CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 58. BERHITUNG BUDI


__ADS_3

"Mas..." Aisyah berucap lirih. Kepalanya menggeleng kecil, mata itu berkaca-kaca seolah berusaha menahan diri untuk tidak menghambur ke pelukan Bram.


Bram menarik nafasnya, darahnya terasa semakin menggelegak, membayangkan Aisyah menikah dengan orang lain hatinya merasa tidak rela sama sekali. Secuil cemburu mengusik, perasaan yang aneh tanpa Bram mengerti alasannya.


"Bagaimana bisa kalian melamar Aisyah pada saat ini? Dia sedang berkabung." Ucap Bram dengan suara bergetar.


"Sudah lewat 40 hari pak Syarif meninggal..." Bu Hasni mengerutkan keningnya.


"Bu Hasni, Aisyah masih merasa kehilangan sampai hari ini. Dia masih merasa sedih, bukankah artinya dia masih berkabung? Anda lebih berilmu, seharusnya anda lebih bisa bertenggang rasa dengan orang lain." Bram menelan ludahnya.


"Pak Bram..." Wak Agil merapikan pecinya yang terlihat masih baru itu.


"Aku lebih lama mengenal keluarga mereka, lebih lama darimu pendatang baru." Wak Agil menaikkan alisnya menatap Bram dengan gusar.


"Tak ada yang tak kulakukan untuk keluarga ini dari dulu, supaya mereka bertahan hidup. Anggaplah aku telah menjaga dan memelihara mereka sampai hari ini. Kamu tak tahu, aku sebenarnya tak pernah berhitung dengan itu. Sekarang, aku melihat Aisyah sudah dewasa dan perlu seseorang yang mengurusnya dengan benar bersama Tito yang kini juga yatim piatu sejak bayi. Aku hanya menikahinya dengan niat yang tulus, menafkahinya supaya tidak terlantar." Wak Agil tersenyum dengan sudut bibirnya yang terlihat begitu puas dengan dirinya sendiri.


"Apskah anda sekarang berbicara tentang balas budi?" Bram menggeram, dia meremas telapak tangannya sendiri. Begitu gemas ingin memukul wajah tua yang sok baik itu.


"Bukan, bukan begitu. Kamu tahu, aku menikahi Aisyah hanya karena dia ku lihat perlu tempat berlindung dan lagi jika dia menjadi isteriku, aku akan menafkahinya dengan benar. Dia bisa tenang tidak perlu capek lagi bekerja dan tentunya Tito juga akan terjamin hidupnya." Wak Agil terkekeh sambil melirik pada Aisyah yang menggigit bibirnya, gadis itu menyembunyikan ketegangannya sambil memegang tangan mpok Mumun yang terlihat marah dengan sikap Wak Agil dan isterinya.


"Tapi Aisyah belum tentu setuju dengan ini." Bram tak punya alasan untuk menolak lamaran itu, kecuali Aisyah yang menolaknya. Dia tahu, posisinya bukan siapa-siapa kecuali seseorang yang tak sengaja dipercayai oleh abah selepas dia meninggal.


"Banyak wanita di luar sana yang berharap menjadi isteri dari suami saya, pak Bram. Tapi suami saya sangat pemilih, dia tidak ingin menikahi tanpa niat beribadah. Karena itu dia setuju melamar Aisyah karena Aisyah adalah..."


"Aisyah bukan seorang janda! Dia tidak yatim piatu, ibunya masih hidup! Ayahnya juga masih hidup, aku akan mencarinya!" Bram memotong kalimat bu Hasni dengan kasar.

__ADS_1


"Dan lagi, dengan pengetahuanku yang rendah ini, aku tahu benar bu Hasni, yang mana yang menikah dengan niat ibadah dan yag mana yang hanya menuruti nafsunya saja. Aisyah ini mungkin bisa seusia bahkan lebih muda dari anak bu Hasni. Bagaimana ibu tega melamarnya untuk menjadi isteri dari suamimu." Bram benar-benar sudah tak tahan untuk tidak berbicara ketus.


Wajah bu Hasni, wak Agil dan rombongan kecilnya itu merah padam.


"Nabi juga menikahi beberapa wanita, jangan berbicara tentang ilmu yang tak kamu mengerti." Tukas wak Agil sedikit kesal dengan sikap Bram.


