CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 12 BAGAIMANA BISA?


__ADS_3

KISAH ATIFA (ibu Kandung Aisyah)


10 TAHUN YANG LALU


Suara raungan tangis Atifa yang sedang mengandung besar, membuat Aisyah kecil yang baru berusia sebelas tahun itu terjaga dari tidurnya, di subuh buta.


Seingat Aisyah, Ibunya itu menangis sejadi-jadinya di pagi itu, tubuhnya bergoncang seolah di landa gempa.


Ayahnya baru saja pulang kemarin dari tempatnya bekerja. Dia merantau ke Kalimantan dan bekerja di sana sebagai seorang pekerja di perusahaan batu bara.


Aisyah bangun dan melihat, sang ibu menangis histeris.


"Kenapa? Kenapa kamu menikahi perempuan lain? Kenapa kamu melakukannya padaku...?" Atifa benar-benar meraung di hadapan Faras, sang suami.


"Dik, maafkan aku...tapi di sana dia mengurusku dengan baik." Faras tertunduk, dan Aisyah melihat wajah ayahnya itu tertunduk di depan ibunya yang matanya nyalang dalam kubangan air mata.


"Jika kamu memerlukan orang yang mengurusmu, kenapa harus memilih perempuan lain? Kamu bisa membawa aku ke sana, aku siap mendampingimu kemanapun kamu berada! Bahkan sampai rimba manapun ku ikuti!"


"Maafkan aku, dik."


"Kenapa? kenapa kamu selalu bilang kamu baik-baik di sana, kamu tak perlu aku ikut kamu selama ini?? Kenapa kamu membohongiku?" Atifa menjerit sambil merangsek ke arah ayahnya yang duduk bersila di depannya dan memukul-mukul dada Faras yang diam membeku tak bereaksi, ibunya masih mengenakan mukena putih sementara sang ayah masih duduk di atas sajadah. Sepertinya, ayah dan ibu Aisyah itu baru saja menunaikan sholat subuh.


"Sebenarnya aku memang tidak ingin membuatmu dan Aisyah kesusahan mengikutiku di tempat yang baru dan harus tinggal lingkungan yang baru sementara aku harus bekerja 12 jam sehari di tambang. Jadi, aku benar-benar tidak mengijinkan kamu mengikutiku karena aku takut kamu dan Aisyah akan..."


"Bohooooong! Kamu berbohong, kak! Kamu telah merencanakan semuanya..."


"Dik, aku bersumpah aku tidak merencanakannya."


"Tetapi kenapa kamu menikahi perempuan itu?"


"Dia...dia merawatku saat aku sakit selama aku terkena malaria di sana, dia yang mengurusku..."


"Aku tidak menerima alasan jika kamu menikahinya karena dia merawatmu saja! Pasien tidak harus menikahi perawatnya, itu bukan alasan! Jangan mengada-ngada!"

__ADS_1


"Dik..."


"Kenapa? Kenapa kakak mengkhianati pernikahan kita?" Tanya Atifa, tubuhnya menegang dengan wajah basah kuyup oleh air mata.


Faras diam, dia tak tahu bagaimana cara menenangkan Atifa.


"Kak Faras, lihat aku...jawab aku..." Atifa menggoncang tubuh suaminya itu, tubuhnya melemas bahkan dia sudah tak punya kekuatan untuk memukul dada suaminya itu lagi.


"Dia..." Wajah Faras terangkat.


"Apa? kenapa? Kamu sudah lupa bahwa kamu telah berjanji setia padaku, bahwa kamu telah bersumpah di depan kakakku bahwa kamu akan membuatku tersenyum seumur hidupmu? Apa kamu lupa?"


"Aku tidak lupa..."


"Lalu kenapa kak Faras melakukan ini padaku?" Suara Atifa begitu tajam, bibirnya yang memucat itu gemetar ketika dia melontarkan pertanyaan itu.


"Aku...aku mencintainya." Faras menundukkan wajahnya dalam-dalam.


Atifa terkesima, matanya yang banjir air mata itu nanar tak berkedip. Jawaban itu menghancurkan hatinya sebagai perempuan dan sebagai seorang istri.


"Bagaimana bisa, kamu tak ingat kita telah melewati segala sesuatu dari nol bersama, bahkan aku tak mengeluh jikapun hanya memakan nasi dari piring yang sama demi bisa melewati kelaparan bersama?" Air mata Atifa luruh kembali, tumpah tak tertahan.


"Maafkan aku, dik...karena itulah aku memberitahukanmu kali ini, aku tak bisa membohongimu lagi. Aku merasa berdosa padamu..."


"Berdosa? Apakah kak Faras tak merasa berdosa saat meniduri perempuan lain di saat aku bergelut dengan perut besar di sini? Apakah kak Faras tahu, bagaimana perasaanku saat ini? Aku hancur, kak...aku yang rela tidur dengan gelisah tanpamu, setia menunggu dengan anakku setiap tiga bulan untuk berkumpul 10 hari bersamamu?"


"Dik..."


"Kak Faras, apakah kamu tak lagi mencintaiku?" Atifa menyeka air matanya, mukenannya itu telah basah kuyup oleh air matanya.


"Aku mencintaimu, dik. Aku masih sangat mencintaimu."


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kamu mencintai orang yang berbeda pada waktu yang sama? Bagaimana bisa kamu membagi hatimu begitu banyak, sehingga aku hanya mendapat sepotong saja dari seharusnya utuh itu?" Atifa mengerjap matanya, menatap Faras dalam raut sedih yang tak bisa di ungkapkan.

__ADS_1


"Katakan, kak...kenapa aku harus bisa menerima perempuan lain untuk jadi maduku? Katakan padaku, apa alasan yang melebihi kata cintamu padanya sehingga aku harus rela hidup dalam neraka seumur hidupku? Apa yang membuatmu pantas membiarkanku saat terbangun harus dengan sakit karena memikirkan kamu memeluk perempuan lain di tempat berbeda?"


"Dik..."


"Katakan..."


"Ani...Ani...telah hamil anakku." Suara Faras terdengar pelan tetapi seperti petir di telinga Atifa. Tak pernah Aisyah melihat wajah ibunya sepucat itu, meski dia hanya melihat pertengkaran orangtuanya dari balik gorden pintu kamar.


"Ha...hamil?" Atifa terkulai di tempatnya duduk, kakinya yang bersimpuh di depan suaminya itu seolah tak sanggup menahan beban tubuhnya sendiri.


"Maafkan aku, dik...maafkan aku." Faras menangkap tubuh Atifa tetapi Atifa menepisnya meski jemarinya bergetar hebat.


"Perempuan itu bernama Ani? apakah itu nama perempuan yang mencuri suamiku?...dia hamil anak kak Faras...?"


Tanyanya seolah meyakinkan dirinya di sela air matanya yang mengalir deras.


Faras tak menjawab, tetapi tatapannya lurus pada Atifa, dia tak lagi sanggup menjawab pertanyaan istrinya itu, karena setiap dia menjawabnya seolah dia sedang memberi sayatan pada hati istrinya itu.


"Kak Faras, kenapa kak Faras melakukannya?" Pertanyaan yang sama yang tak berubah dari awal itu seperti pertanyaan bodoh tetapi hanya itu yang bisa di lontarkan oleh bibir Atifa, perempuan yang merasa di kalahkan dalam percintaan dan istri yang merasa hancur karena di duakan.


"Kak Faras, aku juga sedang mengandung anakmu. Anak kita...anakmu yang sah..." Atifa menangis sambil memegang perutnya yang membuncit. Dalam satu bulan ke depan, Atifa akan melahirkan seorang bayi, adik yang sangat di tunggu-tunggu Aisyah.


"Kak Faras, aku tak bisa menerima pernikahanmu dengan perempuan lain, aku tak mau berbohong dan mengatakan aku baik-baik saja saat tahu kamu menikahi perempuan lain.


Aku tak bisa berpura-pura ikhlas dan bahagia, ilmuku belum sampai di sana kak Faras... Pilihlah aku atau dia..."


(Ayok di vote mumpung hari ini senin biar othor tambah semangat UP, Akak double UP lho hari ini, lanjutannya siang iniπŸ™πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜Š)



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othorπŸ€— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulisπŸ˜‚πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2