CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 85. MENJEMPUT BAHAGIA.


__ADS_3

Aisyah menatap wajahnya di depan cermin, dia seakan melihat orang asing yang berbeda di depan cermin.


Dia mengenakan gaun pengantin muslimah syar'i. Gaun pengantin muslimah bercadar ini terbuat dari bahan maxmara ultimate, yakni kain yang mirip dengan satin, tetapi memiliki tekstur halus. Kain ini terasa ringan, licin, flowy, dan tidak transparan sehingga sehingga Aisyah tidak perlu menambahkan manset atau dalaman lainnya. Pakaian pengantin itu di lengkapi cadar dan khimar warna putih bersih sebada denhan gaun pengantin yang di gunakannya.


Aisyah menerima pagi-pagi sebuah kiriman dari Diah, sebuah gaun untuknya melaksanakan ijab qobul hari. Dan di dalamnya ada sebuah surat,


Adikku Aisyah,


Entah kalimat apa yang bisa kutuliskan sebagai bentuk betapa aku merestui pernikahanmu dengan mas Bram.


Jangan kuatir, aku dan mas Bram hanya terhubung oleh anak kita Bella, dan mas Bram tak lebih dari sebuah bagian masa lalu.


Tak ada yang tersisa, karena kami telah berbeda arah tujuan, dan takdir memberikan kami jalan masing-masing dalam kehidupan ini.


Oh, iya...baju ini, ku harap kamu memakainya besok dengan senyum, ini adalah baju yang ku desain sendiri setelah aku menikah dengan Mas Fadjri. Entah mengapa aku dulu sangat ingin membuatnya, meskipun aku tahu aku tidak akan bisa mengenakannya.


Dan saat kamu dan mas Bram datang kemarin mencari sebuah baju pengantin untukku, sekarang aku tahu untuk siapa baju ini ku buat.


Tak ada nasehat yang pantas ku katakan padamu, karena meskipun aku pernah menikah tetapi aku gagal di pengalaman pertama dan sekarang sedang belajar memulai dari awal, berusaha menuju sakinah, mawaddah, Warohmah yang di idamkan semua pasangan suami istri di dunia ini.


Tiada ibadah yang lebih indah dari sebuah pernikahan, jika kamu telah menemukan cintamu yang sempurna. Di mana duduk berdua adalah ibadah, menghabiskan waktu bersama adalah ibadah, bahkan bersama menghadap sepiring makananpun juga ibadah.


Allah menciptakan manusia secara berpasang-pasangan. Itulah takdir kita dari Allah. Semoga kalian akan terus bersama hingga usai tugas di dunia. Semoga kalian akan bersama pula di dalam till jannah-Nya nanti. 


Adikku Aisyah, bisa ku bayangkan betapa cantiknya dirimu bersanding besok, maafkan aku tak bisa hadir, tetapi insyaAllah saat resepsi nanti aku akan datang dan aku telah memesan sebuah gaun yang lain untukmu, supaya sempurna dirimu menjadi ratu. Semoga Allah menyempurnakan kebahagiaan kalian dan menyempurnakan ibadah kalian, doaku tulus kelak kalian menjadi pasangan yang harmonis, pasangan yang akan dikaruniai keberkahan yang berlapis-lapis.  

__ADS_1


Apa yang menjadi niatmu, tetapkan dan luruskanlah karena niat baiklah yang akan mendatangkan kebahagiaan yang tak ternilai.


Aku belajar dari kesalahan di masalalu, jangan lah menikah karena mencari kebahagiaan karena kegagalan menunggu di ujung jalan, tetapi menikahlah karena ibadah. Jika kita memasuki pernikahan dengan iman, kita seperti sedang melepas jangkar dari kapal bernama rumah tangga untuk mengarungi samudera pernikahan dan apapun yang terjadi kita akan berlabuh di till jannahnya Allah. Barakallahu laka. 


Aku sungguh yakin saat melihat betapa mas Bram sangat mencintaimu, kalian akan menjadi pasangan suami istri yang saling mencintai dan saling menjaga kehormatan serta saling terpaut hatinya satu dengan yang lain. 


Semoga dengan pernikahan ini, terbukalah pintu kasih sayang, ilmu, hikmah, rasa aman, dan kebahagiaan bagi semua. 


Aku senantiasa berdoa semoga dengan kehadiranmu bertambahlah ketaatan mas Bram kepada Allah hingga surganya menjadi dekat.


"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoirin." Semoga Allah memberkahimu dalam segala hal yang baik dan mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan.


Dari kakakmu,


Semua kalimat itu terasa hangat, membuat jiwa Aisyah begitu terharu dan lega. Diah telah menjawab semua ketakutan dan kegelisahannya dalam sebuah surat. Terangkum sempurna dalam bentuk harapan dan Doa.


"Terimakasih, kak Diah..." Bisik Aisyah, dia mengipas matanya yang berkaca supaya air mata yang hendak jatuh itu tak turun.


Perias pengantin yang datang ke rumahnya hari ini di datangkan secara khusus oleh Bram.


Tentu saja Aisyah tak pernah di poles dengan secantik ini.


"Kamu adalah pengantin tercantik yang pernah ku rias..." Puji Mbak Nela, periasnya.


Aisyah tersipu malu, di liriknya ke arah jam dinding, hampir jam sepuluh. Semakin dekat waktunya.

__ADS_1


"Aisyaaah..." Mbak Retno muncul di pintu kamarnya dengan ngos-ngosan.


"Ayolah cepat, mobil pengantinmu tiba."


"Mobil pengantin?" Aisyah berbalik dengan keheranan.


"Kita hanya ke mesjid depan rumah saja, kenapa aku harus pakai mobil pengantin? Bukankah kita bisa berjalan kaki saja?" Tanya Aisyah lagi.


"Oalaaah, ojo banyak protes pengantin dadakan. Manut wae. Itu sudah perintah dari pengantin laki-laki." Mbak Retno yang hari ini tak kalah cantiknya mendekati Aisyah, sejenak menatap kagum pada kecantikan Aisyah sebelum membantu Aisyah memasangkan cadarnya.


"Ayo, cepat...semua sudah hadir, tinggal menunggu pengantin perempuannya saja." Ucapnya parau tanpa bisa menyembunyikan rasa harunya menatap Aisyah. Dari kanak-kanaknya ketika abah membawanya pertama kali ke rumah ini hingga remajanya dan kini menikah, Mbak Retno adalah saksi bagaimana Aisyah tumbuh dalam kepiluan hidupnya.


Dan sekarang saat seorang laki-laki yang mencintanya mempersunting Aisyah, dia merasa seolah dirinya lah yang akan menjemput kebahagiaan itu.


Langkah Aisyah perlahan, sambil memeluk lengan Mbak Retno,


"Mbak, aku gugup sekali..." Bisiknya.



(Part berikutnya, readers siap-siap bilang saaaaaah ya😅😅😅)


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis

__ADS_1


__ADS_2