CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 47. MENGHAPUS UTANG JANJI


__ADS_3

Malam merangkak naik, suara gemuruh doa dari rumah abah sudah berhenti, tahlilan untuk mendoakan abah baru saja selesai, tetangga dan teman-teman abah satu persatu meninggal pondok kecil sederhana milik pak Syarif.


Yang tersisa di rumah itu kini hanya Bram, Aisyah dan Tito serta ada Mbak Retno, gadis itu teman dekat Aisyah serta mpok Mumun yang dulu adalah teman ibu Aisyah, mereka berdua bersama secara khusus malam ini tinggal menemani Aisyah di rumahnya, tetapi keduanya pamit pulang sebentar berganti pakaian dam mengambil selimut.


Bram baru kali ini ikut menumpang mandi di Kamar mandi mesjid karena tak sempat pulang dari siang hingga sore, pengalaman pertama Bram mandi di kamar mandi umum. Sebenarnya dia di tawari untuk mandi di rumah Abah tetapi Bram menolaknya, dia tak ingin apa yang dilakukannya bisa menjadi fitnah bagi Aisyah. Untung saja di dalam mobilnya ada koper kecil yang selalu berisi beberapa potong pakaian Bram.


Dari dia masih hidup bolak balik bersama Sally, kadang pulang kadang tidak sewaktu masih berstatus suami Diah, Bram terbiasa membawa koper pakaian kemana-mana.


"Mpok Mumun dan mbak Retno akan bergantian menemani Aisyah dan Tito hingga tujuh hari ini. Dan jika nak Aisyah memerlukan bantuan jangan sungkan mengatakan pada kami." kata pak RT, yang juga teman baik abah, dia prihatin dengan keadaan Aisyah dan Tito, kerabat abah yang masih hidup.


Meskipun Aisyah mengatakan dia tidak apa-apa tetapi warga dan tetangga dekat bersikeras untuk tetap menjaga Aisyah dan Tito sampai masa berkabung mereka lewat.


...***...


Bram masih duduk di ruang tamu, menatap wajah Aisyah yang tertunduk lesu, dia baru saja membujuk Aisyah makan sementara Tito sudah masuk kamar, anak itu telah tidur, Bram mengangkatnya dari atas kursi, dia mungkin kelelahan hingga tertidur.


"Aisyah, aku akan pulang sebentar lagi, setelah mbak Retno tiba." Ucap Bram, mencoba memecah hening. Setelah melihat bagaimana kesedihan Aisyah yang tumpah di depan makam abah sambil memeluk dirinya, Bram merasa semakin iba pada Aisyah. Tangisan Aisyah itu masih membekas di telinganya. Sebuah tangisan yang di tahan gadis itu sepanjang hari, seakan lahar yang menyakitkan sampai ke relung hati Bram.


"Kenapa hidup begitu kejam untuk dirimu yang serapuh ini, Aisyah? Bahkan kesedihan hidupku tak seujung kuku hitam bisa menandingi kesedihan yang kamu alami dalam hidupmu? Tapi, kamu tak seperti aku, meski kamu menangis, kamu sedikitpun tak mempertanyakan Tuhan kenapa dirimu harus menerima cobaan bertubi-tubi begitu kerasnya dalam hidupmu? Bagaimana aku bisa berlaku sepertimu, Aisyah? Kesabaranmu membuatku merasa malu dengan hidupku sendiri?" Bram tak henti-hentinya berbisik dalam hati, sambil menatap Aisyah yang sedari tadi setelah tahlilan memegang erat sebuah qur'an kecil dan sebuah tasbih berwarna putih.


Rasanya Bram tak tega meninggalkan Aisyah sendiri, tetapi dia tak tahu harus bagaimana, di antara mereka hanya pertemanan karena Abah, bukan saudara dan kerabat. Dia tak ingin kehadirannya menjadi fitnah bagi Aisyah.

__ADS_1


"Ya, aku tidak apa-apa, mas Bram. Jangan cemaskan aku. Mas Bram juga lelah seharian ini, mas Bram juga butuh istirahat dan pulang." Sahut Aisyah, mengangkat wajahnya, mata itu masih sembab.


