CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 71. TAK TERGANTI


__ADS_3

Aisyah tertegun sesaat dan menarik tangannya dengan cepat sambil menyeka air matanya.


Dia kembali duduk dengan tegak, matanya tak lepas dari gerakan ayahnya.


"Dik Atifa..." Des4hnya lirih tanpa membuka mata.


Aisyah menggigit bibirnya, lidahnya terasa kelu.


"Ayah..." Bisiknya, telinganyapun hampir tak mendengar kata yang keluar dari mulutnya. Akhirnya hati Aisyah luluh juga. Dia teringat kata-kata Bram tadi sebelum dia pamit pulang beberapa saat yang lalu.


"Jagalah ayahmu baik-baik sampai dirinya sadar, satu harapan abah adalah kamu bisa bertemu dengan ayahmu." Bram memegang tangan Aisyah dengan lembut.


"Bersyukurlah kamu masih di beri kesempatan melihat ayahmu lagi. Jangan menoleh kebelakang jika itu membuatmu sakit, dosa dan salahnya adalah urusannya dengan Tuhan, kamu hanya tahu seburuk apapun dirinya, beliau adalah orang yang kamu panggil ayah di dunia ini. Meski kamu ingin membasuhnya dengan air emas ataupun air mata darah tak ada yang bisa mengganti panggilan itu. Ayahmu tak akan terganti. Maafkanlah dia, kamu tak tahu apa yang telah dilewatinya, hingga akhirnya bisa bertemu lagi denganmu."


Aisyah menangis sejadi-jadinya di pelukan Bram, laki-laki itu telah membuatnya benar-benar tak punya alasan untuk terus menghitung setiap kesalahan ayahnya.


"Bersyukurlah jika Tuhan mengembalikan ayahmu sekarang padamu, karena Tuhan tahu memberi apa yang kamu butuhkan bukan apa yang kamu inginkan. Hitung dan kumpulkanlah rasa syukurmu sebagai kekuatan untukmu untuk bisa memaafkan orang lain khususnya ayahmu. Memaafkan mungkin tak selalu mudah tapi memaafkan akan membuat segala sesuatunya lebih mudah."


Aisyah tak tahu bagaimana cara dirinya bisa bersyukur bertemu dengan Bram, seorang laki-laki yang disayangi abah meski ditariknya dari lumpur kemaksiatannya. Dan abah telah berhasil mengajari Bram dengan baik, taubat orang berdosa ternyata lebih indah dari cerita.


"Isah..." Panggilan itu menyadarkan Aisyah dari lamunan sesaatnya, matanya tertuju pada sang ayah, yang mata cekungnya terbuka dengan air yang menggenang di sana.


"Ayah, aku memaafkanmu." Bisiknya dengan suara yang serak. Tangannya terkepal menahan tangisannya sendiri.


"Abah pernah bilang, jika aku bertemu dengan ayah di suatu masa, aku harus memaafkan ayah karena Allah menyukai seseorang yang berhati lembut dengan begitu aku telah bertawakal kepada Tuhan." Ucap Aisyah lirih.

__ADS_1


"Maafkan ayah, Aisyah. Sungguh ayah telah sangat berdosa..." Bibir Faraz gemetar, suaranya seperti tersedak.


Aisyah menundukkan wajahnya, dengan perlahan di raihnya jemari sang ayah.


"Ayah tak perlu meminta maaf lagi, aku tidak marah lagi pada ayah, aku tidak akan menanyakan kenapa ayah pergi lama sekali. Aku tak akan mengatakan lagi kalau aku membenci ayah. Aku sungguh memaafkan ayah..."


Aisyah membungkuk dan mencium punggung tangan ayahnya, airmatanya tumpah tak bisa di tahannya lagi. Sepuluh tahun yang lalu dia terakhir mencium tangan ayahnya itu, rasanya tetap sama, begitu hangat.


Air mata Aisyah jatuh membahasi punggung tangan ayahnya, rasa haru menyeruak sampai tumpah.


Faraz tak bisa menahan tangisnya, dia berusaha bangun untuk duduk tapi dia tak bisa melakukannya, tubuhnya lemah tak bertenaga karena tangisannya sendiri.


"Isah, jika kamu dan ibumu mengutukku, aku akan menerimanya, aku ridho." Faraz sesenggukan dengan posisi berbaring.


"Tak ada anak yang bisa mengutuk orangtuanya, sesalah apapun orangtua mereka. Di sisa hidupku, aku hanya ingin berdoa untuk ayah, supaya Allah mengampuni kita semua." Aisyah tak pernah merasakan nafasnya selega ini, semua kesesakan yang di simpannya bertahun-tahun seolah menguap seperti embun di terik pagi.


"Isah, ayah tak tahu harus mengatakan apa padamu...bagaimana cara ayah membayar setiap rasa sakit yang telah ayah buat padamu...?"


"Ayah tak perlu membayarnya dengan apapun." Sahut Aisyah dengan suara tegas.


"Cukup do'akan aku bahagia di kemudian hari dan...doakan ibu kembali sembuh seperti sedia kala..."


Tangis Faraz pecah, sesungguhnya berat menerima maaf saat kita merasa dosa kita hampir tak termaafkan. Dan Faraz merasakannya, seolah dadanya tertumbuk batu.


"Isah..." Dia bangun sekuat tenaga dan memeluk Aisyah yang duduk di pinggir tempat tidurnya.

__ADS_1


Air mata seorang ayah, yang dipenuhi kerinduan tapi terpasung kesalahan. Dia hanya menumpahkan rasa sesal yang membuatnya hampir tak bisa bernafas.


"Ayah sangat rindu...demi Tuhan ayah hampir mati menahan rindu untuk memelukmu." Faraz seperti anak kecil tersedu sambil memeluk gadis yang kini menjadi dewasa oleh waktu dan penderitaannya.


"Hanya saja..." Aisyah berucap di sela isaknya yang tertahan


"Kenapa ayah tak pernah mencariku jika ayah merasa rindu? Ayah tahu, bahkan ibu menjadi gila karena merindukan ayah."



...Aisyah...


"Sesungguhnya, semua agama mengajarkan yang baik, tak ada agama yang mengajarkan tentang kejahatan. Semua kembali kepada orang yang punya diri dan masing-masing pribadi. Agama manapun tak ada yang membenarkan tentang perzinahan ataupun kejahatan apapun yang menyakiti orang lain."


Penulis mencoba menciptakan tokoh dengan sejuta karakter, sifat dan latar belakang untuk keberagaman dalam cerita🙏☺️


Cerita ini murni fiktif dengan harapan memberi kita pembelajaran tentang hidup, karena belajar tak harus dari kenyataan tetapi bisa dari semua hal termasuk dari sebuah imajinasi🙏Salam toleransi🙏🤗🤗



...Bram...


YEAY...DETIK2 AISYAH DI LAMAR DAH DEKAT YA😅😅😅 PANTENGIN TERUS🤭


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......

__ADS_1


...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis😂...


__ADS_2