CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 93. OTONG TAK SABAR


__ADS_3

Usai makan malam bersama, Bram tak sabar membawa Aisyah naik ke kamar. Tetapi, si istri ini tidak paham, meski kode keras sudah di berikan.


Setelah sholat isya bersama Aisyah masih sibuk mengurus ibunya dan Tito yang tidur di kamar bawah.


"Ibu tidak terbiasa tidur di kamar sebagus ini." Atifa baru saja meminum obatnya yang di berikan dari dokter di Panti. Melihat perkembangan kesehatan Atifa yang semakin membaik, dia di ijinkan rawat jalan bersama Aisyah.


Tito masih gelendotan di lengan Aiayah, sementara Aisyah duduk di pinggir ranjang besar, tempat di mana ibunya dan Tito akan tidur malam ini. Tangannya sibuk mengeluarkan beberapa baju Tito dari tas untuk di masukkan ke dalam lemari.


Mereka memang baru saja bubar dari mushola keluarga setelah menunaikan sholat isya berjamaah, dimana Bram menjadi imamnya.


"Assalamualaikum..." Bram mengetuk pintu yang terbuka dengan suara sedikit ragu, dia masih mengenakan sarung. Entah mengapa akhir-akhir ini Bram sangat suka sarungan kalau sudah malam.


"Walaikumsalam..." Sahut Aisyah dan ibunya berbarengan.


"Boleh saya masuk?" Tanya Bram dengan santun.


"Tentu saja, nak Bram." Jawab Atifa segera.


Bram melangkah masuk sambil senyum-senyum. Matanya melirik ke arah Aisyah, yang dilirik pura-pura tak melihat.


"Bagaimana kamarnya, bu? Semoga ibu nyaman tinggal di sini." Bram berdiri tepat di samping Aisyah, pertanyaan basa-basi, padahal tujuan utamanya adalah mencari perhatian Aisyah.


"Kamarnya bagus sekali nak Bram, ibu sampai bingung sendiri. Biar tidak ada kipas anginnya, di sini adem sekali seperti habis hujan." Oceh Atifa.


"Iti remot ACnya di dinding bu, kalau suhunya terlalu dingin bisa di atur."


Atifa hanya mengangguk bingung, dia masih terkagum-kagum dengan suasana kamarnya itu.


"Isah, kamu beruntung sekali bertemu dengan nak Bram..." Ucap Atifa setengah bergumam.


"Saya yang beruntung bertemu Aisyah, bu. Kalau saya tidak bertemu Aisyah entah bagaimana nasibku." Br cengengesan. Wajah Aisyah segera merona karena malu dengan ungkapan yang sarat pujian padanya itu.


"Jangan terlalu merendah begitu, nak Bram. Saya yang seharusnya berterimakasih, nak Bram telah menjaga Isahku dengan baik selama ini." Atifa memegang tangan Aisyah


"Aisyahlah yang telah menjagaku, bu. Mataku jauh lebih bersih sekarang setelah bertemu Aisyah."


"Eh, kok mata?" Aisyah mendonggak pada Bram.


"Iya, sayang...pandanganku jauh lebih sehat dan tak lagi bisa menoleh ke kiri dan ke kanan karena melihatmu." Bram menepuk lembut bahu Aisyah dan tanpa segan mengedipkan matanya pada Aisyah.


"Akh, Mas Bram suka gombal." Aisyah menundukkan wajahnya yang tersipu.


"Sumpah, bu. Saya harusnya berterimakasih banyak-banyak pada ibu yang telah melahirkan gadis secantik dan sebaik Aisyah ke dunia ini." Bram semakin menjadi-jadi, dia sangat suka melihat Aisyah yang salah tingkah di depannya.

__ADS_1


"Alhamdullilah, Aisyah telah bertemu jodoh yang tepat. Allah maha besar." Atifa terlihat begitu terharu.


"Sayang..."Bram menyenggol bahu Aisyah.


"Hmmm."


"Itu Tito sepertinya sudah mengantuk," Bram menunjuk Tito yang menguap beberapa kali tetapi masih memeluk lengan Aisyah.


"Ibu juga terlihat lelah dan perlu istirahat, sebaiknya kita keluar saja. Beri kesempatan ibu dan Tito istirahat."


