
"Bella sering berdiri di belakang pintu, kalau papa sedang berteriak pada mama." Matanya mengerjap sesaat, tanpa dosa dan mengharapkan jawab.
Aisyah sejurus menatap pada Bram. Dia terlihat sedikit terkejut dengan apa yang di dengarnya, meskipun dia tahu sedikit tentang kisah hidup Bram yang beberapa bulan lewat baru saja bercerai dengan istrinya dan dalam keadaan sedang berusaha bangkit dari keterpurukan tetapi dia sama sekali tidak tahu jika masalah penyebab perceraian mereka seperti apa.
"Bella, dia bukan Sally, dia Aisyah." Jawab Bram dengan pasrah, dia tidak mungkin memarahi Bella dengan pertanyaan yang tidak di sangkanya itu.
"Tante ini siapa lagi?"
Sekarang wajah Aisyah yang memerah, dengan canggung dia merapikan kerudungnya, benar-benar bingung mendengar pertanyaan polos anak itu meski bukan di tujukan padanya.
"Ini Tante Aisyah, teman papa." Jawab Bram dengan wajah pasrah. Dia tak bisa mencegah pertanyaan yang mungkin keluar dari bibir polos anaknya itu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
Abah dan Tito tiba, memecahkan ketegangan yang sempat tercipta antara mereka.
"Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" Bram dan Aisyah menjawab hampir berbarengan.
Suasana segera mencair, dan setelah obrolan santai itu, Bram dan Bella di bawa untuk makan malam bersama, masakan Aisyah dari siang tadi hasil berbelanja bersama Bram.
"Semua masakan Aisyah sangat enak." Puji Bram tanpa malu-malu.
Aisyah tersipu mendengarnya, dia menikmati bagaimana Bella begitu menikmati masakan Aisyah.
Tito pun cepat akrab dengan Bella, mereka tampak tak kalah serunya bercerita tentang dunia anak SD.
Abah tampak bahagia menceritakan bagaimana senangnya di ulang tahunnya kali ini dia bisa mengajak anak-anak, murid Aisyah belajar mengaji untuk makan bersama.
"Wajah riang anak-anak hari ini, seolah membuatku lebih muda lagi bertahun-tahun. Rasanya abah semakin bersemangat untuk terus sehat dan panjang umur supaya bisa melihat anak-anak itu tumbuh besar dan berahlak mulia di kemudian hari."
Bram tak bisa bohong, dia merasa begitu senang melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah abah.
__ADS_1
Betapa kebahagiaan itu sederhana bagi orang-orang yang sederhana, hanya melihat tawa dan lantunan doa dari anak-anak kecil sudah merupakan surga baginya.
Bram merasa betapa kecilnya cara untuk membuat orang lain menemui kebahagiaan, tak perlu uang berlebihan tak perlu pesta meriah, hanya melihat senyum di wajah anak-anak sudah cukup.
Malam tak terasa cepat beranjak, Bram merasa berada di dalam sebuah keluarga yang begitu penuh cinta.
...***...
Aisyah duduk dengan Bram, di beranda depan, dengan segelas teh setelah acara makan malam ulangtahun abah dengan sederhana. Dia hendak pamit tapi Bella merengek minta waktu sebentar lagi karena Tito sedang mengajarinya menulis tulisan Arab.
Abah sendiri masuk kamar, katanya dia ingin berbaring sebentar, punggungnya sakit seharian tak ada istirahat. Maklumlah tubuhnya sudah cukup tua, rentan dengan encok dan pegal linu.
Tito duduk di lantai dengan Bella tampak dia mengajari gadis kecil itu.
"Mas Bram, Bella tampaknya begitu protektif denganmu." Aisyah berucap, tiba-tiba.
Bram tertegun, gelas teh yang hampir sampai ujung bibirnya sesaat terhenti.
"Dia melewati masa yang sulit, tanpa pernah aku menyadarinya." Bram meneguk tehnya dengan berat, kerongkongannya terasa seret.
"Aku sangat mencintai anak-anak dari aku kecil, aku berharap melihat Faiq pada setiap anak, sehingga aku selalu ingin mencintai anak-anak." Suara Aisyah terdengar parau.
"Aku menemukan adikku di setiap muridku, anak yang ku ajari itu, karena itu aku selalu berharap setiap anak bahagia dan tak di sia-siakan dalam hidupnya."
Mata Bram tak berkedip menatap Aisyah, perempuan muda itu seketika nampak begitu dewasa di matanya.
"Mata Bella menyimpan luka yang dalam, mungkin ada goresan yang tak bisa kita lihat tanpa kita sadari. Dia begitu takut mengulang kesedihan yang sama saat melihat perempuan lain selain ibunya di sekitar ayahnya." Aisyah berkata dengan suara halus, mata itu tak beralih dari gadis kecil yang sibuk berceloteh di depan Tito itu.
"Apakah begitu dalam mas Bram menyakiti ibu Bella, sampai-sampai Bella terlalu takut untuk bertemu perempuan itu?" Pertanyaan Aisyah selanjutnya membuat Bram hampir tak bisa bernafas.
"Aku...aku telah menghancurkan rumah tanggaku, aku menyia-nyiakan iatri yang baik dan ibu yang sempurna dari anakku. Aku tak akan membela diriku dari itu." Bram menyahut dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Tahukah mas Bram, tempat yang paling di rindukan anak-anak adalah pelukan kedua orangtuanya?"
"Aku tahu..."
"Lalu kenapa mas Bram menghancurkan tempat itu?"
"Karena aku bodoh."
"Aku juga adalah salah satu korban dari ketidakpercayaan pada cinta, orangtua mungkin tidak benar-benar bercerai tetapi ayahku yang meninggalkan Ibuku. Tak ada bedanya sebenarnya kecuali menjadi sangat tragis untuk ibuku yang terlalu mencintai ayah." Aisyah menghela nafasnya suaranya dipelankannya, seolah tak ingin orang lain mendengar.
"Aku masih ingat bagaimana ayahku mengatakan bahwa dia mempunyai perempuan lain yang di cintainya selain ibuku, meski saat itu aku masih anak-anak dan belum begitu mengerti maksudnya, tetapi setelah ayahku mengucapkan itu, dia pergi tak pernah kembali. Ucapan itu membekas begitu dalam, dan ternyata pada saat dewasa ternyata begitu menyakitkan ketika ku mengerti."
Belum pernah Bram melihat Aisyah betbicara begitu banyak di depannya, dengan mata berkaca yang tak lepas dari Bella.
"Tetapi aku senang, melihat Bella baik-baik saja di luar rasa traumanya pada orang yang di anggapnya menghancurkan hati ibunya. Setidaknya mas Bram cepat menyadarinya. Mantan istri mas Bram aku yakin adalah perempuan yang luar biasa dari caranya membuat Bella tetap mencintaimu dengan begitu besar."
"Diah memang luar biasa..." Bram menyahut seperti bergumam pada dirinya sendiri.
"Hanya aku saja yang terlalu bodoh, kebodohan yang menutupi perasaanku padanya. Mataku tertuju pada perempuan lain yang kuanggap sempurna untukku sehingga melupakan seorang perempuan yang telah mati-matian berjuang untuk menjadi istriku." Bram sungguh tak malu mengakuinya.
Sejak mereka berdua menjadi lebih dekat hari ini, Bram tak menahan semua isi hatinya, meski mungkin jika di lihat sekilas, mereka terlalu cepat untuk menjadi akrab.
Sesaat mereka terdiam, Bram meraih gelas tehnya dan kemudian matanya tertuju pada bocah tampan yang tampak sedang serius mengajarkan sesuatu pada Bella di kertas.
"Dan...bagaimana bisa ayah Tito meninggalkan perempuan sebaik kamu, Aisyah?"
...***...
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...