CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 65. KEHILANGAN KATA


__ADS_3

"Jika mas Bram menginginkannya, aku akan mendengarkannya dan melakukannya." Ucapnya parau, membuat Bram tertegun. Tak pernah ada seseorang yang begitu menurut padanya tanpa mempertanyakan dirinya, kecuali mungkin Diah di masa lalunya.


"Dimana ayahku? aku akan menemuinya sekarang..."


Aisyah meluruskan duduknya dengan rahang membeku. Matanya lurus ke depan seperti siap untuk di bawa oleh Bram kemana saja.


"Di sana." Bram menunjuk ke sebuah permukiman di depan mereka, tidak jauh dari tempat Bram memarkir mobilnya.


"Di sana?" Aisyah menoleh kepada Bram dengan ragu.


Bram mengangguk, matanya tertuju pada bangunan berdempet di pinggir kali Jagir yang airnya terlihat buram dan pinggirannya terlihat kotor itu.


Bangunan-bangunan itu, berdiri seadanya di atas puing-puing seperti bekas gusur. Di dirikan dengan paksa, dari kayu bekas, seng dan terpal. Berderet di antara jemuran yang tampak berkibar-kibar tak beraturan.


"Ayahku di sana?" Aisyah mengulang pertanyaannya, Bram menjalankan mobilnya perlahan menuju sederetan ruko sederhana dan rumah makan kecil mirip kedai-kedai kopi.


"Kita parkir di sini. Mobil tak bisa masuk ke sana." Bram menghentikan mobilnya, lalu mengajak Aisyah yang masih bengong untuk segera turun.


Setelah memberi uang lembaran duapuluh ribuan kepada pemilik kedai makan itu, Bram meninggalkan mobilnya di sana.


Setelah menyeberang jalan, bangunan berdempet itu sejauh 500 meter di depan mata, tetapi tertutup beberapa portal tembok yang sepertinya sengaja di buat mungkin karena tempat itu bekad gusuran, di rencanakan untuk membuat area publik atau semacamnya.


"Bagaimana kita ke sana?" Tanya Aisyah menatap bangunan berdempet di pinggir kali itu.


"Lewat sini." Bram menarik lengan baju Aisyah masuk ke sebuah gang kecil. Mereka berjalan dengan hati-hati, sehabis hujan sepertinya kali itu meluap sehingga jalan menjadi becek.


"Rumah ayahku di tempat ini...?" Tanya Aisyah bimbang sambil mengikuti langkah kaki Bram dari belakang sementara jemarinya memegang ujung baju Bram.

__ADS_1


"Kamu boleh memegang tanganku jika kamu takut jatuh." Bram berbalik dan mengulurkan tangannya.


Aisyah menggeleng dengan pias merah jambu lalu berpura-pura sibuk mengangkat sedikit celana panjang model haighwaist pant model lebar yang di kenakannya, supaya ujung celananya tidak menyentuh tanah dan kotor.


"Aku tidak takut jatuh, mas. Aku bisa berjalan dengan hati-hati." Jawab Aisyah sambil memberi isyarat Bram kembali melangkah.


Bram menganggukkan kepalanya sambil menarik sudut bibirnya, Aisyah memang pemalu sebenarnya, dan sekarang semakin canggung dengan Bram sejak laki-laki ini menyatakan perasaannya pada Aisyah.


Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit melalui gang sempit itu dan sesekali berpapasan dengan para pemukim yang mungkin tinggal di situ, yang dari penampilannya, Aisyah merasa bahwa hidupnya yang sederhana selama ini jauh lebih beruntung dari mereka.


"Cari siapa, pak?" Tanya seorang laki-laki berbadan tambun dengan kumisnya yang jarang-jarang, pakaiannya lusuh, di tangannya sebuah karung berisi beberapa barang rongsokan. Matanya menyelidik curiga pada Bram yang berpenampilan rapi dan jauh berbeda dengan orang-orang yang tinggal di sana.


