CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 74. JADILAH PASANGAN HIDUPKU


__ADS_3

Bram memegang tangan Aisyah keluar dari mobil.


"Aku bisa turun sendiri, mas..." Ucap Aisyah dengan malu-malu.


"Astagah, apakah aku tidak boleh perhatian pada calon istriku?"Goda Bram.


"Tapi kita belum menikah." Aisyah mengangkat plastik belanjaan mereka, Bram dan Aisyah membeli nakanan dari restoran terdekat. Bram memberi ide, mereka makan malam di rumah ayah Aisyah.


"Sini, aku yang bawakan." Bram mengambil belanjaan mereka dari tangan Aisyah.


"Aku bisa bawakan sendiri."


"Aisyah, mulai hari ini kamu harus terbiasa ada aku yang akan berbagi beban denganmu. Suka atau tidak suka." Bram cemberut, sungguh kemandirian Aisyah membuatnya susah menunjukkan sisi keromantisannya.


"Tapi..."


"Stttt..." Bram meletakkan telunjuknya di bibir Aisyah.


"Aku tidak menerima komplain." Bram berjalan mendahului Aisyah sambil menggandeng Tito karena Aisyah menolak di gandeng oleh Bram.


"Punya yayang tidak berpengalaman ternyata bikin dikit gondok juga...apa-apa tidak mau, apa-apa tidak boleh. Tunggu saja kalau sudah sah..." Gerutu Bram dalam hati, tidak benar-benar kesal hanya gemas saja.


Ya hari ini mereka akan mengunjungi rumah susun di mana ayah Aisyah tinggal bersama adka dan Aqsa.


Aisyah sudah bisa menerima sang ayah untuk tinggal dengannya dan Tito dengan begitu dia bisa merawat ayahnya, tetapi ayahnya menolak, dia tahu diri dan tak ingin menjadi beban Aisyah.


Jika dulu dia hanya memulung barang rongsokan bersama Adka, sekarang dengan bantuan Bram, Adka bisa bekerja di sebuah toko buku tempat kenalan Bram sambil menunggu ujian paket C nya. Adka putus sekolah setelah tamat SMP. sementara Aqsa sama sekali tak bersekolah karena keterbatasannya.


Ayahnya sendiri menjadi tukang perbaiki perabotan rumah tangga yang rusak di rumah susun yang mereka tinggali, dengan demikian dia tidak perlu bersusah payah berkeliaran di jalanan lagi.


Untuk kesehatan ibunya, Aisyah cukup berbesar hati untuk kembali sembuh dalam sekejap memang tak mudah setelah ibunya kehilangan kewarasannya selama sepuluh tahun.


Kehadiran ayahnya bukan lagi obat yang mampu menyembuhkannya, kecuali ada keajaiban. Dan keajaiban itu sedang tak berpihak pada mereka.


Aisyah bisa menerimanya dengan lapang, Allah belum berkehendak.


"Kenapa kita harus ke rumah ayah sekarang?" Tanya Aisyah, dia masih malu-malu setelah mengenakan pakaian dan kerudung baru yang di berikan Bram dengan dalih hari ini dia sedang berulang tahun, dia ingin keluar dengan Aisyah dan Tito, makan bersama di luar sekaligus menjenguk ayah Aisyah.


"Apa salah?"


"Kemarin aku baru dari sini."

__ADS_1


"Tapi aku belum, aku mau bertemu ayahmu sekedar pedekate dengan calon mertua, tidak keberatan kan?"


"Akh, mas Bram..." Aisyah tersipu malu.


Sebulan setelah pertemuan Ibu dan ayahnya, Faraz benar-benar terpukul, dia larut dalam penyesalan sementara Ibu Aisyah tampak lebih tenang hanya saja dia banyak diam. Dia sering mengurung dirinya sehingga akhirnya Bram memutuskan meletakkan cctv di ruangan ibu Aisyah.


Dan yang membuat Aisyah merinding, ibunya setiap subuh akan bangun dan sholat serta berdzikir.


"Itu sungguh tak biasa..." Kata petugas di panti, melihat bagaimana perubahan Atifa. Meski dia tak lagi mengamuk dan semakin sulit di ajak bicara. Tapi untuk orang dengan kesehatan mental sungguh aneh jika dia bisa melakukan ibadah. Tapi itulah yang terlihat, tidak ada yang tahu kenapa perubahan itu bisa terjadi.


Aisyah kadang seharian berada di sana untuk mengurus ibunya.


Aisyah bahkan berencana untuk merawat sendiri ibunya itu, dan Bram mengatakan dia ingin segera menikahi Aisyah dengan begitu dia bisa membawa ibu mertuanya itu ke rumah yang baru dan lebih layak.


"Assalamualaikum..." Aisyah menyalami ayahnya saat pintu itu terbuka. Lelaki itu tak bisa menyembunyikan kemurungannya, dia berharap bisa merawat Atifa tapi Atifa tak melihat padanya bahkan tak ingin di sentuh oleh Faraz.


Mereka makan bersama di rumah kecil sederhana itu, Adka belum pulang bekerja, dia anak yang rajin meskipun sedikit kasar. Kehidupan yang keras di pinggiran bantaran Sungai Jagir menempanya menjadi lebih berani untuk melindungi ayah dan adiknya.


"Terimakasih, sudah mengunjungi kami." Ayah Aisyah sudah cukup akrab dengan Bram, bahkan dia telah bertemu Bram lebih dulu sebelum bertemu Aisyah.


"Pak Faraz sehat-sehat saja?" Tanya Bram, sambil mengambil tempat duduk bersila di lantai di samping Faraz. Ruang tamu itu hanya beralaskan sebuah karpet, di batasi sebuah triplek dengan ruangan lain yang tak seberapa luas.


"Bagaimana keadaan ibumu, Isah?" Tanya Faraz pada Aisyah yang baru kembali dari belakang setelah mencuci piring.


"Ibu semakin baik, mudah-mudahan dalam waktu dekat aku bisa membawanya pulang. Aku akan merawat ibu sendiri." Jawab Aisyah, doa sudah berhenti bekerja paruh waktu di kedai makan. Hanya setiap hari-hari tertentu masih mengajar anak-anak mengaji.


Bram meminta Aisyah untuk istirahat saja dulu, kalau memang Aisyah hanya ingin bekerja, dia siap menyerahkan toko bakerynya ke tangan Aisyah untuk mengurusnya.


"Pak Faraz..."Tiba-tiba Bram berbicara dengan serius saat Aisyah duduk di samping ayahnya, meletakkan baki berisi dua cangkir teh.


"Ya..."


"Apakah saya boleh memanggil pak Faraz dengan panggilan ayah?"


"Hah..." Aisyah dam Faraz sama-sama melongo, mendengar pertanyaan Bram yang tiba-tiba dan aneh itu.


"Apa maksud nak Bram?"


"Aku ingin melamar Aisyah secara langsung kepada bapak untuk menjadi istriku..." Bram berucap setengah menahan nafas. Mata Aisyah melotot nyaris tak berkedip.


"Apakah pak Faraz mengijinkannya?"

__ADS_1


Faraz masih terpana, dia menatap Aisyah dan Bram bergantian.


"Aku...aku...kurasa...Aisyah sendiri yang bisa menjawabnya." Faraz bingung sendiri, karena Bram melanar Aisyah bahkan tanpa memberi kode lebih dulu.


"Aisyah, di depan ayahmu aku melamarmu, apakah kamu mau menjadi pasangan hidupku?" Bram beralih memandang kepada Aisyah, dengan dada membusung seolah dia adalah seorang ksatria yang siap berperang, menunggu jawaban Aisyah.


"Mas Bram? Mas Bram tidak bilang...kalau..." Aisyah menunduk dengan wajah merah, dia salah tingkah sendiri, di tembak mendadak seperti itu di depan ayahnya.


"Apakah kamu bersedia?" Tanya Bram, sedikit tak sabar, dia menjadi gugup melihat tingkah Aisyah.


Aisyah malah menundukkan kepalanya makin dalam sambil tersipu.


"Ayah, tolong bilang kepadanya, aku mencintainya. Aku sangat ingin menikahinya." Bram memegang tangan Faraz seperti anak kecil yang sedang memohon, Faraz yang di hadapkan pada situasi mendadak itu hanya melotot pada dua orang yang dari pertama berjumpa dengannya iru terlihat begitu dekat.


"Isah...aku tidak tahu dengan hubungan kalian sejauh mana, tetapi...tetapi...bisakah kamu menjawabnya? Ayah hanya merestui saja jika memang..."


"Ya, ayah." Aisyah menyela sambil mengangkat wajahnya yang merah merona.


"Ya? Maksudnya?" Bram duduk dengan tegak, si duda cukup berumur ini terlihat tegang layak seorang remaja yang gugup menunggu jawaban pacarnya.


"Ya, mas Bram...aku bersedia menjadi istrimu."


"Yess!!!"


Pak Faraz hampir terjatuh ke belakang di tubruk oleh Bram, tanpa sadar dia memeluk calon mertuanya karena saking bahagianya.


"Uhuk..ahak..." Faraz yang ceking itu hampir kehabisan nafas karena terkejut.


"Astaga, mas...!" Aisyah melotot pada Bram.


"Oh, maaf...maaf...astagafirullah tolong maafkan saya." Bram membantu Faraz duduk kembali setelah sadar dengan kelakuannya.


"Semoga aku tidak kuwalat atau di kutuk mertua gara-gara ini."


(Double UP dong kita sesuai janji🤗 Babak baru dalam kusah Bram, akan sedikit bertemu Bawang lagi, readers akan sering tertawa bersama si duda ini setelah ini😆 Yukkk...yang belum Vote, monggo di Vote🥰🤣🤣)



Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis😂...

__ADS_1


__ADS_2