CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 45. KEHILANGAN TERBESAR


__ADS_3

Selepas shalat Ashar, jenazah pak Syarif di kebumikan. Warga kampung tempat pak Syarif tinggal begitu berduka dan kehilangan. Beliau terkenal sebagai orang baik yang santun, budi bahasa yang lembut dan seorang takmir mesjid yang ikhlas dan tulus.


Aisyah sepanjang upacara, menggandeng tangan Tito kemanapun dia melangkah. Dia hanya terdiam bahkan tanpa sedikitpun mengeluarkan air mata.


Saat orang-orang, tetangga-tetangga dan warga kampung mereka datang silih berganti mengucapkan bela sungkawa, dia hanya mengangguk meski wajahnya terlihat pucat.


Ekspresinya hampir tak berubah dari saat Bram datang kepada Aisyah membawa kabar kepulangan abah.


"Aisyah, maafkan aku jika..."


"Kenapa, mas?" Aisyah yang tampak rapi dan cantik menyambut Bram di pintu, tersenyum lebar ketika Bram tiba. Dia sengaja datang lebih dulu sebelum orang-orang membawa jenazah abah.


"Abah..." Bram gugup bukan kepalang, saat berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menyampaikan berita meninggalnya abah.


"Kenapa dengan abah?" Alisnya yang hitam itu naik.


"Abah, baru saja...baru saja berpulang." Bram tak pernah menyampaikan berita duka pada siapapun, bahkan saat Beni, putra sulungnya meninggal dia hanya yermangu ketika ibunya memberitahukannya.


"Pulang?"


"Abah telah...telah pergi..."

__ADS_1


"Pergi kemana?"


"Abah...abah sudah pergi Menghadap Allah untuk selama-lamanya."


"Hah?!!"


Hanya kata itu yang keluar dari bibir Aisyah.


Mata itu hampir tak berkedip menatap pada Bram.


"Aisyah kamu harus kuat, kamu...kamu harus kuat demi Tito...demi ibumu...demi..."


"Aku mengerti...aku mengerti, mas." Kalimat itu di ulang-ulang Aisyah, dengan bibir gemetar tapi demi Tuhan, Bram hampir saja memeluknya berusaha menguatkan gadis itu. Dia tidak menangis tetapi Bram tahu, Aisyah hanya berusaha menahan diri untuk tidak menangis.


"Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, wa inna ilaa rabbina lamunqalibuun, allahummaktubhu ‘indaka fiil muhsinin, waj’al kitaabahu fii ‘illiyyiin, wakhlufhu fii ahlihi fil ghaabirin, wa laa tahrimnaa ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu.


Ya, Allah, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Dan sesungguhnya kepada tuhan kamilah kami kembali. Ya Allah, tuliskanlah ia di sisi-Mu termasuk golongan orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Jadikanlah catatannya di ‘illiyyin, tempat kembalinya orang-orang yang baik. Berikanlah ganti kepada kami keluarga yang ditinggalkan. Janganlah engkau haramkan bagi kami pahalanya dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya." Aisyah mengucapkan kalimat itu seperti gumam yang tak putus tetapi bibirnya kentara gemetaran, hal itu di ucapkannya sambil mundur beberapa langkah ke dalam rumah.


Bram terpekur melihat Aisyah yang seolah sedang mengumpulkan nyawanya sendiri, sikapnya membuat Bram merinding.


"Aisyah...tenanglah..." Bram menjadi sedikit cemas.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa." Matanya mengerjap tapi benar-benar tanpa air mata.


"Bawa abah pulang dulu, aku akan menyiapkan tempat abah berbaring supaya nyaman. Aku mau melihat wajah abah untuk terakhir kali." Aisyah menatap lurus pada Bram, sungguh reaksi yang di luar perkiraan Bram.


Dia mengira Aisyah akan menangis histeris, menunjukkan rasa kehilangannya dengan emosional. Tetapi yang di lihatnya sekarang, Aisyah tanpa ekspresi sama sekali, dia berusaha menutup emosinya sekuat tenaga.


"Mereka akan membawa abah segera dari mesjid." Ucap Bram, tangannya mengepal di kiri kanan tubuhnya, berusaha tak mengikuti nalurinya yang ingin membawa Aisyah ke dalam pelukannya. Dia tahu benar rasanya, berusaha tidak menangis saat kita begitu terluka.


Aisyah berdiri mematung beberapa saat sebelum kemudian dia menganggukkan kepalanya.


Seperti itulah respon Aisyah saat mendengar berita meninggalnya laki-laki yang telah menjadi ayah, ibu, orangtua sekaligus guru pembimbingnya, kerabat orangtuanya, dan satu-satunya yang perduli mengurus dirinya dengan penuh kasih sayang selama ini.


Bram tahu, Aisyah sedang mengalami kehilangan terbesar dalam hidupnya tetapi berusaha untuk terlihat kuat dan baik-baik saja.


(Part doublenya segera mak Othor luncurkan ya🙏😁 hari ini harus double UP untuk para readers kesayangan karena kmrn othor libur menulis ada sedikit urusan di real life🤭)



Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2