"Aku akan kembali besok sore untuk tahlilan di sini, pak Ustad mengatakan kita akan berdoa untuk abah bersama-sama selama tujuh malam berturut-turut."


Aisyah menganggukkan kepalanya, berusaha menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.


"Terimakasih, mas Bram. Sudah ada untuk kami." Kalimat itu di ucapkan Aisyah begitu tulus.


"Besok, aku dan Tito mungkin akan nengunjungi ibu ke panti. Aku akan memberitahu ibu bahwa abah telah tiada, meski mungkin ibu tak terlalu mengerti aku, tetapi sudah seharusnya ibu tahu jika kakaknya telah meninggal." Aisyah menggenggam kuat tasbih di tangannya, suaranya terdengar serak.


"Apakah kamu ingin aku mengantarmu besok ke sana?" Tanya Bram.


Aisyah menggelengkan kepalanya,


Bram mengangguk-angguk kepalanya tanda mengerti, dia tidak akan memaksa Aisyah untuk mengantarnya. Ada kalanya dalam kedukaan seseorang merasa lebih baik sendiri dulu. Cara menyembuhkan luka setiap orang pasti berbeda. Dan Aisyah sudah terbiasa menjahit setiap lukanya dengan sendiri.


"Kita akan mencari ayahmu setelah semua ini lewat..." Bram berucap pelan dan hati-hati, dia sadar sekatang kerabat Aisyah hanya bersisa ibunya yang dalam gangguan mental dan ayahnya yang belum jelas di mana keberadaannya.


"Tidak usah..." Tiba-tiba suara Aisyah terdengar tajam dan dingin.


"Kita tidak perlu mencari ayahku."

__ADS_1


"Aisyah?"


"Abah telah tiada, tak ada yang ingin bertemu dengannya lagi." Kalimat itu terasa seperti menghujam, tak pernah Aisyah terlihat sedingin ini.


"Ayah telah pergi dan keberadaanku dengan ibu serta almarhum adikku Faiq bahkan tidak bisa menahannya untuk pergi pada perempuan lain. Andai dia punya hati dan sedikit cinta pada keluarganya, dia pasti memilih untuk tetap tinggal. Alasan apa yang bisa membuatnya kembali lagi? Bukankah hidupnya lebih indah tanpa kami?" Ucapa Aisyah yanga dikatakan dalam suara parau itu terdengar begitu menyakitkan hati orang yang mendengarnya.


"Tapi...aku telah berjanji pada abah..."


"Orang tempat mas Bram berjanji telah tiada, mas Bram tak perlu merasa berhutang untuk itu. Tuhanpun tahu, abah tak harus bertemu ayahku lagi, karena itulah mungkin Tuhan memanggilnya lebih cepat dari pada harus terluka melihat kebahagiaan ayahku di atas penderitaan adiknya. Aku hanya perlu merawat ibu, membesarkan Tito dan mengurus diriku sendiri sekarang, dengan begitu abah akan tenang di sana." Betapa tegasnya Aisyah mengucapkan kalimat demi kalimat itu. Seolah-olah dia benar-benar telah menganggap ayahnya mati.


"Aku menghapus semua utang janji mas Bram pada abah, tak perlu merasa terbeban lagi."


Bram terdiam, hanya menatap Aisyah, sebuah luka begitu dalam di torehkan seorang Ayah kepada anaknya dari laki-laki bernama Faraz dalam hidup Aisyah. Segala hal yang dialami dan di saksikan dari kenangan masa kecilnya seolah tergambar jelas di mata yang berkaca-kaca itu.


Kedatangan mbak Retno dan mpok Mumun, mengurungkan niat Bram untuk berbicara lagi.


"Aisyah, aku harus pulang sekarang tolong hubungi aku jika kamu memerlukan sesuatu." Pamit Bram.


(Happy Monday😄😄 happy dapat Vote hari ini😁 ayok2 di VOTE, di kasih kopi untuk author yaaah🤗🤗🤗 biar bisa semangat double UP lagi hari ini🙏😁)


__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏


__ADS_2