CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
XP-Berondong Jatuh Cinta-1


__ADS_3

*CITA-CITA ADKA*


"Mbaaaak..." Adka tiba-tiba muncul di teras rumah Mbak Retno.


"Eh, kaget!" Mbak Retno terlonjak kaget, dia sedang menghitung piring setelah di cuci bekas cateringan kecil-kecilan di acara sunatan anak tetangga, karena mau di simpan di lemari.


"Akh, mbak. Begitu aja kaget." Adka cengengesan.


"Mau apa lagi? ganggu orang saja." Mbak Retno ngedumel panjang pendek.


"Ish, embak. Gak boleh galak begitu, cepet tua entar." Goda Adka.


"Hush, jangan bawa-bawa umur, ya?! Kamu liat ndak, mbak lagi ngapain? Mbak lagi sibuk ngitungin piring. Tuh, kan jadi lupa lagi...sampe berapa tadi? enam puluh satu apa enam puluh tiga?" Mbak Retno manyun.


"Dari pada ngitungin piring lebih baik bantuin Adka, mbak. Dapet berkah, lho bantuin anak yatim."


"Oalah...anak ini. Sekarang bawa-bawa status kehidupan lagi. Kamu kira, janda modelan mbak gak butuh bantuan napa?" Mbak Retno mengangkat dagunya, mimiknya kesal.


Tadi pagi, pas nyapu halaman anak ini sudah nongkrong di depan rumahnya, dengan sarung dan peci, beralasan habis sholat subuh di mesjid depan, numpang lewat tapi minta di bikinkan kopi.


Siang-siang datang cuma nanya obat sakit perut untuk ayahnya namanya apa. Sore ini sudah muncul dengan raut tak berdosa menganggunya entah dengan alasan apa lagi.


Adka sejak berhenti bekerja di toko buku, sudah seperti minum obat menyambangi rumahnya, sehari tiga kali.


Semenjak Aisyah sudah pindah ikut suaminya, rumah abah yang di tinggali Aisyah kini ditempati oleh pak Faraz, Adka dan adiknya.


Pak Faraz sendiri sekarang menjadi seorang Marbot, menggantikan abah. Otomatis Adka adalah tetangga Mbak Retno yang rumahnya hanya seratus meter jaraknya dari rumah Abah.


"Mbak, Adka beneran minta tolong..."


"Minta tolong apa lagi? minta di bikinin kopi lagi? gula di rumahku habis."


"Bukan." Adka cengengesan.


"Nemenin kamu ke rumah kakakmu lagi? Mau ngomong sama mas Bram lagi?"


"Bukan, mbak "


"Lalu apa? Cepetan ngomong, piring ini keburu bekarat di sini ndak di simpen-simpen."


"Ini..." Adka mengeluarkan buku yang berlipat tak jelas dari balik punggung bajunya.


"Apa itu?"

__ADS_1


"Ajarin aku matematika..."


"What?" Langsung keluar spil bahasa nenek moyang mbak Retno mendengar kata matematika.


"Seminggu lagi aku ujian paket C mbak, aku gak ngerti ini tentang materi peluang."


"Peluang?" Mbak Retno melotot, dulu waktu sma dia malah memilih tidur atau menghitung jumlah cicak di atas plafon sekolah dari pada belajar matematika.


"Memang ada ada materi pembahasan peluang di pelajaran matematika?"


" ini lho mbak, peluang itu katanya secara teoritis artinya perbandingan antara banyaknya suatu kejadian dengan banyaknya seluruh kemungkinan yang terjadi." Adka mrnjelaskan dengan serius sambul menunjuk ke halaman bukunya yang ditulisnya asal-asalan.


Seketika raut wajah Mbak Retno berubah, seakan berusaha memahami penjelasan Adka.


"Terus di bikinin soal begini, mbak. Empat bola diambil secara acak dari sebuah box yang berisi 15 buah bola. Karena salah penempatan, 3 bola kempis dan tidak bisa digunakan. Peluang terambilnya empat bola yang tidak kempis berapa? Mbak Adka bisa bantu jawab, gak?"


"Oalaaah, itu soal apa curhat, sih? Embak kok langsung migren mendengarnya." Mbak Retno langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Ini soal materi peluang, mbak." Sahut Adka dengan mimik polos.


"Aku ora ngerti, sayang! Sumpah, ndak mudeng aku. Mungkin dulu pas guruku ngajarin materi ini aku lagi ijin sakit muntaber kali, ya? Yang ku ingat tentang peluang cuma bagaimana peluang mendapatkan nilai bagus dengan nyontek teman sebelah." Mbak Retno berucap sambil tertawa.


"Lah, kan' embak sudah pernah duduk di bangku SMA? masa gak tau?"


"Ya, mbak Retno...Ku kira mbak jago matematika, kemaren pas ngitungin duit cateringan selisih gopek aja mbak Retno langsung ngeh." Adka menatap mbak Retno dengan mimik kecewa.


"Padahal kalau lulus paket C terus dapet ijazah, rencananya mau kuliah atau kursus sambil nyambi kerja. Biar bisa pinter." Seloroh Adka, dia membuka-buka lembaran buku di tangannya, begitu pasrah.


"Eh, itu bagus lho, mbak dukung cita-citamu."


"Itu bukan cita-cita utamaku, mbak...!" Potong Adka tiba-tiba.


"Memangnya cita-citamu apa?"


"Nikahin mbak Retno!"


"Glegh!" Mbak Retno hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban Adka.


"Woy, anak kemaren sore kamu kira nikah kayak main gaplek?" Mbak Retno melotot dengan salah tingkah.


"Eh, tapi..."


"Tapi apanya??? Kakakmu itu juniorku, lah kamu apa? Mana ada anak kemarin sore nikahin tante-tante!" Mbak Retno yang salah tingkah berlagak ngamuk.

__ADS_1


"Anak kemarin siang, mbak...bukan kemarin sore." Adka menyela dengan masam mesem.


"Apa bedanya kemarin siang sama sore?"


"Paling gak kemarin siang lebih tuaan dari kemarin sore."


"Hedeeeh." Mbak Retno kembali kepada piring-piringnya dia cuma gekeng-geleng kepala, Adka memang selalu ada-ada saja.


"Pulang sana." Usir Mbak Retno kemudian lalu pura-pura cuek.


"Gak! Ajarin Adka matematika dulu."


"Astagafirullah, sumpah Adka...aku bodoh urusan hitung menghitung, urusan ngitungin piring aja sampe bolak balik lho dari tadi ndak kelar-kelar. Piye iki...? anak ini kok ngeyel."


Adka nyengir kuda lalu duduk bersila menghadap mbak Retno.


"Soal yang keduanya begini mbak...tas Budi berisi kelereng, ada 12 kelereng yang terdiri dari 5 kelereng biru, 3 kelereng merah, dan 4 kelereng kuning. Dari tas tersebut Budi akan mengambil satu kelereng. Berapa peluang terambilnya kelereng berwarna merah?" Adka terus mendikte soal matematika padanya, tanpa perduli mata mbak Retno juga sebesar kelereng menatapnya seperti Rahwana lagi murka.


"Jawabnya gimana mbak?" Adka mengangkat wajahnya pada Mbak Retno, penuh tanya.


"Sekarep Budi lah mau kelereng merah, kuning, ijo, abu-abu. Ora perduli aku." Mbak Retno menjawab dengan muka pasrah.


Adka bersiap akan protes pada mbak Retno, bersamaan dengan datangnya adiknya yang lari ngos-ngosan dari arah rumah.


"Kak...kakak..." Ucapnya tergagap.


"Ada apa, Aqsa?" Tanya Adka kebingungan melihat adiknya yang seperti barusan di uber setan.


"Ada...ada olang cali kakak..." Aqsa menjawab terbata-bata, dia memang belum terlalu jelas berbicara karena keterlambatan perkembangannya sejak lahir.


"Siapa?"


"Olang pake obil melah..."



ADKA



mbak Retno


TO BE CONTINUED TO NEXT PART🤗

__ADS_1


__ADS_2