"Jangan samakan diri anda dengan nabi, wak! Demi Allah, anda sungguh berdosa! Anda jangan menyamakan bahwa Rasulullah seperti kita. Rasulullah harus berlaku dalam bimbingan Allah yang sesuai dengan koordinat hidup dia sebagai Rasul, sebagai Nabi. Beliau menikah Semua pernikahan Rasulullah itu karena alasan sosial, alasan menolong orang kecil, alasan untuk menyantuni orang yang perlu disantuni. Saya rasa anda sebagai orang tua yang mungkin sudah berpuluh kali khatam soal qur'an, yang khidmatnya melebihi orang awam seperti saya tak pernah mendengar bahwa nabi pernah memaksa menikahi seseorang!" Bram duduk dengan tegak, wajahnya merah padam dan tegang, menyiratkan amarah yang luar biasa.


"Aisyah sudah jelas menolak lamaran ini, jadi aku rasa wak Agil tak punya alasan untuk meneruskan niat tak wajar ini. Aisyah cukup dewasa untuk memberi pendapat ya atau tidak, bukankah begitu." Lanjut Bram kemudian, matanya tak lepas dari wajah wak Agil yang terlihat tak kalah merahnya.


"Saya rasa pak Bram benar, wak..." Pak RT angkat bicara.


"Kita telah mendengar tadi, Aisyah belum siap menikah dan menolak untuk menikah sekarang. Jadi, mungkin wak Agil bisa mengurungkan niat ini." Pak RT berbicara dengan hati-hati.


"Pak RT, anda mengenal saya jauh lebih lama dari anda mengenal laki-laki ini. Bahkan dia bukanlah warga kampung kita. Bagaimana bisa pak RT membelanya dari pada saya?"


"Aisyah tak punya alasan menolak untuk hidup lebih layak jika menikahi suami saya." Bu Hasni menyahut, piasnya menunjukkan kekesalan.


"Aisyah..." Bu RT menatap lembut pada gadis yang sedang menyeka air matanya itu, dia terlihat begitu prihatin dengan keadaan Aisyah.


"Jawablah kami dengan jujur, apakah kamu bersedia menerima lamaran wak Agil?" Tanya bu RT dengan hati-hati.


Aisyah menggelengkan kepalanya dengan gemetar.


"Aku...aku...aku tidak bersedia." Jawabnya dengan suara tersendat-sendat, matanya melirik pada bu Hasni dan wak Agil dengan takut-takut.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kamu menolaknya Aisyah?" bu Hasni melotot pada Aisyah.


"Ku tahu berapa banyak pengorbanan keluarga kami untuk mengurus ibumu yang gila itu? Berapa banyak budi yang telah kalian nikmati dari kebaikan hati suamiku ini pada kaeluargamu?" Cecar Bu Hasni, dia terlihat begitu marah dengan penolakan Aisyah.


"Apakah anda sedang berhitung budi, bu Hasni?" Bram terpana pada perempuan yang sedang berapi-api itu.


Bu Hasni sedikitpun tak menoleh pada Bram, matanya hanya tertuju pada Aisyah saja.


"Sekarang, suamiku hanya ingin menyempurnakan niatnya untuk menolongmu, kamu makah bersikap seolah kami berbuat dzolim padamu! Kenapa? Kenapa kamu menolaknya, hah?!!" Tanya bu Hasni dengan suara menghardik.


Aisyah menatap bu Hasni dengan mata yang banjir oleh air mata, dia begitu terpukul dengan semua kata-kata yang di semburkan bu Hasni dengan amarah itu.


"Dia tidak akan menerima lamaran kalian..." Tiba-tiba Bram beranjak dari tempatnya dan berjalan ke tempat Aisyah duduk.


Lalu dengan sopan meminta mpok Mumun untuk bergeser dari sisi Aisyah.


Di genggamnya dengan perlahan jemari Aisyah yang terkepal gemetar itu.


"Karena...karena aku lah yang akan menjadi suaminya." Ucap Bram sambil menatap mata Aisyah dengan tatapan yang hangat dan lembut.


(Yuk...yang belum vote di Vote yaaaa๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… Othor sudah bikin hati para reader bahagia kan?๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Terimakaih buat kopi, kembang2 dan tipsnya berupa koin2 plus kopi2 ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ nantikan lanjutannya yahโ˜บ๏ธ)



...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full.......

__ADS_1


...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™...


__ADS_2