"Tito belum mengantuk, ummi." Sergah Tito dengan badan di buat tegak.


"Tapi, Tito sudah menguap ayah lihat."


"Tito hanya menguap sedikit, kok."


Bram berusaha menahan diri untuk tidak berdebat dengan bocah ini. Padahal, jauh di hatinya sana dia tak sabar ingin memboyong Aisyah naik ke kamar atas segera.


"Sebentar, mas...Aisyah memasukkan baku Tito ke lemari."


"Biar ibu yang memasukkan baju Tito nanti ke lemari, kalian pergilah beristirahat juga." Atifa tersenyum dengan mengerti, saat melihat Aisyah beranjak hendak mengantar lipatan baju yang baru saja di bereskannya.


"Iya, bu." Bram menyahut cepat, harinya senang melihat ibu mertuanya yang begitu pengertian padanya.


"Apa boleh aku tidur dengan ummi malam ini."


Degh! Jantung Bram seperti baru saja di sundul. Sekarang mata si duda lama parkir ini tak bisa menahan diri untuk tak melotot. Dia menjadi gugup menunggu jawaban Aisyah.


"Jangan ganggu ummimu, Tito. Malam ini Tito tidur dengan nenek saja."


Jawaban dari mulut Atifa membuat Bram begitu lega.


"Ayah sudah tidur tadi malam dengan ummi, kan bisa gantian." Rengek Tito.


"Malam ini ayah pinjam lagi ya..." Bram tersenyum sambil mengedipkan matanya pada Tito.


"Kaki ayah sedikit pegal, jadi mau minta tolong ummi pijatkan malam ini." Alasan Bram.


"Kaki mas Bram kenapa?"Aisyah mengernyitkan kening, menoleh pada Bram, terlihat cemas.


"Astaga, ini orang peka sedikit kenapa sih?" Rutuk Bram dalam hati.


"Entah, tapi mungkin kamu bisa mengobatinya." Bram menaikkan alisnya sebelah, kode keras untuk Aisyah supaya menurut saja.

__ADS_1


"Mas Bram...apa mungkin asam uratnya kambuh, ya? Abah dulu kalau kakinya sakit susah jalan pasti karena asam urat kambuh."


Bram menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aisyah ini benar-benar membuatnya gemas.


"Sudahlah, kalian istirahat saja sana. Tito akan tidur dengan ibu. Ayok, Tito, kemari, nenek akan bercerita tentang kisah nabi Yusuf."


"Waaah...makasih, bu. Selamat malam. Assalamualaikum. Selamat tidur juga Tito semoga mimpi bertemu nabi Yusuf..." Bram menarik tangan Aisyah tanpa menunggu lagi Tito protes lagi.


"Ummi...besok janji tidur dengan Tito, yaaaaa." Suara Tito hilang begitu saja saat Bram menutup pintu kamar mertuanya itu ketika keluar.


"Ayok, sayang." Bram menggulung sarungnya hampir sampai lutut untuk memudahkannya melangkah.


"Mas Bram..." Aisyah terlihat bingung.


"Kenapa?"


"Mas Bram wajahnya merah begitu?"


"Oh, si otong tak sabar..." Keluh Bram.


"Otong?"


"Sttt...!"


Tanpa ba bi bu lagi, Bram Menarik tubuh Aisyah dan dengan entengnya dia menaikkan tubuh ramping Aiayah dan menggendongnya seperti di drama-drama korea.


"Aw...mas...!"


"Stt...diam lah!" Bram mendaratkan ciuman kilat di bibir Aisyah yang melongo sambil melingkarkan lengannya di leher Bram karena takut jatuh. Bram melangkah panjang menuju anak tangga.


"Katanya kaki mas Bram sakit?"


"Sudah tidak lagi." Jawab Bram pendek, nafasnya memburu dengan langkah tergesa menaiki anak tangga, lengannya yang kokoh menopang tubuh istrinya itu seolah tanpa beban.


"Otong sudah menunggu terlalu lama, pokoknya tidak ada perpanjangan waktu lagi." Bisiknya parau.


(Yuk, mari di vote yaaaaa...😅🙏 siap-siap Aisyah bertemu otong boy🤣).



Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis

__ADS_1


__ADS_2