CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB. 96 ROUND AFTER SUBUH


__ADS_3

Aisyah terbangun, badannya terasa sakit semua, refleks matanya memicing cahaya lampu yang remang-remang dalam kamar itu tampaknya seseorang mematikannya sebelum dia tidur.


Sesosok tubuh memeluknya, dalam selimut. Aisyah nyaris menjerit karena terkejut. Tapi, kemudian dia segera beristiqfar. Sudah dua malam dia tidur satu kamar dengan suaminya tetapi tetap saja dia belum terbiasa dengan orang yang memeluknya.


Bram bergerak sedikit, tapi tampaknya dia terlelap. Aisyah sesaat termangu, ini adalah wajah orang yang selalu di sebutnya dalam tahajjudnya beberapa bulan terakhir. Wajah tampan suaminya itu tampak segar merona. Seperti orang yang baru saja mendapatkan apa yang dia inginkan.


Sebenarnya badan Aisyah masih terasa pegal luar biasa, membuatnya enggan bergerak tetapi suara adzan membangunkannya. Dia beringsut, lalu dengan wajah merona sendiri dia menyadari tubuhnya hanya mengenakan pakaian dalam saja. Satu malam ini Bram telah membuatnya hampir-hampir tak punya waktu memejamkan matanya.


"Hffffs..."


Aisyah mengangkat lengan Bram dari atas dadanya, berusaha keluar dari pelukan Bram tanpa membangunkannya. Mata Aisyah sebenarnya cukup berat, dia mungkin hanya sempat tidur satu dua jam, Bram benar-benar membuatnya kewalahan di malam pertama. Dia awalnya merasa sakit, entah mengapa menjadi ikut sangat menikmati, karena Aisyah mengakui Bram benar-benar piawai membuatnya ketagihan setiap cumbu@n suaminya itu.


"Sayang..."Bram menggeliat dan membuka matanya. Tangannya menarik lengan Aisyah yang hendak turun dari tempat tidur.


"Mau kemana istriku? Kita belum selesai..." Suara serak Bram membuat Aisyah melotot.


"Hahhh..." Aisyah melotot.


"Belum selesai apanya?" Lutut Aisyah gemetar mendengar ocehan Bram yang setengah mengantuk itu.


"Astaga sayang, wajahmu sampai ketakutan begitu." Bram tertawa, sekarang matanya membuka sempurna.


"Agh...mas Bram." Aisyah menutup wajahnya dengan tersipu, pagi-pagi Bram sudah menggodanya.


"Kamu mau lagi?" Goda Bram


"Eh, kita harus bangun sekarang." Aisyah menggigit bibirnya salah tingkah.


"Tapi tadi malam kamu terus nagih, lho. Mas Bram...mas Bram...lagi...begituuu"


"Haaaaaah...Aisyah bilang begitu?" Aisyah menutup mulutnya dengan mata bulat karena malu. Dia sungguh tak sadar kalau sampai mengatakan hal-hal seperti itu di perang m@lam pert@manya.


Bram tergelak, dia tak bisa menahan tawa melihat raut wajah Aisyah.


"Aku hanya bercanda sayang." Bram menarik istrinya itu hingga jatuh di dadanya, dia tak tahan melihat wajah Aisyah yang polos itu di rundung malu bukan main.


"Aku tidak bilang begitu, kan?" Aisyah mengerjap matanya meletakkan dagunya di atas dada Bram dengan tatapan seekor anak kucing yang memohon jawaban.


"Tidak sayang, mana ada kamu ngomong begitu. Kamu cuma..."


"Cuma apa?"


"Cuma...akh...biar cukup aku saja yang tahu."

__ADS_1


"Aaaaa....mas Bram jahat." Aisyah memukul dada Bram dengan gemas, tapi tidak keras.


Bram tertawa sumringah, sepagi ini rasanya hatinya sudah berbunga-bunga karena menggoda sang istri.


"Ayo bangun, aku mandi dulu. Kita sholat." Bisik Aisyah sambil melepaskan diri dari pelukan Bram.


Bram menyerah pasrah saat menatap punggung Aisyah yang hanya berbalut kain seadanya melenggang menuju kamar mandi.


Si Otong berkerinyutan dalam keadaan siap grak si dalam sarangnya.


"Hedeh, tong...sholat dulu napa?" Bisik Bram sambil beringsut. Si otong ini bener-bener tak tahu waktu setelah lama berpuasa.


