
Di genggamnya dengan perlahan jemari Aisyah yang terkepal gemetar itu.
"Karena...karena aku lah yang akan menjadi suaminya." Ucap Bram sambil menatap mata Aisyah dengan tatapan yang hangat dan lembut.
Aisyah seperti orang tersedak menatap Bram tak berkedip dengan mulut melongo, dia jelas terkejut dengan pernyataan Bram.
Orang lain yang berada di dalam rumah Aisyah mendengarnya tak kalah tercengang.
"Aku sudah berjanji untuk menjaga Aisyah dan Tito kepada abah, tidak sebagai walinya tetapi sebagai suaminya. Karena itu aku akan mencari ayah kandungnya supaya bisa melamar Aisyah dengan benar. Jadi, jangan memperlakukan Aisyah dengan tidak hormat lagi. Dia tidak yatim piatu, orangtuanya semua masih hidup dan..." Bram menggenggam erat tangan Aisyah.
"Dan...akulah yang akan bertanggungjawab atas dirinya. Karena itu aku akan melamar Aisyah untuk ta'aruf sampai aku menghalalkannya, semua yang hadir di rumah ini adalah saksinya." Lanjut Bram sambil mengedarkan pandangannya pada semua yang menatap mereka berdua dengan tercengang.
"Aisyah, bersediakah kamu untuk jadi pasangan ta'arufku?" Bram kembali menatap Aisyah, Mbak Retno yang duduk di sebelah Aisyah tak bisa menutup mulutnya karena terpesona pada Bram.
Aisyah yang masih terpana, nyaris tak mengerjap matanya, dia seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya sampai mbak Retno menggoyang bahunya.
"Syah...kamu di tanya itu, ayo di jawab...mau apa ndak?" Tegur mbak Retno.
"Oh...aku..." Aisyah tergagap dengan wajah merah dan mata yang masih sembab.
"Kalau kagak, nanti mpok yang jawab lho..." Bisik mpok Mumun setengah menggoda dari belakang punggung Aisyah.
"I...iya..." Aisyah menjawab gelagapan.
"Iya apanya?" Mpok Mumun menepuk punggung Aisyah.
__ADS_1
"Iya...iya...saya mau...eh, saya bersedia." Jawab Aisyah sambil menundukkan wajahnya tersipu.
Bram akhirnya menghela nafas yang di tahannya dengan gugup karena menunggu jawaban Aisyah.
"Terimakasih..." Bram tersenyum pada Aisyah terlihat lega, matanya berbinar tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Bagaimana bisa begitu? Aisyah adalah calon istri suamiku!" Bu Hasni langsung berdiri dengan kesal. Wak Agil diam saja, tapi terlihat wajahnya tak senang. Istri kedua wak Agil, perempuan berumur tigapuluhan dengan badan berisi itu menunduk. Beberapa orang lain beserta mereka tak bersuara.
Pak RT dan Bu RT serta tetangga dekat yang kebetulan berada di situ karena sedikit keributan tadi, tampak terpana, tak menyangka apa yang terjadi, ternyata malah Bram yang melamar Aisyah.
"Aisyah tak akan menjadi istri siapapun, kecuali menjadi istriku. Silahkan di hitung budi yang kalian anggap utang piutang itu, aku bersedia membayarnya supaya tak lagi menjadi beban balas budi untuk Aisyah. Aku akan menanggungnya..." Bram menatap tajam pada wak Agil dan istrinya.
...***...
Dan pak Ustadpun di panggil, akhirnya setelah mendengarkan ceramah dan pencerahan pak Ustad, keluarga Wak Agil meninggalkan rumah Aisyah, tetapi bu Hasni yang sudah kadung malu dengan Wak Agil berjanji membuat perhitungan bahwa Bram harus membayar beberapa kerugian Wak Agil karena sudah banyak berkorban untuk keluarga Pak Syarif selama ini.
"Astagfirullah wak, namanya membantu, sebenarnya tidak boleh di hitung-hitung. Tak baik mengungkit pertolongan kita di masa lalu. Memang sebagai manusia, sesuatu yang paling sulit untuk diluruskan adalah niat, karena begitu seringnya niat kadang berubah-ubah, tetapi alangkah mulianya jika kita mengedepankan rasa ikhlas. Memberi pertolongan tanpa pamrih. Setiap amalan atau ibadah yang kita lakukan, harus terdapat keikhlasan di dalamnya. Kalau kita masih menghitungnya, betapa jauh kita dari pahalanya."
Sayangnya, bu Hasni keukeh tetap menghitung bantuan mereka sebagai hutang karena menurut bu Hasni Aisyah telah mempermalukan keluarganya yang terpandang dengan menolak lamaran wak Agil.
Di rumah Aisyah kini hanya tertinggal Mpok Mumun, mbak Retno dan tentunya Bram.
"Memang kagak waras entu buk Hasni, kok ngotot banget ngawinin lakinye sama Aisyah. Aku mah ogah, masa ngelamar anak gadis buat laki sendiri! Bener-bener kagak habis pikir dah ame ntu orang." Mpok Mumun ngedumel panjang pendek.
"Lah, mpok aja yang ndak tahu, orang-orang kampung sudah pada tahu..." Sahut mbak Retno dengan pias julidnya, setengah berbisik.
__ADS_1
"Tahu apa?"
"Itu, si Wak Agil..."
"Wak Agil kenapa?"
"Mpok ndak curiga apa? itu wak Agil bisa kaya raya, duitnya ndak habis-habis tujuh turunan datangnya dari mana?"
"Dari mane?"
"Mpok kok jadi orang polos banget macam kertas ulangan ndak ada jawabannya."
"Memangnya kenapa?" Mpok Mumun melotot dengan antusias, khas gaya emak-emak ghibah.
"Dia ada pesugihan!"
(Akak kasih visual deh untuk mbak Retno si suka gosip, janda muda nan baik hati, teman baik Aisyah😆
Hari ini akak langsung double UP yaaaaa😁 siapa tahu ada yang khilaf langsung melemparkan bunga, kembang, kopi, silet untuk author☺️ Sayang selalu buat para readers)
...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏...
__ADS_1