
Saat sholat jumat itu selesai, Bram berdiri dan menghampiri abah karena melihat Abah yang tiba-tiba bersujud menghadap ke arah kiblat.
"Abah?" Bram menyentuh bahu laki-laki itu, yang diam membisu tetap takzim dalam sujudnya.
Tubuh itu tak bergerak. Bram mengernyit dahinya, entah mengapa dia merasa gugup sekali, dia takut mengganggu sujud abah tapi ini sudah terlalu lama.
"Abah?" Panggil Bram sedikit keras meski dalam nada ragu, beberapa orang yang berdiri menahan langkahnya menoleh kepada Bram dan abah.
Bram bisa saja menunggu abah menyelesaikan doanya, hanya saja, orang-orang sudah hampir sebagian keluar dari mesjid namun abah masih saja dalam sujudnya hampir 10 menit tanpa bergerak.
Bram sekarang benar-benar menjadi cemas, dia duduk di samping abah, saat Bram memegang bahu abah lagi, tiba-tiba tubuh ringkih itu jatuh ke samping. Terbaring dalam keadaan meringkuk sujud. Dengan mata yang terpejam, raut wajah tenang dan senyum yang lekat.
Abah terdiam, seperti orang yang sedang tidur dalam mimpi yang indah.
Bram terkejut dan langsung menangkap tubuh tua abah, beberapa orang mendekat melihat Bram mendadak menjadi panik memanggil-manggil abah, termasuk khatib yang segera bersimpuh memeriksa keadaan pak Syarif.
Dan...
"Innalillahiwainnailaihiroji'un..." Ucapan itu terdengar pertama kali di telinga Bram membuatnya merinding, dan saat kata itu di ucap bersahutan Bram menjadi sesak nafas, rasanya semua seperti mimpi.
"Abah? Aku akan panggilkan dokter! Sebentar!!" Bram menahan tangan beberapa orang yang hendak memegang tubuh abah. Dia mengangkat tubuh abah ke pamgkuannya, memeluk tubuh yang terasa masih hangat itu.
__ADS_1
"Pak, beliau sudah meninggal..." Khatib yang tadi berceramah menepuk bahu Bram, wajahnya terlihat menyesal dan kehilangan.
Bram terpaku, ponsel di tangannya jatuh, dia tadinya dengan gemetar mencoba mencari nama dokter yang menangani abah. Dan sekarang tangannya bahkan tak kuasa memegang ponselnya sendiri.
"Periksa lagi, pak...! Tolong periksa lagi, tadi abah baik-baik saja."
Seorang dari makmum yang mengikuti sholat itu kebetulan sepertinya seorang dokter, dia bersimpuh dan memeriksa dengan seksama, mengecek denyut nadi abah, meletakkan telunjukknya di depan hidung, memeriksa pupil matanya.
Wajah Bram tegang menunggu saat laki-laki setengah baya itu meraba area leher, tepatnya pada arteri karotis dengan meletakkan jari tangan pada leher bagian tengah atau samping bawah jakun abah.
Kemudian dia menoleh pada Khatib dan Bram, dan menggelengkan kepalanya.
"Beliau benar-benar sudah meninggal, sepertinya terkena serangan jantung. Kalau ingin memastikannya kita bisa membawanya ke rumah sakit."
"Kami mengenal baik pak Syarif, beliau adalah orang yang sangat baik, orang yang rendah hati dan mencintai Allah. Insyaallah, almarhum meninggal dalam keadaan yang Husnul khotimah. Mari kita urus bersama jenazah beliau, kita iklaskan kepergiaannya menuju til jannah, menuju pencipta yang selalu di rindukannya. Beliau telah pergi dalam damai" Kalimat itu terdengar syahdu dan lembut, menenangkan hati orang yang mendengarnya.
Bram tertegun, dia masih shock dengan apa yang di dengarnya. Seolah tak percaya, baru saja beberapa saat yang lalu dia ngobrol dengan abah, mendengarkan suaranya dan sekarang dia terbaring kaku di atas sajjadah.
"Bagaimana mungkin abah meninggal? Dia baru saja mengatakan, minta di temani sampai matahari tenggelam di ufuk barat." Bram menelan ludahnya seolah tak percaya, dia sungguh tak pernah mengalami keadaan seperti ini. Kepalanya terasa kosong, dia bingung dan sesak dalam waktu bersamaan.
"Kita harus membawa jenazah beliau pulang dan memandikannya..."
__ADS_1
Entah apa lagi kalimat yang di ucapkan orang, Bram tak lagi bisa mendengarnya dengan jelas lagi, hanya bisa membiarkan orang-orang mengerumuni dirinya dan jenazah abah.
Lantunan Doa terdengar dari bibir orang, betapa abah telah meninggal di hari yang sangat mulia, di tempat yang sangat di cintainya, rumah ibadahnya kepada Allah dan dalam keadaan dia bersujud. Abah yang lembut hati itu meninggal dalam posisi menyembah Allah, dalam keadaan menghamba dan tunduk pada Allah melalui sujud dalam sholat ataupun sujud dimana dia sedang tunduk pada penciftanya, adakah yang melebihi dari kemuliaan meninggalnya abah?
Bram bukan tak ikhlas dengan perginya abah, tetapi penyesalannya begitu dalam karena belum mengabulkan keinginan abah untuk bertemu Faraz, suami dari adiknya, ayah Aisyah!
"Aisyah...bagaimana dengan Aisyah...?" Bibir Bram bergerak. Sekelebat wajah Aisyah muncul di kepalanya.
Dia terpaku seperti patung, badannya gemetaran, dia tak tahu bagaimana harus memberitakan ini pada Aisyah.
Gadis malang itu akan betu-betul kehilangan orang yang menjadi pegangannya jika abah pergi.
"Ya, Allah, kenapa Engkau memberikan ujian sebesar ini kepada Aisyah? Bagaimana bisa Engkau memanggil orang yang paling di cintai Aisyah di dunia ini?"
(Aaaa...maafkan othor, tapi abah telah menyelesaikan pertandingannya di dunia ini, Tuhan memanggilnya dengan cara terbaik karena abah adalah orang yang baik dalam kesabarannya. Tempat orang-orang yang sabar dan tak pernah mengeluh dalam ujian adalah surganya Allah🙏🤗
Ada maksud indah dari Tuhan kenapa abah harus meninggal sebelum bertemu Faraz dan di balik kematiannya di pelukan seorang pendosa yang dalam perjalanan taubatnya seperti Bram, percayalah novel ini akan tetap mencoba memberi nilai-nilai pisitif tentang kehidupan kepada pembaca 🙏🤗
Jangan marah ya, kalau mak othor membuat abah harus meninggal🙏😅)
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
__ADS_1
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