***


Usai sholat Bram dan Aisyah sempat-sempatnya bercengkerama, Bram bermanja meminta Aisyah memijat pinggangnya yang katanya sedikit pegal dan itu berakhir dengan si otong yang bangun lagi.


"Astaga, aku harus mandi wajib lagi kalau begini." Aisyah memegang rambutnya yang masih lembab hanya di keringkannya seadanya untuk melaksanakan sholat subuh.


"Aku akan memandikanmu nanti." Tawar Bram, tangannya menjalar ke sana ke mari.


Dan ciuman Bram yang panas itu membungkam mulut Aisyah.


Setelah berp@gutan hampir tak saling melepaskan, keduanya menarik wajah mading-masing, mengatur nafas.


Mereka berdua berbaring saling berhadapan, saling memandang begitu dekat, sedikit tersengal karena ciuman Bram yang luar biasa panasnya itu. Bram benar-benar mengajari si pemula ini dengan baik. Aisyah tersenyum malu-malu di tatap sang suami seperti itu.


"Mas Bram jangan gombal!"Aisyah menyahut, bibirnya dimanyunkan begitu rupa, menutupi salah tingkahnya.


"Aku serius, kamu memang cantik, istriku sayang." Bram menyusuri bibir Aisyah dengan jarinya.


"Akh, mas Bram."


"Coba tanya otong kalau tak percaya."


"Otong itu siapa, sih? dari kemarin aku dengar otang-otong terus mas Bram? Jangan-jangan anak mas Bram yang lain?"


"Astagfirullahaladzim. Biar mantan duren begini, aku punya anak cuma Bella, lho " Bram hampir tergelak, baru pertama dia melihat Aisyah cemberut padanya.


"Tapi mas Bram tidak bilang si otong itu siapa?" Aisyah merengut, pura-pura ngambek.


"Lah, kamu sudah ketemu tadi. Semalaman kamu sama otong."


"Hah...!"

__ADS_1


"Sini tanganmu."


"Untuk apa?"


"Salaman sama otong." Jemari Aisyah di bimbing Bram ke balik sarungnya yang sudah berantakan tak jelas.


Dan Aisyah mendelik ketika tangannya bertemu dengan si otong yang di maksud, tegak seperti bersiap untuk upacara bendera.


"Aaaaa...otong bilang dia suka di belai istri." Bram merem melek dengan raut lucu.


"Aish, mas Bram...kirain otong itu siapa." Aiayah tentu saja jadi salah tingkah, kelakuan Bram memang aneh-aneh saja.


Dengan wajah memerah, Aisyah berusaha membebaskan diri dari pelukan Bram tapi tangan Bram malah semakin kuat mengait pinggangnya.


"Bagaimana kalau kita buka round after subuh?" Bram menahan tangan Aisyah untuk tetap berada di balik sarung.


"Beneran mas Bram mau lagi?"


"Iya, otong bilang yess."


"Otong apa mas Bram?"


"Ho'oh. Dua-duanya mau ." Mata Bram merem melek, Aisyah akhirnya menuruti keinginan Bram, dia tidak keberatan karena diapun mulai menyukai kegiatan barunya itu. Satu Round pendek dan mereka berdua menggelepar tanpa menyadari matahari telah terbit. Bram tertidur kelelahan dengan senyum lebar, dia puas membuat istrinya itu beberapa kali mencapai puncak di m@lam pertama.


***


Aisyah mengendap-endap turun ke bawah, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Dia sudajh mandi dua kali pagi ini gara-gara Bram.


Jam di dinding menunjukkan jam tujuh lewat sedikit , dia menggigit bibir, kesiangan untuk bisa mengantar Tito ke sekolah.


"Astagfirullah, masa iya Tito harus bolos gara-gara aku kesiangan. mas Bram membuat masalah untuk pagi ini..." Aisyah bingung sendiri belum lagi harus membuat sarapan mereka di jam sesiang ini


"Sudah bangun?"


Aisyah hampir terlonjak saat menuruni anak tangga terakhir.


"Astagfirullah!" Aisyah memegang dadanya, suara itu tak asing di telinganya.



(Maaf ya, othor sakit beberapa hari ini, jadi tidak UP😅🙏 Tapi berkat doa para readers sudah sehat nih, dan bisa mengantar Bram bertemu para pembaca kesayangan. Sepertinya akan segera tamat, ya karena cinta Bram telah bertemu setelah ditikung di sepertiga malam😅 tapi tetap ada ekstrapartnya kok nanti😅


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...

__ADS_1


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2