
Selama satu bulan setelah hari di mana Bram menerima wasiat abah, Bram dalam kebimbangan. Dia telah mendapat informasi tepatnya alamat Faraz, ayah Aisyah dari orang yang selama ini di bayarnya untuk melacak keberadaan Faraz.
Pertemuannya Bram dengan Aisyah memang tidak seintensif dulu, tetapi Bram sangat perduli pada Aisyah. Bukan karena dia tak ingin bertemu Aisyah, hanya saja dia merasa harus menjaga marwah Aisyah di depan semua orang.
Jika dia terlalu sering datang, takut menjadi fitnah bagi Aisyah. Gadis itu adalah puteri dari orang yang sangat di hormati di kampungnya, seorang guru mengaji yang santun.
Beberapa kali Bram ingin memberikan bantuan finansial untuk meringankan hidup Aisyah selepas meninggalnya abah, tetapi Aisyah dengan tegas menolaknya.
"Tidak mas, aku masih bisa menghidupi diriku dan Tito dari honorku sebagai guru mengaji dan kadang-kadang mendapat upah dari membantu panen ikan di tempat Wak Agil." Tolak Aisyah.
"Ya, aku tahu...tetapi aku ingin membantumu dan Tito, menambahkannya dengan sedikit pemberian dari hasil rezekiku. Bukankah abah telah menitipkanmu dan Tito padaku?"
"Menitipkan, bukan berarti mengambil alih tanggung jawab. Abah mungkin hanya ingin memastikan saja, kami baik-baik saja. Bukan berarti mas Bram harus menanggung hidup kami." Tolak Aisyah.
"Tapi..."
"Masih banyak yang lebih memerlukan uang ini, sedekahkan pada anak yatim terlantar dan orang-orang tua yang sudah tak lagi mampu bekerja. Untuk aku dan Tito, insyaaallah aku masih sehat dan memiliki tubuh yang kuat untuk menghidupi kami berdua. Alhamdulilah kami berdua belum kekurangan apapun sampai saat ini."
Aisyah benar-benar keras kepala menurut Bram, dulu saat dia masih tenggelam dalam dunia maksiat, rasanya tidak ada satupun perempuan yang di kenalnya menolak uang atau apapun materi pemberiannya.
Karena itu dalam dua minggu, Bram hanya mengunjungi Aisyah satu kali sekalian melepas rindu sholat jumat di mesjid tempatnya bertemu abah.
Bram sudah merencanakan, selepas sekolah Dasar akan menyekolahkan Tito di sekolah yang sama dengan Bella puterinya, sekolah terbaik dengan fasilitas lengkap.
Abah menitipkan Aisyah dan Tito padanya, tetapi dia bingung sendiri bagaimana menjaga keduanya, Aisyah adalah gadis mandiri dengan harga diri tinggi, tak mudah membuatnya menerima pemberian orang dengan percuma. Selain itu
Dia sangat menghormati Aisyah tetapi diam-diam suka merindukan gadis itu.
Kadang-kadang Bram menghubungi Aisyah lewat telpon atau chat jika dia tak bisa menahan rindunya. Hanya berbasa-basi saja.
__ADS_1
Tapi itu sebelum dia melihat bagaimana seorang Aisyah terlihat menahan amarah padanya beberapa hari yang lewat,
"Aku akan menemukan ayahmu segera dan membawa padamu. Aku hanya memastikan identitasnya cocok, untuk tempat tinggalnya aku sudah..." Itulah yang di katakan Bram pada Aisyah, seketika membuat Aisyah mengangkat kepalanya.
"Bukankah kita sudah membahas hal ini, mas? Mas Bram tak perlu lagi repot-repot mencarikan ayahku." Tukas Aisyah dalam suara yang tajam.
"Aisyah, aku telah berjanji..."
"Berhentilah mencari ayahku mas Bram." Bram masih mengingat mata bulat Aisyah setengah menghardik, sesuatu yang tak pernah di lihatnya dari sikap Aisyah selama ini. Dia terlalu lemah lembut untuk membentak orang.
"Aisyah...?"
"Aku sudah mengatakan berulangkali, aku tidak merasa harus untuk bertemu dia."
"Tapi...abah mau aku..."
"Abah sudah tiada mas Bram, yang ingin bertemu ayahku adalah abah bukan aku. Hatiku tidak sekuat abah yang akan tersenyum melihat kebahagiaan ayahku bersama istri barunya dengan anak-anaknya! Aku bahkan tak tahu apakah yang terjadi setelah bertemu dengannya, apakah aku membencinya atau tak punya perasaan lagi padanya! Aku bukan malaikat mas Bram, aku hanya Aisyah, dengan ibu yang terganggu jiwanya karena pengkhiatan ayahku, aku hanya manusia biasa!"
Aisyah tak lagi mencoba menghubungi Bram dalam seminggu ini. Begitupun Bram, dia merasa begitu canggung untuk mengganggu Aisyah yang terlihat begitu marah saat Bram membicarakan ayahnya.
...***...
Malam ini, Bram sedang menatap langit yang temaram karena mendung, tak ada satu bintangpun yang kelihatan. Sepertinya hujan akan turun tengah malam ini jika menilik cuaca.
Bram sedang menjenguk rumah tinggalnya dengan Diah dulu, meskipun Bram sudah mengatakan rumah itu untuk Bella dan Diah tetapi Diah bersikeras mengatakan bahwa Bram boleh tinggal di sana sampai Bella dewasa. Diah sendiri sejak keluar dari rumah itu setelah perceraian mereka tak sekalipun menjejakkan kaki di sana. Bram tahu ada trauma yang di alami mantan istrinya itu dengan sejuta kenangan di rumah itu.
Akhirnya, Bram memutuskan satu kali dalam sebulan akan tidur di rumah itu selama beberapa malam, sekaligus membayar gaji Bi Irah dan Mang Diman suaminya yang setia menjaga dan merawat rumah itu.
"Mang..." Bram menoleh pada lelaki separuh baya yang sedang memperbaiki salah satu lampu taman di pekarangan belakang dimana Bram sedang duduk di terasnya.
__ADS_1
"Ya, pak..." Mang Diman menghentikan aktifitasnya. Dia telah mengganti bohlamnya dengan yang baru. Sisanya, memasangkan penutup lampu yang sebesar bola itu.
"Apakah aku salah jika...jika aku merindukan seseorang?" Tanya Bram, tiba-tiba, seakan-akan bertanya pada dirinya sendiri.
"Rindu? Bapak merindukan siapa?" Tanya Mang Diman dengan raut bingung, pertanyaan majikannya yang aneh itu membuat alisnya bertaut tinggi.
Bram diam tak menyahut, dia ragu menjawabnya.
"Bapak sedanh rindu sama ibu?" Tanya mang Diman ragu-ragu, kemudian segera menutup mulutnya. Dia tak enak melihat perubahan yang mendadak di wajah majikannya itu.
"Itu tidak mungkin lagi, mang. Ibu sudah bahagia dengan suaminya yang baru." Bram berusaha tertawa meski garing seolah pertanyaan mang Diman adalah sebuah lelucon.
"Lantas bapak merindukan siapa?" Mang Diman tak tahan untuk tak bertanya lagi, dia terlihat penasaran.
"Rindu pada seorang perempuan."
"Ya, iyalah Pak, masa rindu pada laki-laki." Kelakar mang Diman, kumisnya bergerak-gerak karena dolia menyeringai lucu.
"Tapi apa pantas, ya? Aku merindukan perempuan sebaik dia untuk orang seburuk diriku?" Pertanyaan itu terdengar sumbang, sambil melirik ekspresi bengong mang Diman.
"Semua orang tak di larang untuk rindu pak. Wong aku rindu tiap hari sama Irah, lho." Mang Diman nyengir.
"Tapi ini berbeda..." Wajah Bram menjadi serius.
"Aku telah lancang menyimpan rindu pada seorang gadis yang dititipkan orangtua sekaligus guruku untuk kujaga, tetapi aku malah...malah telah jatuh cinta padanya?"
(Yuk, di voting dulu mumpung senin ya😅 hari ini akak crazy UP ya...Biar akak tambah semangaaaaaaat menulis lanjutannya🤣)
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏...