguh tak sama dari semua perempuan yang di kenalnya, dia begitu mentah dalam bercinta.
Aisyah memalingkan wajahnya yang tersipu lalu berlari kecil menuju kamar mandi.
Bram hanya bisa menggigit bibirnya sendiri sambil melepaskan ikat pinggangnya. Membuka sepatu dan kaos kakinya dengan sembarang, jasnya di lemparnya ke sofa dengan sekali kibas.
Kepalanya mendadak puyeng, sambil mengurut pelipisnya dia melepaskan satu persatu kancing kemejanya.
Suara gemericik air menyentuh lantai dari shower membuat Bram harus menghela nafasnya lebih panjang.
"Semoga saja ritual mandinya tak lama." Bram meloloskan celana panjangnya, menyisakan celana kolor.
Beberapa menit Bram berbaring dengan gelisah, dengan wajah masam akhirnya dia berjinjit ke arah pintu kamar mandi.
"Tok! Tok! Tok!"
Pintu kamar mandi di ketuk.
"Ya, mas..."
"Buka, sayang."
"Aisyah lagi mandi, mas. Kenapa?" Suara Aisyah terdengar sayup-sayup.
"Buka sayang, mas mau sikat gigi."
"Sebentar, mas..."
Aisyah muncul di depan pintu kamar mandi dengan handuk yang menempel seadanya di badannya.
__ADS_1
Tanpa basa basi Bram mendorong tubuh Aisyah untuk kembali ke dalam kamar mandi.
"Astagfirullah..." Aisyah yang terkejut hampir terjatuh tetapi Bram dengan sigap menangkap pinggangnya.
"Temani aku mandi."
"Tapi, mas. Aisyah sudah mandi."
"Pokoknya mas mau di mandiin."
Aisyah yang masih polos itu melongo mendengar permintaan Bram yang tanpa permisi meloloskan kolornya sehingga hanya bersisa portal terakhir rumah otong.
"Mas...?"
Aisyah belum sempat berkata-kata lagi ketika dengan santainya Bram menarik tubuh Aisyah lalu menjetikkan ujung jarinya pada ujung handuk. Dalam sekejap mata handuk itu meluncur ke bawah tanpa sempat di tangkap oleh Aisyah.
"Awww..."
Aisyah benar-benar seperti manekin belum di kenakan busana. Polos dari atas sampai bawah.
Bram terpana sesaat melihat kesempurnaan istrinya itu, di balik baju longgar dan kerudung rapatnya, tersembunyi kecantikan luar biasa yang hanya bisa di lihat oleh Bram sebagai suaminya yang sah.
Bram meraih tangan Aisyah yang dengan reflek menutup area-area sensitifnya. Melepaskannya dengan perlahan, mantan duda yang tahunan puasa itu benat-benar belum puas untuk menikmati buka puasanya.
"Kamu yang terindah yang di berikan Tuhan padaku..." Bram menelan ludahnya, tangan kirinya memutar kram shower, air segera jatuh seperti hujan.
"Kenmarilah." Bram menarik tubuh Aisyah ke bawah shower, memeluknya erat sehingga badan mereka berdua basah bersamaan.
"Astaga Mas, Aisyah sudah mandi. Nanti Aisyah masuk angin kalau basah terus."
"Aku akan menghangatkanmu sepanjang malam ini biar tidak ada angin yang berani menganggu." Sahut Bram dengan jenaka, tangannya yang memang ahli itu berkeliaran mengusap sana sini, membuat Aisyah menggelinjang geli.
Dan di bawah shower, Bram menc*mbui istrinya itu, mengajari trik-trik bercint@ yang memabukkan, yang baru di ketahui oleh Aisyah.
Des@h dan lenguh berpadu, melawan gemericik air yang seperti hujan. Bram merasa di atas angin ketika melihat mata Aisyah yang merem melek tak jelas.
"Mas..."
"Hmm..."
"Mas....shhhh..." Aisyah seperti cacing kepanasan ketika puncak dadanya menjadi tempat lidah Bram yang membara bereksplorasi dengan nakal sementara tangannya entah menyusuri bagian mana, sat set dengan piawai.
"Mas, Aisyah...Aisyah mau..."
"Mau apa?"
"Aisyah mau pingsan." Aisyah asal menjawab. ujung-ujung jarinya menekan punggung Bram.
"Makanya, jangan main-main sama duda." Bram berseloroh dalam hati dengan rasa puas telah mempermain Aisyah yang sok menyiksa dirinya.
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......menjelang tamat nih🤗...
...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis...