CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 27. SIAPA DIA


__ADS_3

Bram menggandeng Bella, keluar dari mobilnya.


"Kita akan kemana, papa?"


"Kita akan bertemu dengan teman papa..." Bram merapikan dress yang dikenakan Bella.


Hari menjelang gelap ketika Bram tiba di rumah Aisyah, usai sholat magrib sebentar Bram langsung membawa anak gadisnya itu menemui abah.


Hanya sempat mandi dan berganti pakaian dari rumah orangtua Diah setelah menjemput Bella, dia bergegas ke tempat Abah karena memang dia telah berjanji untuk kembali. Dia sungguh tak enak hati, meninggalkan Aisyah tanpa pamit.


Rumah abah sudah sepi, pintu tertutup rapat hanya lampu yang bersinar temaram di langit-langit teras.


"Ini rumah siapa?" Tanya Bella, anak ini terlihat bingung.


"Rumah seorang teman. Dia mengundang kita untuk makan bersama."


"Oh, ya..." Alis gadis kecil itu naik.


Rumah itu sepi, Bram mengetuknya perlahan.


"Assalammualaikum..." Ucapnya.


Beberapa lama kemudian pintu itu di buka, Aisyah masih mengenakan mukena putih bersih tampak sekali dia tergesa-gesa membuka pintu.


"Wa'alaikumussalam." Suara Aisyah yang lembut itu menjawab, wajahnya merah jambu saat bertemu pandang dengan Bram.


"Oh, mas Bram...Aisyah kira mpok Mumun mau mengambil lontong." Aisyah tersipu.

__ADS_1


"Maaf, terlambat datang, tadi ada urusan penting. Aku harus menjemput anakku dari tempat ibunya." Bram yang rapih dalam kemeja abu-abu dan celana kain itu terlihat lebih kalem dari penampilannya biasa.


"Oh, hallo..." Mata Aisyah berpindah pada gadis kecil yang memeluk bonekanya dengan erat, sementara tangannya yang lain memegang jemari Bram seolah enggan terlepas.


"Bella, beri salam untuk kakak eh tante Aisyah..." Bram terlihat canggung memperkenalkan Aisyah pada Bella anaknya.


Bella yang polos menjulurkan tangannya dan mencium tangan Aisyah dengan hormat.


"Ini pasti Bella yang cantik, putri kesayangan papanya..." Aisyah tersenyum lebar dengan mata berbinar.


"Bella kesayangan papa?" Gadis kecil itu berbalik dan mendonggak lucu pada sang papa yang tampak salah tingkah.


Dia jarang bersikap menunjukkan kasih sayang yang berlebihan pada anak-anaknya karena dia lebih banyak sibuk mengurus Sally sebelumnya.


Jadi, Bram tak heran jika anaknya itu melotot antara senang dan penasaran menatapnya demi mendengar dirinya adalah putri kesayangan papanya.


Senyum gadis kecil itu begitu lebar, matanya berbinar riang, tangannya semakin bergelayut di pergelangan Bram.


"Mari masuk, mas. Abah sedang ke rumah tetangga sebentar lepas sholat, beliau bersilaturahmi di tempat sebelah yang sedang kepulangan keluarga dari kota, kebetulan yang datang itu teman abah."


"Oh..." Bram masuk dengan ragu.


"Aku berganti dulu, mas. Tadi barusan habis sholat karena teman-teman pengajian Tito yang di undangnya makan pulangnya agak sore, aku baru selesai cuci piring dan berberes-beres."


"Ya, tidak apa-apa. Maaf jadi merepotkan malam-malam begini bertamu, hanya saja tadi aku sudah berjanji dengan abah untuk kembali jadi aku tak enak jika tidak datang. Hari ini ulang tahun abah, aku fikir abah akan kecewa kalau aku melewatkannya." Bram membawa Bella duduk di kursi setelah Aisyah mempersilahkan.


"Aisyah tinggal dulu, nanti ku suruh Tito panggilkan abah pulang." Aisyah masuk ke dalam lagi dengan sedikt tergopoh, dia tidak nyaman karena saking tergesanya membuka pintu sampai masih mengenakan mukena.

__ADS_1


Tito muncul dari dalam masih dengan peci kecil di kepala, dia tampak lucu.


Menyalami Bram dan pamit untuk keluar memanggil kakeknya pulang.


Beberapa saat kemudian, Aisyah sudah kembali dengan baju gamis sederhana di lengkapi hijap warna gelap yang kontras dengan wajah putihnya.


"Terimakasih banyak sudah datang, abah tentu senang sekali mas Bram ternyata benar-benar kembali sore ini." Aisyah tersenyum sementara Bella tampak menatap wajahnya dengan lekat dan menyelidik. Wajah cantiknya tampak mengernyit.


"Papa?" Bella menggoyang lengan Bram, tetapi matanya tak teralihkan sari wajah Aisyah.


"Papa, siapa dia? Ini bukan tante Sally kan? Tante yang sering di sebut papa dulu di depan mama kalau lagi marah? yang bikin mama nangis itu?" Pertanyaan Bella yang tiba-tiba, membuat Bram terhenyak.


Pertanyaan itu seperti menampar wajahnya, terasa panas dan sakit sampai ke jantung. Dia tak pernah menyangka seorang anak kecil bahkan menyimpan luka yang tak kalah dalamnya karena apa yang telah di lakukannya di masa lalu.


"Bella kenapa kamu bertanya begitu?" Bram menatap anaknya itu dengan bingung, harus menjelaskan bagaimana.


"Bella sering berdiri di belakang pintu, kalau papa sedang berteriak pada mama." Matanya mengerjap sesaat, tanpa dosa dan mengharapkan jawab.


...***...



Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2