
(Hari ke-7 setelah meninggalnya pak Syarif)
Aisyah berdiri di depan teras rumahnya, tetangga-tetangga baru saja pulang.
"Kamu yakin aku tidak perlu menemani kamu, Syah?" mbak Retno menatap Aisyah. Wajahnya tampak pucat di bawah cahaya lampu teras yang temaram.
"Aku tidak apa-apa, mbak. Kalau mbak Retno mau pulang, tidak apa-apa. Aku dan Tito sudah bisa saling menjaga. Kami tak bisa merepotkan mbak Retno atau mpok Mumun terus. Abah sudah tiada. Kami hanya harus terbiasa dengan itu." Jawab Aisyah, tegas.
"Aisyah, kami hanya ingin memastikan kamu tidak apa-apa. Kadang kala kesedihan dan kehilangan membuat orang lupa harus melanjutkan hidup." Mbak Retno memegang jenari Aisyah yang menggengam erat tasbih di genggamannya.
"Abah pernah bilang, hidup dan mati seseorang hanya atas ijin Allah. Tak benar jika kita berusaha memaksa Tuhan merencanakan sesuatu atas hidup kita, siapalah aku yang berusaha menahannya dengan kekerasan kepalaku? Apa yang bisa kulakukan, mbak kecuali mengirimkan abah alfatehah? Jangan cemaskan aku, percayalah, aku tak akan menjadi ingkar karena kesedihan. Abah hanya kembali kepada pemiliknya. Meski sebenarnya semua orang juga akan menuju tempat yang sama, tetapi abah hanya lebih dulu saja. Dan...dan aku, belum menyelesaikan pertandinganku di dunia, karena itu aku tak akan merugikan diriku sendiri hanya karena kesedihanku. Aku tak akan melakukan apapun yang tak di sukai Allah." Betapa panjangnya kalimat itu di ucapkan Aisyah seperti sebuah kekuatan yang berusaha dibangunnya untuk dirinya sendiri, tepatnya sebuah penghiburan untuk jiwanya dan membuat mbak Retno atau siapapun tak lagi mengkhawatirkannya secara berlebihan lagi.
"Syukurlah jika begitu, akhirnya aku bisa tenang mendengarnya. Aku hanya takut saja kamu merasa sendiri menghadapi semua ini..."
"Aku tidak merasa sendiri, mbak. Ada Tito, ada Allah yang menjagaku dan mbak Retno serta yang lainnya yang telah begitu perduli padaku. Aku sudah tidak takut lagi." Aisyah tersenyum, matanya berbinar di bawah lampu terasnya.
"Aisyah, jika kamu memerlukan sesuatu, kamu bisa menghubungiku kapan saja." Mbak Retno menepuk bahu Aisyah lembut.
Aisyah mengangguk dan memeluk mbak Retno.
"Tentu saja mbak, setelah ini aku pasti akan sering merepotkanmu dan yang lain." Aisyah terkekeh kecil, tawa yang seakan meyakinkan perempuan yang juga adalah temannya itu, bahwa dia baik-baik saja.
__ADS_1
Mbak Retno balas tersenyum penuh haru, lalu membalikkan badannya sambil memeluk qur'an kecil di tangannya yang di bawanya untuk bersembahyang malam ketujuh kepergian abah tadi.
"Oh, ya..." Mbak Retno tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk melangkah, dia berbalik lagi menatap Aisyah dengan alus bertaut.
"Mas Bram? Kenapa mas Bram tak kelihatan malam ini? padahal beberapa malam sebelumnya dia tak pernah absen datang ke tahlilan abah?"
Pertanyaan itu membuat Aisyah sesaat tertegun. Matanya tak berkedip menatap Mbak Retno.
Bram tidak datang malam ini, pada malam ketujuh, bukan hanya mbak Retno yang merasa kehilangan tetapi terlebih Aisyah.
Kepala Aisyah menggeleng perlahan,
"Aku...aku tidak tahu. Mungkin...mungkin mas Bram ada keperluan lain." Jawab Aisyah terbata-bata.
"Kamu juga tidak menghubunginya?"
Cecar Mbal Retno. Aisyah menjawabnya dengan gelengan lagi.
"Oh..." Mbak Retno mengangguk-anggukkan kepalanya lalu mengucapkan salam dan selamat malam sebelum dia kemudian benar-benar pergi melintasi pekarangan rumah Aisyah yamg tak seberapa besar.
Aisyah masih merasakan degup yang sama, saat Mbak Retno menanyakan ketidak hadiran Bram. Sesungguhnya, dia mempertanyakan hal yang sama. Kemarin malam, Bram masih hadir meski terlihat lebih berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Aisyah sangat mengenal perubahan sikap seorang Bram, karena kemarin saat tahlilan dia banyak termenung dan sedikit berbicara. Bahkan, Aisyah melihat kadang dia sedikit sibuk dengan ponselnya sendiri.
Bram mungkin pulang paling terakhir seperti biasanya tetapi tak berselisih lama dengan kepulangan pak RT dan bu RT.
Leher Aisyah naik menatap ke arah jalan di sebelah mesjid yang ada di depan rumahnya itu, entah mengapa dia masih berharap sosok Bram muncul malam ini. Meski itu hampir mustahil, mengingat jam audah menunjukkan hampir jam sembilan malam.
Rindu? kenapa dia sekarang kerap merasa rindu pada laki-laki itu? Aisyah tak bisa menampiknya, perasaan pertama kali yang aneh di rasakannya ini muncul begitu saja selama dia mengenal seorang Bram, terlebih perasaan itu mencuat kuat akhir-akhir ini setelah dia merasa kehilangan sosok Abah pengayomnya.
Setiap pagi, akhir-akhir ini Aisyah begitu bersemangat menyeduh kopi dan menyiapkan kudapan kecil. Tidak bisa dia pungkiri, dia berharap Bram datang setiap pagi selepas sholat subuh dan mengobrol seperti biasa dengan abah di teras rumah mereka.
Meskipun di beberapa hari sebelum abah berpulang, Bram jarang kelihatan karena mungkin kesibukannya.
Aisyah tak mengerti, kenapa jika dia melihat Bram datang bersama abah dari jalan di depan sana, hatinya akan berdegup lebih kencang dari biasanya. Dengan melihatnya tersenyum dan tertawa bersama abah, rasanya hidup Aisyah lebih berwarna.
Tetapi, saat dia tak melihat Bram diam-diam dia merasa rindu, rindu yang aneh! Yang Aisyah tak tahu artinya. Yang jika rasa itu muncul, hanya bisa di redam Aisyah dalam tahajjudnya. Dia takut, takut rasa itu membuat Bram harus pergi dari hidupnya seperti halnya sang ayah, yang pergi di saat dia begitu merindukannya.
Rindu Aisyah pada Bram adalah rindu yang tak terucap, bahkan Brampun tak pernah menyadarinya.
(Kemanakah Bram? Apakah Bram merasakan rindu yang sama seperti Aisyah? 😅 Tunggu kelanjutannya, ya🙏☺️ Yang penting Readers dah tahu dari sisi Aisyah, ada benih-benih cinta yang mulai muncul meski tanpa di sadarinya😅 Cinta yang muncul karena terbiasa bertemu🤭)
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏...