CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 79. MENJADI ATIFA SEBENTAR SAJA


__ADS_3

(Flasback Atifa dalam kesadaran pertamanya saat kedatangan Faraz di Bab 73)


Author akan membawa readers menjadi Atifa, melihat apa yang ada di kepalanya saat bertemu Faraz😅😅


Dengan perlahan, Atifa berputar di bantu oleh Aisyah. Matanya tertumbuk pada sesosok tubuh ringkih dan terlihat lelah sekaligus shock dalam waktu bersamaan.


Mata Atifa membesar, berusaha mengenalinya, entah mengapa otaknya tiba-tiba seoerti sebuah rollercoaster mempermainkan separuh dari memorrynya, maju mundur tak karuan.


Dan, dia terhempas pada satu titik kesadaran, seperti seseorang yang baru mencapai satu tempat dan ketika dalam antusiasme menapak, dia bertemu yang ingin di lihatnya tetapi hatinya terasa hampa.


"Kak Faraz..." Atifa mengingat mata teduh itu, mengenalinya dengan jelas. Tapi bibirnya tak bisa berkata apapun kecuali menatapnya tak berkedip.


Faraz masih berdiri di depan pintu bersama seorang laki-laki asing, tubuh Faraz yang terlihat menua itu terlihat gemetar saat beradu pandang dengan Atifa. Dia sungguh berbeda dengan yang terakhir kali Atifa liah, nyaris seperti kayu rapuh.


Gelegak rindu, sakit hati, benci dan dendam menyatu, berlomba menghantam perasaannya yang entah mengapa seolah kebas.


"Dik...?" Panggilan itu seperti petir yang menyapa telinga Atifa. Sayup-sayup dari masalalu, datang seperti suara hantu.


"Ada apa denganmu, dik?" Suara itu terdengar dalam nada sengau keluar dari mulut Faraz, antara tangis dan rasa takut.


Atifa menatap Faraz begitu lama, hampir tak berkedip, bibirnya terkatup rapat, lidahnya begitu kelu. Ingin menangis dan ingin berteriak dalam waktu yang sama.


"Ibu? Apakah kamu ingat padanya?" Pertanyaan Aisyah yang sedang memeluk leher terasa membuatnya sulit bernafas, air mata jatuh tiba-tiba tanpa bisa di tahannya, matanya seolah mati rasa.


Atifa tak menjawab, matanya tertumbuk lurus pada Faraz, mata terasa perih saat berkedip. Orang yang di depannya adalah cinta pertama yang di tunggunya, yang membuatnya enggan beranjak dari tempat yang sama, bahkan rela mengurung waktu untuk tetap tinggal di masa lalu karena dia tak ingin menerima kenyataan Faraz telah mengkhianatinya.


"Dia...dia ayah, yang selalu ibu tunggu siang dan malam." Bisik Aisyah parau di telinganya.


"I...Isah? I...Ibumu?" Faraz terlihat mendekat, dengan langkah pendek dan satu-satu. Atifa hendak berdiri menyongsongnya dan memeluknya seerat mungkin, seperti saat Faraz kembali dari tempat kerjanya di kalimantan dengan satu kardus oleh-oleh dan mainan baru untuk Aisyah.


"Ayah..." Aisyah membelai kepala Atifa dengan lembut, tangan anaknya itu tetap sama, selembut masa kanak-kanaknya. Kemudian dia sedikit terjaga, ini Aisyah dalam versi dewasa, dia sangat mirip dengan dirinya.

__ADS_1


"Kemana saja aku saat dia beranjak jadi gadis dewasa dalam metamorfosanya dari masa kanak-kanaknya yang lucu? kemana saja?" Pertanyaan itu seolah berdenging di kepalanya, membuatnya pusing sesaat.


"Ibu kehilangan ingatannya setelah ayah meninggalkan ibu." Lanjutan kalimat Aisyah segera meyakinkan ingatan Atifa, saat anak gadisnya yang cantik itu mengatakan itu kepada Faraz dengan nada yang di buat setabah mungkin.


"Ibu hanya tahu menunggu ayah, dia menjadi lupa pada dirinya sendiri. Bahkan kami...kami telah kehilangan Faiq."


"Fa..Faiq?"


"Faiq adalah anak yang ayah tinggalkan tanpa sempat ayah lihat wajahnya karena masih berada di dalam kandungan. Dia adikku, anak istimewa yang tampan. Dia telah berjalan lebih dulu menuju surga."


Setelah kalimat yang di ucapkan Aisyah itu, seketika kepala Atifa serasa berputar-putar. Dia berusaha untuk mengenali apa yang dia dengar untuk mengumpulkan sedikit ingatannya tetapi rasa sakit, rasa sedih yang aneh menghajar perasaannya. Atifa memejamkan matanya, meremas tangannya sendiri, dia tak mendengar apapun, suara-suara terasa tumpang tidih di kepalanya. Dia berusaha keras untuk tidak berteriak dan menanangis seperti yang biasa dilakukannya ketika perasaan ini datang.


"Faiq? siapa itu Faiq? kenapa begitu asing tetapi terasa aku pernah mempunyai kenangan dengannya? Faiq? kenapa aku rindu memanggil nama itu?" Atifa tak berkedip menatap lurus ke depan dengan tegang.


"Brukk!"


Faraz tersungkur, membuat Atifa tersadar, tepat di depan kaki Atifa yang sedang duduk dengan tegang beroerang dengan ingatan dan perasaannya sendiri.


Atifa tercengang, dia ingat benar ini adalah kak Faraznya tersayang yang dia puja dengan seluruh jiwa raganya. Suaminya yang lembut dan sangat perhatian padanya. Suami yang menurutnya adalah semestanya.


Dia sekarang menangis dengan keras, tangisan yang meskipun terdengar menyedihkan tetapi tak cukup untuk menghangatkan hati Atifa yang membeku.


Sejurus ingatan Atifa pada sebuah selembar surat Faraz di masa lalu, yang ditemukannya di subuh buta, di tempat di mana suaminya berbaring sebelum mereka tidur.


Dik Atifa...


Maafkan aku,


Aku tak bisa meninggalkan Ani, jika kamu memintaku memilih meninggalkannya.


Aku mencintainya, seperti dulu aku mencintaimu.

__ADS_1


Berat melepas semuanya, tapi aku tahu kamu akan baik-baik saja dengan Aisyah tanpa aku.


Kamu boleh membenciku karena pilihanku ini, tapi aku telah memikirnya sepanjang malam dan aku tak bisa membiarkan Ani menungguku sendiri.


Tak ada kurangnya dirimu sebagai istri, tapi aku yang tak sempurna menjadi suami.


Aku akan pergi, dan mungkin tak pernah kembali, ceritakan pada Aisyah dan anak kita yang akan kau lahirkan, bahwa ayah mereka telah mati, tenggelam dalam rawa-rawa di Kalimantan atau hanyut di bawa arus sungai Barito. Aku tak bisa lagi kembali ketika jalanku sudah terlalu jauh,


Dik Atifa ku talak dirimu dan ku bebaskan kamu dari semua kewajibanmu sebagai istri bagiku.


Menikahlah dengan orang yang baik, aku akan ridho dunia akherat.


Dariku,


Faras


Betapa hapal dirinya dengan isi surat itu, kalimat perkalimat, kata per kata, membekas dalam benaknya, karena surat itu pernah seratus kali di bacanya dulu saat menangisi kepergian Faraz.


Di tatapnya wajah yang kini menua, banyak waktu telah merampas masanya dan Atifa dalam keyakinannya mempercayai Faraz kembali.


Tetapi, saat dia kembali...Atifa telah mati rasa, bahkan kini Faraz serupa sosok asing yang tak dikenalnya, rindunya menguap begitu saja seperti embun di terik pagi.


***



(Yeay...double UP yaaaaa🤗🤗🤗 semoga kita bisa melihat fikiran orang yang terganggu mentalnya lewat sudut yang berbeda. Mereka sebenarnya hanya terkurung dalam imajinasinya sendiri, melawan kenyataan dengan cara berbeda. Mereka hanya menuruti apa yang ada di kepalanya, bukan selalu apa yang dilihatnya. Tuhan memberi kita kebijakan dan akal budi untuk bisa menyelaraskannya, hanya kadang kala kita tak mau menggunakannya)


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis...

__ADS_1


__ADS_2