"Saya mau bertemu dengan bapak Faraz."


"Bapak Faraz?" Alisnya bertaut.


"Oh, maksud saya bapaknya Adka."


Dengan senyum kecil dia memberi jalan untuk Bram dan Aisyah lewat.


Bram sudah sekali tepatnya kemarin siang ke tempat ini bersama Bang Gimin, orang yang menemukan keberadaan Faraz setelah sekian lama dia mencari dan menelusuri keberadaan ayah Aisyah itu, dari tempat terakhir kali dia bekerja dan tinggal di kalimantan hingga akhirnya pindah ke daerah sini, beberapa tahun yang lalu.


"Brakk!!!" Seorang anak sekitar 10 tahun berlari daei sebuah rumah, menabrak Aisyah hingga hampir terjatuh.


"Eh, hati-hati kalau berlari!" Bram dengan sigap menangkap tubuh Aisyah sehingga tidak sampai terjatuh, sambil melotot pada anak yang menghentikan larinya itu. Mata Aisyah bertemu pandang dengan bocah laki-laki ceking itu.


"Ma...haf." Ucapnya pendek dan terbata, sedikit sengau, mata itu berbinar sejenak.

__ADS_1


"Aqsa!!! Kemana kamu! Kembalikan buku kakakmu!" Panggilan keras itu terdengar dari pintu salah satu rumah bilik itu.


Aisyah terpana, suara itu terdengar serak tetapi Aisyah lamat-lamat merasa tak asing, dia merasa suara itu benar-benar tak asing.


Aisyah berdiri tegak dengan bertumpu pada lengan Bram, dia berbalik dengan tegang.


Mulutnya terbuka, matanya nyaris tak berkedip menatap pria yang terlihat tua dengan baju kaos lusuh bergambar salah satu partai dan foti caleg yang lusuh, sepertinya baju pembagian kampanye beberapa tahun yang lewat.


Celana kainnya sebenarnya berwarna hitam tetapi tampak abu-abu karena mungkin terlalu lama di pakai.


Pandangan mereka bertemu, si bapak tua dengan uban yang hampir memenuhi kepalanya itu tertegun, seakan dia berusaha mengenali perempuan berkerudung cokelat muda di depannya itu.


"A...ayah..." Suara itu seperti tercekat di kerongkongan Aisyah. Hilang tersesat di ujung lidahnya.


Alis bapak itu bertaut, tangan kanannya naik ke atas kening seperti menepis cahaya silau, memicingkan matanya menatap Aisyah, tangan kirinya menopang sebuah tongkat kayu, tubuhnya sedikit miring, sepertinya dia harus di bantu oleh tongkat itu untuk berdiri dengan benar.


"Pak Bram, andakah itu?" Tanyanya, matanya terpicing kiam menyipit.


"Ya, pak Faraz...ini aku, Bram yang datang nenemui bapak kemarin siang." Jawab Bram sambil menyentuh kengan Aisyah.


"Oh, katamu hari ini kamu akan membawa seseorang padaku yang ingin bertemu denganku. Siapa?" Dia berjalan tertatih setengah menyeret kakinya.


Aisyah tak bersuara, matanya tak lepas dari lelaki tua yang ada di depannya itu, tak ada satu patah katapun yang mewakili perasaannya sekarang!


(Yeay, mak othor sudah dobel UP ya hari ini😂 bilang sayaaaaang dulu sama mak othor🥰🤣🤣🤣 Bagaimana reaksi Aisyah berhadapan dengan ayahnya pertama kali setelah 10 tahun meninggalkan dirinya dan apa kisah di balik Faraz yang telah begitu tega meninggalkan anak dan istrinya? Sepahit apa kehidupan seorang Faraz? ikuti kelanjutannya ya🤗🤗🤗🤗)


__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa dukungannya yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis😂...


__ADS_2