CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 52. PESAN TERAKHIR


__ADS_3

Di ambilnya ponsel dari dalam saku celananya ketika dia melangkah keluar dari hotel, dia berniat untuk menelpon Aisyah menanyakan jalannya acara tahlilan tanpa dirinya.


Tetapi seketika matanya terpaku,


ada satu pesan masuk dari Aisyah!


"Assalammualaikum, mas. Jika mas Bram tidak sibuk, Aisyah tunggu mas besok di rumah, selepas ashar."


Bram membaca kata per kata, kalimat pendek yang di tulis Aisyah itu. Sungguh tak biasa, seorang Aisyah mengirimkan pesan padanya apa lagi mengajaknya bertemu.


Aisyah adalah gadis yang santun dan penuh tata krama, dia bahkan tak pernah menghubungi Bram selama ini untuk urusan ataupun kepentingan apapun meski dia mensave nomor Bram dari waktu abah masih ada.


"Ada apa Aisyah?"


Bram membalas pesan Aisyah itu kemudian dengan penasaran.


Semenit, dua menit dia menatap ke layarnya, pesan itu terconteng satu.


Tanda tidak terkirim.


Alis Bram bertaut tinggi, dengan ragu di tekannya kontak Aisyah, dia merasa perlu meneleponnya langsung. Dia cemas, ada sesuatu yang terjadi pada Aisyah.


Ponsel Aisyah sudah tidak aktif, dia mematikannya. Bram menghela nafasnya, melirik ponselnya, sekarang malam memang hampir larut mungkin, Aisyah mungkin sudah tidur. Bram menuju mobilnya dengan langkah bimbang, dia tak pernah menjadi tak sesabar ini untuk bertemu Aisyah.


...***...


Pagi baru saja naik, Bram sudah rapi. Dia mengenakan stelan kaos dan jeans rapi, wajahnya tercukur bersih. Dia tidak sedang ingin pergi ke kantor kecilnya di sebelah cafenya ataupun menjenguk beberapa toko bakery yang sekarang sedang dikelolanya dengan giat akhir-akhir ini.

__ADS_1


Tidak menunggu selepas Ashar, seperti yang di minta Aisyah, tetapi dia datang pagi ini dengan sedikit tak sabar. Sekarang juga akhir pekan, dia yakin Aisyah tak kemana-mana pagi ini.


Setelah memarkir mobilnya di halaman mesjid seperti biasa, dia berjalan menuju rumah Aisyah di belakangnya, lewat jalan yang tak seberapa lebar itu.


Rumah Aisyah sepi,


"Assalammualaikum..."


Bram mengetuk pintu.


Sepi. Tak ada jawaban.


"Assalamualaikum..." Ulang Bram lagi tetapi tak ada sahutan.


Dengan cemas Bram merogoh saku celananya, mencari ponselnya, entah mengapa degup jantungnya sedikit lebih cepat, fikirannya hanya tertuju pada wajah Aisyah yang menangis di pundaknya beberapa hari yang lalu, di depan makam abah.


"Waalaikumusalam Warahmatullahi Wabarakatuh..." Suara yang sangat di kenalnya berasal dari belakangnya, Bram berbalik dengan terkejut, terpaku, menatap Aisyah yang berdiri di sana sambil memegang sebuah keranjang yang berisi beberapa macam bunga dengan Tito yang berdiri memegang ujung kemejanya


"Maaf mas, aku dan Tito baru saja memetik bunga dari tempat mpok Mumun untuk kuburan abah, sekalian mengantar rantangnya tadi."


"Oh..."


"Kukira mas Bram datang sore nanti."


"Kebetulan aku tidak ada pekerjaan hari ini, jadi kufikir tidak ada salahnya datang lebih pagi." Kata Bram sambil mengambil sebuah tas berisi buah-buahan yang tadi di belinya dalam perjalanan.


"Terimakasih, mas sampai harus repot-repot bawa buah begini." Aisyah menyerahkan keranjang yang di pegangnya kepada Tito dan menyambut tas yang di angsurkan Bram padanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kebetulan tadi di jalan menuju sini banyak buah segar." Bram menyahut sedikit kikuk. Betapa dia merasa aneh, berhadapan dengan Aisyah lebih sungkan dari biasanya.


Aisyah membuka rumah dan mempersilahkan Bram masuk dan duduk di ruang tamu.


"Aku akan menunggu di luar saja, di tempat aku dan abah biasa ngobrol. Udara pagi terasa nyaman di sini." ucap Bram, sebenarnya dia sangat ingin masuk, tetapi dia ingat sudah tak ada lagi abah, tentu saja kehadirannya dalam rumah Aisyah menjadi sedikit tidak nyaman untuk Aisyah yang notabene seorang gadis.


Dia tak ingin menjadi fitnah untuk perempuan itu jika dia hanya berdua-duaan dalam rumah meski sebenarnya ada Tito, tapi dia hanyalah anak kecil.


"Oh, baiklah..." Aisyah menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.


"Maafkan tadi malam tak bisa datang ke tahlilan terakhir almarhum abah, aku sebenarnya sangat ingin datang tetapi..."


"Tidak apa-apa, aku mengerti." Aisyah menyahut cepat.


"Ada apa kamu memintaku kemari? Apakah kamu memiliki kesulitan?" Tanya Bram hati-hati sambil duduk di teras, menghadap meja yang biasa di hadapnya dengan abah saat dia mengobrol dengan abah sembari minum kopi setelah usai sholat subuh dan membantu abah membersihkan mesjid dengan abah.


"Oh..." Aisyah terdiam sesaat, memegang erat tas buah di tangannya.


"Aku hanya ingin menyampaikan pesan terakhir abah untuk mas Bram, selama ini aku belum menyerahkannya karena aku rasa belum tujuh hari abah. Jadi...sekarang aku rasa adalah waktu yang tepat." Aisyah menatap lurus pada Bram yang setengah mengangkat kepalanya membalas tatapannya.


"Pesan? abah mempunyai pesan untukku?" Tanya Bram dengan takjub.


Aisyah mengangguk, matanya mengerjap sekali.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya untuk mas Bram. Aku rasa abah sangat ingin aku memberikannya kepada mas Bram." Aisyah tersenyum dengan kepala sedikit menunduk sebelum kemudian masuk ke dalam rumah, menyusul Tito yang telah lebih dulu masuk dengan keranjang bunganya.


__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏...


__ADS_2