CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 38. IBU PERAWAN


__ADS_3

"Apapun yang terjadi padanya, aku hanya ingin mendengarkannya saja, kenapa begitu tega meninggalkan Atifa dan anak kandung yang tak pernah di lihatnya itu? Aku hanya ingin mendengar kenapa dia menelantarkan Atifa begini sengsara?" Mata tua itu tampak berkaca, menahan air mata yang entah berapa lama coba disimpannya untuk dirinya sendiri.


"Atifa adalah adikku satu-satunya, yang tak tahu rasanya di besarkan dengan orangtua yang lengkap. Aku menyayangi Atifa melebihi diriku sendiri, bahkan saat aku tahu dia jatuh cinta pada Faraz aku menikahkannya tanpa berfikir dua kali. Aku hanya ingin membuatnya bahagia." Abah mengusap jemarinya sendiri yang di letakkannya di atas perutnya, dia sungguh tak bisa menyembunyikan kesedihannya di depan Bram.


"Tapi, apa yang bisa ku lakukan, ketika aku sendiri yang telah mengantarkannya pada takdir yang menyedihkan. Isah pernah bercerita padaku, kamu mengantarnya singgah di panti rehab mental di mana ibunya berada, begitulah keadaannya. Aku hanya bisa menaikkan seribu doa untuk kesembuhannya, tetapi bayangan suaminya itu lebih besar dari Tuhan di matanya. Apa yang bisa di lakukan si tua ini yang menerima banyak ujian tetapi tak pernah bisa menyempurnakan diri. Allah mungkin melihat, batas sabar dan ikhlasku masih jauh dari seharusnya, sehingga dia menyayangiku dengan banyak cobaan." Abah menundukkan wajahnya, selama ini abah selalu menjadi tempat Bram berkeluh kesah, dengan permasalahan hidupnya yang di anggapnya begitu berat.


Tetapi, saat dia melihat sendiri bagaimana sebenarnya kehidupan abah, sungguh dia merasa malu saat menganggap dirinya sedang menerima ujian berat dari Allah.


"Bagaimana...bagaimana aku akan mencarinya?" Tanya Bram dengan ragu.


Abah mengambil sebuah kotak berwarna cokelat yang tak seberapa besar dari sebelah bantalnya.


Di dalamnya tampak beberapa kertas dan foto-foto usang. Dan tangan yang mulai mengeriput itu mengulurkan selembar foto buram.


__ADS_1


Bram menerima foto itu dan menatap sesosok laki-laki dalam foto itu, laki-laki tampan dengan peci hitam sedang tersenyum lebar.


"Ini adalah ayah Aisyah, saat menikah dengan Atifa." Ucapnya dengan tatapan nanar. Foto ini di ambil saat dia datang kepadaku meminang Atifa 21 tahun yang lalu. Seorang laki-laki shaleh, yang sudah ku anggap adikku di pesantren." Mata itu menerawang.


"Dia adalah anak yang sopan dan suaranya sangat merdu saat melantunkan shalawat tarhim setiap menjelang adzan subuh. Aku selalu mengira Faraz akan menggantiku menjaga Atifa, tetapi aku tak tahu jika cintanya membuat adikku itu menderita." Helaan nafas tua abah terdengar berat.


Bram menatap foto itu, dia akhirnya tahu dari mana datangnya lesung pipit Aisyah yang manis itu. Ayahnya menurunkan paras yang sempurna milik Aisyah dari kerupawanannya.


"Dia meninggalkan Aisyah dan ibunya pada saat Aisyah masih sebelas tahun. Katanya, demi seorang perempuan di tempat perantauan. Tapi, aku selalu tak yakin bagaimana bisa ada perempuan yang bisa mengalihkan wajah Faraz dan Atifaku yang cantik itu. Aku hanya ingin bertemu dengan Faraz sekali lagi, supaya tak ada yang membuatku tak rela menerima takdir buruk Atifa lagi. Aku...aku sangat takut membawa dendam meski itu sekecil apapun saat aku harus kembali pada pemilik dzat." Sudut mata tua abah terlihat basah.


"Di sini ada alamat tempatnya bekerja dulu, ini adalah surat-surat resi posnya dulu, dan semua hal terakhir tentang di mana dia berada, sebelum dia menghilang entah kemana." Abah mengambil kotak sebesar kotak sepatu itu dan menyerahkannya pada Bram.


"Abah, aku pasti akan membantu abah sekuat dan semampuku, abah tidak perlu mengatakan tentang hutang budi padaku." Bram menyahut, meski dia tak benar-benar yakin apakah bisa dia menunaikan janjinya itu.


"Nak Bram, tidak apa-apa jika nantinya nak Bram tak bisa menemukannya. Jangan jadikan beban." Abah menarik nafasnya seolah berusaha mengusir beban berat di dadanya.

__ADS_1


"Tetapi, aku berharap ayah Aisyah kembali sebelum aku mati, dengan begitu aku tenang, saat tahu ada orang yang bisa menikahkan Aisyah pada seseorang yang tepat suatu saat nanti, jikalau aku tak ada lagi."


Bram terpana, mencoba mencerna kalimat yang di ucapkan oleh abah.


"Bukankah Aisyah sudah pernah menikah dan mempunyai anak? Bukankah tanpa ayahnya abah telah menikahkan Aisyah?" Kalimat itu meluncur begitu saja keluar dari mulut Bram tanpa bisa dia menahannya.


Abah mengangkat kepalanya, menatap lurus pada Bram.


"Anakku Aisyah tak pernah menikah dengan siapapun." Suara abah terdengar tajam menusuk. Bram tertegun hingga matanya tak berkedip menatap abah.


"Apakah seorang perawan tidak pernah menikah tak boleh di panggil ibu oleh seorang anak yatim piatu?"


(Akhirnya, double UP lagi ya๐Ÿ™๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Terimakasih menunggu UPnya, nak othor tunggu bunga dan kopi modal bergadang malam ini๐Ÿคญ๐Ÿคญ)


__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2