CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 36. RINDU TERPENDAM


__ADS_3

"Aku akan kembali nanti, aku takut menjadi fitnah untukmu jika..."


"Abah berpesan kemarin, jika mas Bram datang...beliau ingin bicara dengan mas Bram..."Aisyah memotong kalimat yang di ucapkan Bram.


Bram yang sudah berdiri, tertegun mendengar apa yang di ucapkan Aisyah.


"Abah? Ingin bicara? Ada apa?" Tanya Bram spontan


Aisyah menggelengkan kepalanya dan berdiri dari duduknya.


"Aku akan membuatkan kopi untuk mas Bram, tadi aku baru saja membuat nagasari." Dengan wajah sedikit menunduk Aisyah berbalik dan berlalu ke belakang tanpa menunggu persetujuan dari Bram.


Bram duduk kembali, dia terlihat sedikit bingung tetapi kemudian nenghela nafasnya perlahan, menyandarkan punggungnya ke belekang kursi kayu itu, tempat yang biasa di dudukinya ketika bertamu dan berbicara dengan abah.


Kurang dari sepuluh menit, Aisyah muncul dengan nampan yang di atasnya secangkir kopi dan sepiring kecil kue yang di bungkus pisang, kue nagasari, kue yang tak pernah di cicipi Bram.


"Aku akan melihat abah, aku akan memberitahukan padanya kalau mas Bram sudah datang." ucap Aisyah sambil meletakkan cangkir kopi yang terlihat mengepulkan asap tipis itu tepat di depan Bram.


"Tidak usah membangunkan beliau, aku bisa menunggu sampai abah bangun." Sahut Bram. Aisyah menatap ragu ke arah Bram, kemudian menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Kecanggungan menyeruak, mereka berdua tak tahu harus memulai dari mana karena hanya berdua saja adalah hal yang cukup langka bagi keduanya.


"Tito mana?" Tanya Bram, berbasa-basi.


"Tito sekolah hari ini, tadi ku titipkan dengan mpok Mumun, sekalian mpok Mumun mengantarkan anaknya ke sekolah."


"Oh."


Sesaat hening, Bram meraih cangkir kopinya, dia tak tahu harus membicarakan apa lagi dengan Aisyah.

__ADS_1


"Mas Bram kemana saja? Lama tak kemari?" Akhirnya Aisyah tak tahan untuk tak bertanya, satu pertanyaan yang berusaha di tahannya berhari-hari ini.


"Aku...aku...hanya sedikit sibuk saja, ada pekerjaan yang tak bisa ku tinggalkan." Jawab Bram sembari meniup kopinya yang panas itu.


"Mas Bram bertemu mbak Diah?" Pertanyaan itu pelan saja tetapi membuat Bram mengurungkan niatnya untuk meneguk kopinya.


"Tidak...aku tidak bertemu dengannya." Jawab Bram dengan tegas. Seolah menegaskan kalimat itu pada dirinya sendiri.


"Kenapa?" Tanya Bram kemudian sambil menyeruput kopinya sedikit, masih sangat panas, sehingga cangkir itu di letakkannya kembali ke atas meja.


"Aku hanya melihat, mas Bram tampak lebih kusut dari biasanya." Aisyah mengangkat wajahnya, memberanikan diri melihat ke arah wajah Bram.


"Oh, mungkin hanya karena kurang tidur saja. Beberapa hari ini terlalu sibuk." Dalih Bram sambil berusaha tersenyum.


"Memangnya apa hubungannya dengan Diah?" Bram terkekeh.


Bram terdiam, lidahnya terasa kelu, dia tak bisa berkata apa-apa, seolah Aisyah menjadi cenayang atas hatinya yang sedang tak menentu itu.


"Mas Bram masih mencintai mbak Diah, karena itu mas Bram terlihat sedih. Jika berpisah membuat mas Bram merasa terluka, kembalilah." Mata Aisyah yang lugu itu berbinar polos.


"Aisyah, semua tak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Diah tak mungkin kembali." Bram berkata dengan nada parau.


Aisyah tak berkedip menatap pada Bram, ada sesuatu yang aneh berkelebat di matanya yang sebening telaga itu.


"Diah telah menemukan seseorang yang akan membuatnya bahagia dunia dan akhirat." Lanjutnya sambil tersenyum, senyum yang sungguh berat.


Aisyah terlihat terkejut mendengar ucapan Bram.


"Diah sudah menemukan penggantiku, untuk kembali padanya tak ada jalan lagi." Bram menghela nafasnya perlahan.

__ADS_1


Aisyah terpekur sesaat, seakan begitu sulit dia mencerna apa yang di dengarnya.


"Aku melihat cinta yang besar di mata mas Bram pada mbak Diah..."


"Kenapa Mas Bram membuat kesalahan yang begitu besar mengkhianati mbak Diah? tahukah mas Bram, mas telah melukai diri sendiri sekarang?" Kalimat itu di ucapkan dengan suara bergetar, terdengar pelan.


Aisyah tak pernah begitu dalam membicarakan tentang Bram dan perasaannya, hal ini membuat Bram menyadari Aisyah ternyata mengenal dirinya lebih dari yang dia tahu.


"Aisyah..."Mata Bram terasa memanas, tak pernah ada orang yang mengerti perasaannya seperti halnya Diah mengerti dia.


"Uhuk!" Suara batuk abah dari kamarnya terdengar membuat Bram terdiam.


"Isah..." Suara panggilan abah terdengar, sayup-sayup dari balik dinding.


"Abah sepertinya sudah bangun," Aisyah beranjak dengan wajah merah seolah dia baru tersadar, terlalu berharap Bram mengatakan sesuatu padanya. Menenangkan rindu yang aneh, yang di rasakannya beberapa waktu di belakang, yang dipendamnya dalam diam.


Saat Aisyah masuk ke bilik kamar Abah, Bram menatap punggung Aisyah dengan nanar.


"Ada apa dengan hatiku, Aisyah? Kenapa aku meratapi cintaku yang terlambat pada Diah tetapi begitu tenang saat menatap wajahmu itu? Perasaan apakah ini ya, Allah? " Bathin Bram.


"Mas, masuklah...abah ingin bertemu mas Bram." Aisyah keluar dengan ekapresi datar, memberi isyarat dari gerak tubuhnya agar Bram mengikutinya masuk ke kamar Abah.



(Double UP ya malam ini, nantikan lanjutannya, beberapa jam lg, mak Othor bikin mie dulu modal nulis ๐Ÿ˜…)


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2