CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 13 DI BALIK AIR MATA


__ADS_3

"Kak Faras, aku tak bisa menerima pernikahanmu dengan perempuan lain, aku tak mau berbohong dan mengatakan aku baik-baik saja saat tahu kamu menikahi perempuan lain.


Aku tak bisa berpura-pura ikhlas dan bahagia, ilmuku belum sampai di sana kak Faras... Pilihlah aku atau dia..."


"Dik, kenapa kamu memberiku pilihan yang begitu berat, aku mencintaimu...dan...dan mencintainya juga." Faras menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Dia hampir menangis.


"Kak Faras, suamiku...." Suara Atifa pilu.


"Aku hanya manusia biasa, aku hanya perempuan rendah yang dipenuhi cemburu. Hatiku tak sebesar perempuan lain yang bisa menerima dirinya menjadi pilihan meskipun aku mungkin yang pertama di antara dua. Aku tak bisa bersikap munafik, kak...jika aku berdosa karena rasa ini, aku benar-benar tak bisa keluar dari dosa ini. Aku sungguh tak bisa." Atifa menangis sejadi-jadinya dalam keadaan bersimpuh di depan sang suami, tubuhnya tertunduk melengkung hampir menyentuh pahanya, kakinya di tekuk sedemikian rupa dalam ketidak berdayaan. Badannya bergoncang dahsyat seakan menceritakan begitu besar kesedihan yang kini di tanggungnya.


Bagaimana tidak, kemarin sore mereka masih bercengkerama bahagia, bahkan Atifa telah memasak begitu banyak untuk menyambut kepulangan Faras setelah berbulan-bulan tak bertemu dan pagi ini, usai menunaikan sholat subuh bersama, sesaat setelah dia mencium punggung tangan suaminya itu dengan takzim seperti biasa dan dahinya baru saja menerima kecupan hangat nan mesra dari sang suami, tiba-tiba Faras berkata ingin berbicara dengannya.


Dan, seperti di pecut tepat di jantung, ketika suaminya itu mengatakan, dia telah menikah dengan seorang perempuan hampir 6 bulan terakhir, bahkan saat kepulangannya tiga bulan yang lalu, Faras telah dalam status menikah siri dengan seorang perempuan, bidan dengan satu puteri di kota kecil tempatnya bekerja itu.


Dan Faras menyembunyikan pernikahannya itu hingga kedatangannya kali ini dia memilih berterus terang pada Atifa.


"Kau jahat, kak...kau jahat..." Isakan Atifa memecah sunyinya pagi itu, pagi yang paling dingin pernah di rasakannya.


Aisyah kecil tak pernah melihat ibunya begitu sedih, sesedih hari itu.


...***...


Kehidupan keluarga kecil Aisyah sebelumnya baik-baik saja meskipun sederhana sebelum seorang teman ayahnya mengajak dia bekerja tiga tahun yang lalu ke sana karena dia punya posisi yang cukup penting di perusahaan tambang itu.

__ADS_1


Selama satu tahun pertama, Aisyah dan sang ibu merasakan kehidupan mereka benar-benar membaik, karena gajih sang ayah cukup besar. Setiap tiga bulan sekali ayahnya pulang karena ada masa off dua minggu, yang memberikan jatah karyawan libur atau dinamakan stretching dari perusahaan.


Dalam dua tahun itu mereka bisa membeli sebuah rumah KPR BTN meskipun tak besar tetapi jauh lebih bagus dari rumah mereka sebelumnya yang hanya mengontrak , bahkan tetangga-tetangga mereka merasa iri dengan peningkatan hidup mereka.


Dari rumah kontrakan sederhana, hanya dengan satu kamar tidur kecil tempat mereka tidur dengan berdesakan bahkan saking kecilnya hanya muat sebuah ranjang dan lemari pakaian kayu yang tak seberapa besar. Antara kamar mereka dengan ruang tamu hanya di batasi dengan dinding triplek, bahkan dapurnya pun hanya cukup untuk tempat memasak. Tanpa meja makan, mereka biasanya duduk di lantai dengan cor kasar dengan menggelar tikar untuk makan bersama.


Rumah mereka itu sebenarnya terlalu sempit, tetapi Aisyah merasa bahagia dalam kesederhanaan itu. Ayahnya yang waktu itu hanya seorang tukang las yang bekerja di bengkel, mencukupi hidup mereka dengan baik meskipun hanya pas-pasan. Ibunya membantu dengan menjadi buruh cuci di rumah laundry milik ibu pemilik kontrakan.


Hidup mereka berkecukupan, yang pasti mereka tak pernah kelaparan dan Aisyah selalu bisa mendapatkan uang jajan setiap hari sekedar untuk minum es doger dalam plastik dan beberapa biji cilok saat jam istirahat di sekolah.


Faras dan Atifa, dua orang yang menikah karena cinta. Mereka telah berpacaran sejak di SMA. Selepas SMA, Atifa tidak melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi. Dia dan Syarif kakaknya sudah yatim piatu sejak usia remaja. Ayah dan ibu mereka telah meninggal dalam sebuah kecelakaan.


Syarif yang usianya berbeda hampir sepuluh tahun dari Atifa adiknya, mengurus sang adik dengan baik.


Syarif menikahi seorang puteri ustad, pengajar di sebuah pesantren, dimana dia lama menjadi santri di sana.


Dia rela menggendong sang istri setiap pagi dalam perjalanan pulang setelah mereka berdua jogging mengelilingi area pesantren dan istrinya itu kelelahan. Syarif memuja dan memuliakan Asniah sebagai istrinya meskipun perempuan berparas ayu itu sering sakit-sakitan.


Syarif membawa adiknya Atifa tinggal dengannya dan istri, karena dialah satu-satunya saudara kandung dan kerabat Atifa.


Asniah juga sangat menyayangi Atifa, adik iparnya itu seperti adiknya sendiri. Atifa tak pernah kekurangan kasih sayang dari dua orang itu.


Lalu, Syarif menjodohkan adiknya itu dengan salah satu temannya bernama Faras.

__ADS_1


"Faras adalah anak yang baik, meskipun ayahnya hanya seorang pemilik bengkel tambal ban, tapi dia sangat baik. Aku rasa kamu akan menyukainya." Itulah yang di katakan Syarif, dia tahu benar temannya itu menarih hati pada adiknya yang telah duduk di tingkat akhir Madrasah Aliyah Negeri di dekat rumah mereka.


Faras juga kebetulan adalah alumni santri yang sedang belajar di pesantren tempat Syarif bekerja sebagai musyirif (pengasuh santri) di sana. Pesantren tempat mertuanya, ayah dari Asniah mengabdi menjadi guru di pesantren yang sama.


Dan benar saja, saat pertama kali Atifa bertemu Faras dia langsung jatuh cinta.


Faras adalah cinta pertamanya dan di janjikannya dalam hati sebagai cinta terakhirnya. Dia begitu memuja sang suami, menyerahkan hatinya sepenuhnya pada lelaki itu, karena dia adalah lelaki kedua yang begitu menyayangi dan mengayominya setelah kakaknya Syarif.


Atifa telah kehilangan kasih sayang seorang ayah dari kecil, saat bertemu laki-laki seperti Faras dia hampir tak bisa memalingkan mukanya.


Begitu lulus dari Aliyah, akhirnya Faras menyunting Atifa di saat gadis lugu itu berulang tahun ke-17 tahun dan Faras berusia 23 tahun. Mereka menikah dengan sederhana, bahkan kakaknya Syarif menikahkannya sambil membawa Rahimah puterinya yang berusia dua tahun, karena sang istri Asniah lumpuh.


Setelah tiga tahun pernikahan, Aisyah lahir, bertepatan saat Asniah istri kakaknya Syarif menghembuskan nafasnya terakhir dalam sakitnya setelah lumpuh selama lima tahun dalam perawatan Syarif, meninggalkan puterinya Rahimah yang kala itu menginjak usia lima tahun.


Pernikahan Atifa dan Faras begitu sempurna, ketika Aisyah nan cantik itu lahir ke dunia, meski sang kakak sedang berduka kehilangan belahan jiwanya.


Syarif yang bijak hanya percaya, dibalik air matanya, Tuhan menghiburnya dengan kelahiran Aisyah, keponakannya.


( Yeay, akak double UP hari ini🤗🤗Yukkkkk....yg belum Vote mari Vote ya, novel ini akan tambah seru, lho 😊😊😊 Terimakasih buat yang sudah vote dan akan vote....sayang selaluuuuuu buat readers semua, satu bab lagi masih tentang kilas balik ibu Aisyah sebelum di rawat di panti Rehabilitasi, ya🤗 Yang kangen Bram di tahan dulu🤣 )



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2