CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 57. MELAMAR AISYAH


__ADS_3

Dengan tergesa Bram berjalan, keluar dari mobilnya.


Aisyah tak mengangkat video callnya, hanya menuliskan di pesan WA


'Mas Bram, aku tak bisa melakukannya. Aku tidak mau menikah dengan orang yang tak ku cintai.'


Bram seperti kesetanan membawa mobilnya menuju rumah Aisyah, jarak tempuhnya sekitar setengah jam dari kantor Bram. Untung saja jalanan tidak terlalu padat.


Dada Bram berdegup kencang, apalagi setelahnya ponsel Aisyah ketika dihubungi berada di luar Area.


'Menikah? Siapa yang mau menikah?'


'Kamu kenapa, Aisyah?'


'Ada apa????'


Semua chat Bram hanya ceklis satu!


Bram gusar bukan main, dia bingung tak tahu harus bagaimana, yang bisa di lakukannya adalah segera menuju rumah Aisyah. Siapa yang ingin menikahi Aisyah?


Suasana rumah Aisyah sedikit ramai meski tak terlalu banyak orang. Pintu rumahnya terbuka, ada beberapa tetangga berada di teras.


Beberapa orang langsung berbisik-bisik saat melihat kedatangan Bram yang sudah cukup familiar bagi tetangga-tetangga abah.


Yang mereka tahu, Bram adalah anak angkat abah, seperti itulah biasa abahnmengenalkan Bram pada mereka.

__ADS_1


"Assalammualaikum..." Bram memberi salam sambil dengan tak sabar mencari-cari wajah Aisyah.


"Waalaikumusalam Warahmatullahi Wabarakatuh." Orang-orang di dalam rumah menyahut hampir berbarengan.


Aisyah yang duduk di tengah rumah, mengangkat wajah dengan matanya yang terlihat sembab. Mata itu berkaca-kaca menatap Bram.


"Ada apa ini?" Tanya Bram. Pandangannya langsung tertumpu pada Aisyah dan bergantian mengitari satu persatu orang di dalamnya, ada beberapa orang yang cukup di kenalnya. Pak RT dan bu RT, mpok Mumun dan mbak Retno yang duduk mengapit Aisyah, lalu bu Hasni dan Wak Agil yang sudah berumur, serta satu orang perempuan lagi yang duduk di samping bu Hasni, kalau tak salah ingat Bram, dia adalah istri kedua Wak Agil, juragan tambak yang paling kaya di kampung mereka.


"Untunglah kamu datang pak Bram." Bu Hasni angkat bicara. Di depannya tampak seserahan dalam keranjang.


"Saya dengar Pak Bram adalah wali yang di tunjuk oleh pak Syarif untuk Aisyah, sementara ayahnya belum pulang." Bu Hasni berucap sambil mempersilahkan Bram duduk tidak jauh dari Aisyah, di mana dia dan suaminya yang rapih dalam balutan kemeja koko dan peci berwarna putih.


"Oh, ada apa dengan Aisyah?" Bram terlihat masih tegang dan bingung. Wak Agil yang berusia sekitar di ambang lima puluhan tahun itu tampak menoleh pada istrinya yang dari tadi berbicara.


"Kami adalah orang-orang yang cukup dekat dengan keluarga pak Syarif, bahkan dari awal pak Syarif dan keluarga tinggal di sini." Wak Agil berbicara dengan tenang.


"Semua orang di kampung ini tahu benar tentang hal ini." Tambah bu Hasni sambil menoleh pada pak RT yang sedari tadi mendengarkan saja.


Bram tidak menyahut tapi dia berusaha sabar menunggu kata-kata berikutnya yang keluar dari mulut Wak Agil.


"Begini, pak Bram. Sebagai orang yang juga merasa Aisyah ini seperti keluarga sudah bagi kami, bahkan pak Syarif dulu sering ikut membantu setiap panen di tambak, Tito maupun Aisyah juga kadang-kadang ikut membantu jika dia tidak sedang membantu memasak di kedai makan mbok Tiah. Kami juga tak pernah berhitung membantu beliau dan keluarga jika saat membutuhkan." Bu Hasni tetap yang bicara sementara wak Agil hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tentang apa tepatnya ini, bu Hasni?" Tanya Bram tiba-tiba, dia terlihat tak sabar.


"Kami sebenarnya ingin membantu Aisyah saja. Sebagai bentuk kepedulian kami sebagai keluarga."

__ADS_1


"Membantu apa? Apa yang perlu di bantu dari Aisyah dan Tito? Mereka dalam kesulitan apa?"


"Bukan soal kesulitan sekarang, tapi soal memberikan jaminan kehidupan untuk Aisyah. Dia sekarang yatim nyaris piatu, di tinggal wafatnya pak Syarif. Ayahnya sudah pergi belasan tahun tanpa kabar berita dan Ibunya, apa yang bisa kita harapkan dari seorang ibu yang mengalami gangguan mental begitu lama..."


"Maaf bu Hasni, tolong perjelas, ini soal apa? saya bukan orang yang pintar soal tebak-tebakan." Tukas Bram memotong pembicaraan Perempuan yang terkenal banyak bicara itu.


"Ini soal..." Pak RT akhirnya angkat suara, dia juga terlihat tidak terlalu senang dengan apa yang terjadi


"Ini soal, saya melamar Aisyah untuk istri dari suami saya!" Jawab Bu Hasni cepat.


Bram terperangah


"Melamar Aisyah?" matanya langsung melotot menatap pada wak Agil, juragan kaya yang telah berumur itu. Dia terkenal dermawan tapi sungguh Bram tak tahu kalau wak Agil ini doyan kawin.


Dada Beam bergemuruh hebat seperti sedang di hajar gelombang di lepas pantai. Tangannya terkepal sampai gemetar.


Bram menoleh kepada Aisyah yang sedari tadi tertunduk dengan air mata yang merembes di pipi putihnya, membasahi kain hijap yang menutupi dagunya.


"Mas..." Aisyah berucap lirih. Kepalanya menggeleng kecil, mata itu berkaca-kaca seolah berusaha menahan diri untuk tidak menghambur ke pelukan Bram.


(Hari ini double UP ya, tp agak malam๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… Terimakasih sudah menunggu lanjutan kisah ini)



...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full.......

__ADS_1


...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™...


__ADS_2