
Aisyah memejamkan matanya, ketika ciuman Bram menyusuri wajahnya, menyapu dengan lembut tanpa melewatkan sejengkalpun.
Tubuh rampingnya menegang, saat jemari Bram menggerayangi punggungnya, seolah berusaha menembus kain pakaiannya.
Sensasi ini baru pertama kali di alami Aisyah seumur hidupnya. Membuat badannya menegang kaku.
"Mas Bram..." Aisyah membuka sedikit matanya, setengah mengintip, dia bingung sendiri, tangannya kadang mengepal kadang membuka tak jelas tapi dia tak punya keberanian untuk membalas sentuhan Bram.
Aisyah hanya duduk seperti patung, dia menikmati sentuhan demi sentuhan Bram dengan gugup.
"Sayang..." Bram semakin berani ketika melihat kepasrahan Aisyah.
Bibirnya merayap turun dari mata Aisyah sementara jari jemarinya membelai, mengelus di berbagai area, ceruk dan lekuk. Jurus-jurus bercumbu yang lama tidak di gunakan itu siap untuk di keluarkan kembali.
"Mmmmm..." Mulut Aisyah terkatup rapat, dia tak berani bersuara, hanya nafasnya yang semakin cepat.
"Sayang..." Bibir Bram menyentuh bibir Aisyah, dia mengecup perlahan lalu dengan gaya sedikit nakal, dia mengeluarkan lidahnya, seakan memberi isyarat Aisyah membuka celah bibir yang terkatup tegang itu.
"Ehhhh..." Aisyah menarik wajahnya.
"Mas Bram kenapa menjulurkan lidah begitu?" Tanya Aisyah mendadak, Bram yang semula merem melek tak jelas itu membuka matanya lebar-lebar.
"Mas sedang ingin mencium bibir istri mas..." Ucap Bram serak, dia dalam puncak g@irah, berusaha meraih wajah Aisyah lagi.
"Tapi kenapa lidah mas Bram keluar? Mas Bram tidak apa-apa, kan?"
"Memangnya kenapa?"
"Suami kak Sumi, yang punya kios beras di depan itu minggu kemarin terkena stroke berat, lidahnya sampai keluar..."
"Oalah, sayang...ini gaya berciuman, bukan terserang stroke." Bram menyahut dengan memelas, dia tak tahu jika bercinta dengan istrinya yang ini dia harus memberikan materi dulu baru masuk ke tutorialnya.
"Oh, ada ya gaya begitu..." Aisyah tersenyum malu-malu. Lalu memejamkan matanya lagi, seakan memberi kesempatan Bram melanjutkan shownya yang sempat terputus karena iklan.
Bram mengatur nafasnya, menatap wajah istrinya itu dengan gemas. Lalu tanpa ba bi bu lagi, dia memeluk Aisyah erat-erat, mengul*m bibir ranum itu, sama sekali tak ingin memberi celah Aisyah protes atau bertanya lagi.
Lalu dengan bersemangat di baringkannya Aisyah, tanpa sedetikpun melepas ciumannya yang panas membara.
Saat Bram melepaskan ciumannya, wajah Aisyah merah padam hampir kehilangan nafasnya.
__ADS_1
Sekarang, Bram bisa menikmati indahnya pemandangan saat Aisyah dalam posisi berbaring. Sekali lagi Bram menelan nafasnya, tak jelas ini reaksi dari si susu kuda liar itu ataukah memang dia yang sangat kepengen, Bram merasakan ketegangan maksimal dari si otong di balik sarung.
Dia menindih Aisyah dengan bersemangat, kepalanya puyeng bukan main. Di susurinya dengan bibirnya yang basah leher hingga dada Aisyah. Si istri yang lugu ini menggelinjang seperti ulat tak bisa diam,
"Akh...geli, mas...geli..." Mulutnya berdecak, sambil berusaha mendorong dada Bram. Suara Aisyah itu malah semakin membuat Bram tambah bergairah.
Dia semakin liar menyusupkan kepalanya ke gundukan padat milik Aisyah yang tak besar tapi jelas kenyal dan ori.
"Waaaa..." Aisyah mendorong kepala Bram.
"Mas Bram mau apa?" Aisyah memeluk dadanya, pakaian bagian atasnya acak-acakan begitu rupa, sebagian ada yang menyembul karena Bram menarik putus kancingnya.
"Itu...mas Bram mau itu..." kepala Bram yang sudah berada di atas dada Aisyah. Bibirnya monyong ke depan menunjuk bagian gundukan itu sambil menatap Aisyah penuh permohonan.
