CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 68. TERJEBAK CINTA SATU MALAM


__ADS_3

"Bang Faraz, untunglah kamu datang..." Bibir Ani yang pucat itu gemetaran. Dia seperti baru saja habis kehujanan.


"Kenapa denganmu, dik?" Tanya Faraz dengan bingung. Sambil menyodorkan kotak kardus yang lumayan besar di tangannya. Di dalamnya semua barang-barang pesanan Ani yang di belinya dari kota kecamatan.


"Masuklah ke dalam sebentar kalau bang Faraz tidak keberatan."


"Tapi ini sudah larut..."


"Bisakah Bang Faraz membantuku?" Pertanyaan itu terlontar cepat dari bibir Ani.


"Membantu apa?" Tanya Faraz sambil menjulurkan kepalanya ke dalam rumah kecil dari kayu yang hanya ada 4 ruang di sana. Ruang tamu sekaligus ruang pemeriksaan pasien, kemudian sebuah kamar bersalin sederhana dengan dipan kecil, lalu kamar Ani dan anaknya Adka, terakhir di bagian belakang ada sebuah dapur kecil untuk tempat Ani memasak.


"Ruang bersalinku itu bocor, ada dahan patah menimpa pinggiran atapnya, mungkin karena hujan terlalu deras, angin yang kuat tadi sampai menatahkan dahan hampalam di samping rumah, aku sedang berusaha menyingkirkannya, tetapi berat sekali. Jika tidak ku lakukan, semua peralatanku akan basah semua." Keluhnya dengan wajah memelas. Terlihat dia kewalahan dengan pias putus asa.


Tubuhnya yang basah kuyup itu tampak kedinginan.


"Aku mau memanggil tetangga membantu, tetapi rumah mereka paling dekat seratus meter dari sini, dan ini sudah malam. Aku jadi bingung sendiri. Kefikiran mau ke rumah pak kades, tetapi untungnya Bang Faraz datang." Ucapnya dengan wajah terlihat lega.


"Oh, baiklah kalau begitu, aku akan membantumu sebentar."


Faraz yang berjiwa sosial tinggi itu, malam itu membantu Ani membuang dahan patah yang menimpa atap rumah Ani ditengah hujan deras, Ani membantunya sehingga mereka berdua sama-sama basah kuyup.

__ADS_1


"Selesai..." Faraz menuruni meja setelah menutup atap yang bolong itu dengan potongan seng.


Tetapi tak di nyana dia terpeleset karena licin dan terjatuh tepat menimpa Ani yang sedang menahan meja itu supaya tidak goyang.


"Awh..." Ani terpekik kecil, tubuh Faraz menimpa tubuhnya, badan basah Faraz menindih tubuh Ani yang juga basah itu. Sesaat mereka berdua berpandangan, sesuatu yang aneh menjalari saat desah nafas mereka bersambut.


Faraz dengan gugup dan canggung hendak bangun tetapi kaki ani terkait di kaki meja sehingga Faraz bersusah payah untuk bangkit.


"Bang Faraz..." Bibir pucat itu bergetar, lalu gigi putihnya menggigit bibir bawahnya dengan tatapan sayu.


Faraz menghentikan gerakannya yang akan bangun, ketika merasakan Ani menggeliat sedikit di bawahnya, membuat darahnya seketika tersirap.


"Ma...maaf..." Desis Faraz, dengan tegang lalu segera bangkit.


"Aku takut kamu terluka karena tertindih tadi." Faraz menelan ludahnya sendiri, awalnya sedikit ragu tetapi naluri yang aneh itu jauh lebih menggoda.


"Oh..."Ani mendonggak, sesaat mata mereka beradu, ada dua orang kesepian dalam cuaca yang memungkinkan, tubuh mereka sama-sama basah dan sempat bergesekan. Dua orang yang pernah merasakan nikm@tnya ranjang itu saling pandang.


Ani tiba-tiba berjinjit dan perlahan menempelkan bibirnya di bibir Faraz, hembusan nafasnya menghangat bersamaan dengan bibir mereka bertaut setengah basah. Dia nekad melakukannya!


Faraz tak bergeming dia tidak menolaknya, tetapi membiarkan ketika jemari Ani merayap di lehernya, dingin...sedingin es! Tetapi menyalurkan hawa panas yang tak bisa di tolaknya.

__ADS_1


"Bang Faraz, aku tidak apa-apa..." Bisiknya dengan suara serak.


Dan berikutnya, di bawah derai hujan yang turun hampir sepanjang malam dua orang yang seharusnya menjaga dirinya masing-masing itu, bergelut di atas dipan kayu tempat bersalin itu.


Faraz tak ingat lagi, ada istrinya Atifa yang jauh di sana dalam keadaan hamil muda dan putri kecilnya Aisyah yang siang malam menunggu ayahnya pulang dengan rindu.


Ani, yang hampir tiga tahun berpisah dengan mantan suaminya, bahkan lupa jika seharusnya dia tak melakukan hubungan maksiat itu dengan laki-laki yang terikat perkawinan syah.


Dan saat keduanya sedang bergelut itu, tempat itu di dobrak warga karena curiga dengan mobil perusahaan yang parkir di depan pustu, sat seorang warga yang kebetulan anaknya kena diare datang mau berobat pintu itu terkunci rapat, di ketuk berkali-kali tidak di buka, mungkin mereka yang terlalu sibuk di tambah derai hujan yang bising.


Malam naas menjelang dinihari itu, pemangku adat dan perangkat desa menggerebek mereka saat hampir tanpa pakaian, membawa mereka ke balai adat. Di sidang malam itu juga.


Hukum adat di tempat itu masih sangat ketat, mereka di kenakan denda adat dan di minta menikah dengan benar karena sudah lancang berhubungan badan tanpa ikatan.


*Jangan pernah memberi peluang untuk orang ketiga saat kita terikat komitmen dengan orang lain karena itu mendatangkan prahara yang tak direncanakan. Berjauhan bukan alasan, jika mata dan hati bisa kita tundukkan pada kesetiaan. Cinta tak pernah datang dua kali dalam kurun waktu yang sama pada orang yang berbeda, jika itu ada maka salah satunya hanyalah nafsu belaka*


(Maafkan mak Othor, masih flasback Faraz yah🤭 masalahnya mak othor ini suka detail menceritakan supaya bisa menyelipkan nilai-nilai dalam semua sisi cerita😅


2 bab lagi, clear tentang Faraz, sampai nasib Ani dan semua yang menimpa Ani karena perbuatannya dan bagaimana Faraz sampai kehilangan sebagian telapak kakinya serta tinggal di tepi sungai Jagir🤭 yang gak suka sama kisah Faraz boleh skip ya, 2 bab lagi kita kembali pada Aisyah dan Bram di masa sekarang😅)


__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa dukungannya yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis😂...


__ADS_2