
(Mohon pembaca bijak sebelum membaca, yang belum cukup umur dan please skip ya,๐๐)
"Otong sudah menunggu terlalu lama, pokoknya tidak ada perpanjangan waktu lagi." Bisiknya parau.
Bram menggendong tubuh ramping Aisyah benar-benar tanpa beban sama sekali. Dia menaiki anak tangga dengan tergesa bahkan melangkahi beberapa anak tangga sekaligus.
"Buka..."
"Hah?"
"Tolong buka pintunya." Bram menunjukkan gagang pintu dengan ujung bibirnya yang di monyongkan. Kedua tangannya sedang menopang tubuh Aisyah, tak bisa melakukan hal itu.
Aisyah tersipu sambil meraih gagang pintu,
Hanya dengan sedikit dorongan menggunakan lutut Bram, pintu kamar itu segera terbuka lebar.
Bram menutup pintu kamar itu dengan tumitnya. Dia tak akan membiarkan pintu itu terbuka lagi, Bram trauma kehadiran Tito tadi siang yang membuatnya harus menghentikan semua niatnya.
"Sayang..." Bram melepaskan tubuh Aisyah dengan perlahan di atas tempat tidur, menarik lembut kerudung Aisyah.
Wajah Aisyah yang merona antara gugup, malu dan sedikit bergairah karena sedari tadi menatap terpesona pada wajah suaminya itu.
Lalu perlahan dibaringkannya tubuh Aisyah di atas tempat tidur berseprai merah muda pucat yang sangat lembut itu.
Aisyah tak sempat melakukan gerakan apapun, karena dengan rakus Bram menciumi wajah Aisyah, turun hingga leher sampai bawah telinga Aisyah lalu naik lagi dengan liat menjelajahi pipi dan bibir Aisyah, sementara tangannya sibuk menyusup ke sana kemari.
__ADS_1
"Akh, mas Bram geli..." Aisyah menggelinjang tapi Bram segera membungkam mulut Aisyah hingga sempat bersuara lagi, bibirnya yang merah muda itu sudah menjadi sasaran Bram.
Bibir Bram kadang di tekannya dengan lembut, kadangkala lidahnya yang panas menggelitik seperti sebilah kayu mencari celah untuk masuk.
Aisyah yang polos itu tak pernah menerima cumb*an sedemikian panasnya sampai sekujur tubuhnya menegang dan menggeliat mirip seekor ular yang tersiram garam.
"Mas Bram..."
"Hm..."
"Pintunya belum di kunci." Bisik Aisyah, matanya setengah terpejam merem melek menikmati sentuhan Bram.
Bram segera melompat dari atas tempat tidur, dengan gerakan secepat kilat dia mengunci pintu kamar mereka. Dalam beberapa detik kemudian dia sudah kembali ke atas tempat tidur.
"Astagfirullah..." Aisyah terpekik, saat sarung itu lepas, si otong menekan sombong seperti tentara siap perang, untung saja ada pengaman terakhir yang membungkusnya meski terlihat begitu mengancam ke arah Aisyah,
seakan ingin keluar dari kurungannya.
"Tidak apa-apa, sayang nanti kamu akan terbiasa dengannya." Bram berbisik dengan suara serak. Menikmati keberadaannya sendiri dengan sarung yang sudah tak melekat di tempatnya. Aisyah hanya mampu membeliakkan matanya.
"Malah kamu akan sering copy darat dengan si otong habis ini. Aku yakin kamu pasti ketagihan untuk sering-sering meeting dengan si Otong." tambah Bram dalam hati, cengengesan sendiri. Si mantan Playboy yang telah bertobat total ini tak bisa menahan diri untuk tak segera beraksi, menunjukkan keterampilannya.
"Tapi, Mas..."
Bram sudah menindih Aisyah, istrinya itu tak menyahut hanya kelopak matanya sedikit terbuka, seperti seseorang yang sudah tak berdaya ketika ciuman gelombang kedua menyerang.
__ADS_1
Bram tersenyum kecil melihat tingkah gadis yang sedang di bakar gairah itu, betapa lugunya dia, hanya di tuntun oleh nalurinya.
"Sekarang, bolehkah ini kamu lepaskan? ini terasa menganggu sekali." Bram berucap dengan suara seperti memohon, parau. Dia menunjuk pada pakaian Aisyah, dress panjang yang menutup rapat tubuh Aiayah dari leher hingga kaki.
Aisyah tertawa geli melihat tingkah Bram, lalu dengan kesadaran penuh dia menaikkan tubuhnya bertahan dengan kedua lengannya, memberi kesempatan Bram untuk menarik dress tidur panjang tanpa kancing itu.
Dengan malu-malu Aisyah mengangkat kedua lengannya ke atas saat dress itu di tarik Bram melewati kepalanya, sehingga tubuh mulusnya hanya tertinggal di balut bra warna cokelat muda dan sebuah penutup bagian bawah dengan warna senada.
Aisyah menutup tubuhnya dengan kedua tangannya dengan canggung, saat mata Bram melotot terpesona melihat keindahan tubuh istrinya itu.
Melihat Aisyah yang tampak malu-malu, Bram merengkuh tubuh itu kepelukannya.
"Aisyah malu." Bisik Aisyah hampir tak kedengaran.
"Sttt...jangan malu, aku ini suamimu dan kamu adalah istriku. Tak ada yang perlu kita sembunyikan antara kita. Kita adalah pemilik satu sama lain sekarang. Kita adalah satu, dan ibadah ini menyempurnakan penyatuan kita." Bisik Bram sambil memeluk Aisyah.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa." Bisiknya di kepala Aisyah. Sebuah doa seorang suami yang tulus, dia mendapat ilmu itu dari ustad yang memberi wejangan pernikahan pada mereka, bahwa setiap akan berhubungan suami istri, jangan lupa untuk tetap berdo'a. Doa yang di ucapkan sesaat sebelum berhubungan intim untuk menghindari gangguan setan. Bram benar-benar berharap tak ada ganggian lagi sekarang dari pihak manapun, entah setan atau manusia saat dia melakukan tugasnya bersama si Otong.
(Yeaaa...sudah dulu ya,๐๐๐ othor tarik nafas dulu๐ Ayok di VOTE dulu biar othor kasih lanjutannya, apakah otong boy berhasil berbuka puasa๐คฃ)
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full.......
Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis
__ADS_1