"Ini?" Aisyah membuka tangannya sebelah dengan pias merah jambu.
"Mas Bram mau memainkannya sebentar, kamu akan tahu rasanya nanti, mas Bram jamin kamu bakal minta lagi." Bujuk Bram tak sabar.
"Tidak sakit, kan?"
"Tidak, sayang."
"Jangan di gigit, ya..." Pinta Aisyah dengan mata kucingnya.
"Aisyah takut..."
"Takut Apa?"
"Takut tetanus..."
Glek!!! Bram hampir ngakak mendengar jawaban Aisyah.
"Sayang, ini namanya foreplay. sentuhan-sentuhan seperti ini penting, supaya kita bisa mencapai puncak bersama-sama."
"Puncak?"
"Akh, nanti kamu akan tahu sendiri. Pokoknya manut saja, ini adalah bagian dari ibadah. Aisyah mau kan beribadah dengan mas?" Bram hampir kehilangan akalnya. Si Aisyah mendengar kata ibadah tidak perlu dua kali segera menyingkirkan tangannya, malah dia dengan suka rela membantu Bram membuka kancing atasan dressnya itu.
Dia ingat ucapan mpok Mumun,
__ADS_1
"Melayani suami di dapur hingga kasur itu adalah ibadah dengan pahala besar jika di lakukan dengan sukacita dan ikhlas."
Seperti serigala lapar, Bram menyerang Aisyah, dia langsung menuju si cute coklat muda di puncak bukit, dia menciut tegang ketika bertemu tatapan Bram.
"Oh...astagaaaa....kamu membuatku gila, Aisyah...." Bram mendesis di telinga Aisyah.
"Akh!" Aisyah melotot saat Bram menyesap puncak gunung itu. Setelah itu, dapat Bram dengar suara pekik kecil dan des4h istrinya itu.
Kedua belah jari jemari tangan Aisyah mencengkeram rambut Bram, berpegang di sana sementara tubuhnya melengkung.
Bram semakin bersemangat melihat reaksi Aisyah. Aisyah juga menjadi tak bisa diam, dia menggeliat-geliat, suata derit dipan mulai terdengar gencar, seiring gerakan Bram yang semakin liar.
Irama derit si dipan kayu itu seperti suara musik saja di telinga Bram, dan saat si Otong sudah tak lagi tahan, buru-buru Bram menarik baju kaosnya, sementara Aisyah bagian atas sudah tak lagi berbentuk.
Tepat saat Bram berusaha meloloskan sarungnya itu,
"BRAAAAAK!!!!"
Dipan kayu Aisyah itu roboh.
Setelah sesaat pekikan Aisyah karena terkejut, mereka seperti roti hotdog di antara kasur, bantal dan selimut. Beberapa papan dasar tempat tilamnya patah, dan mereka berdua dengan setengah tel4nj4ng teronggok bertindihan di dalamnya.
"Aisyaaaaaaah...ada apa, nak???" Suara Ibu Aisyah yang tidur di kamar pak Syarif membuat Aisyah dan Bram sama-sama melotot. Wajah mereka berdua merah dalam pias malu tak terbendung. Apa kata orang jika tahu, malam pert4m4 mereka merobohkan sebuah dipan!
Gedoran ibunya di pintu, meminta mereka segera membuka, Bram segera melompat membantu Aisyah keluar.
"Waaaaaa....!!!" Aisyah berteriak sambil menunjukkan ke bagian bawah Bram yang polos tanpa sehelai benangpun. Lalu dia menutup matanya dengan kedua tangannya. Malu sekali. Biar bagaimanapun, ini adalah pertemuan pertamakali Aisyah dengan si Otong boy itu!
Si Otong yang tampak begitu percaya diri menantang langit di antara rimbunan semaknya yang jarang-jarang menegang sesaat menanggapi teriakan Aisyah, sebelum Bram dengan penuh kesadaran dirinya mencari sarungnya di antara reruntuhan dipan Aisyah.
Sementara gedoran di pintu, seperti tabuhan perang yang tak sabar.
"Oh, Tuhan...cobaan apa ini..." Bram berteriak lirih dalam hati, si otong seperti di komando, melemas.
(Ha...ha...maafkan mak Othor ya, Si Bram mantan buaya ini memang harus di kasih siksaan sedikit🤣🤣 biar dia tahu tantangannya menahlukkan gawang Aisyah nan sholehah😅 mudah2an dia tak menyia-nyiakan gadis yang sebersih Aisyah )
Mantan duda ini tebar pesona dulu buat readers yang penasaran🤣
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis