CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB. 37 SEBUAH PERMINTAAN


__ADS_3

"Mas, masuklah...abah ingin bertemu mas Bram." Aisyah keluar dengan ekapresi datar, memberi isyarat dari gerak tubuhnya agar Bram mengikutinya masuk ke kamar Abah.


Bram beranjak tanpa protes, mengikuti langkah Aisyah.


Pandangan Bram tertumbuk pada tubuh abah. Lelaki tua itu sudah bersandar di ranjang kayunya, senyumnya terlihat lebar meski sebelah bibirnya sedikit turun.


Aisyah membungkuk sedikit, melirik pada Bram dan keluar.


"Assalamu'alaikum, abah..." Bram seperti biasa mengucapkan salam dan mencium punggung tangan lelaki tua itu.


Tangan Itu terasa kaku, dan Bram menyadari mungkin efek serangan stroke yang dialaminya. Untung saja bagian wajahnya terlihat normal saja, sepertinya tidak terlalu parah memang.


"Wa‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, nak Bram." Sambut abah dengan suara lembutnya, suaranya memang sedikit berbeda dari biasanya.


"Abah, apa kabarnya? Aku terkejut mendengar keadaan abah dari Aisyah tadi."


"Tidak apa-apa nak Bram, alhamdulilah Allah masih panjangkan umur abah. Berarti banyak hal yang belum selesai yang harus abah tunaikan di dunia." Abah tersenyum lagi.


"Abah, maafkan saya, tidak berada di sini saat abah sedang kesulitan."


Bram menatap wajah lelaki tua itu dengan rasa bersalah.


"Tidak apa-apa, nak...abah juga tidak apa-apa sudah, mungkin Allah sedang mengingatkan Abah untuk ingat dengan badan yang renta, harus lebih banyak beribadah karena umur tak ada yang tahu masanya. Umur yang diberikan Allah kepada manusia adalah amanat yang harus dijaga dengan baik. Mungkin abah telah alpa sehingga Allah menegur lewat sakit penyakit ini. Saat ini abah di beri kesempatan melihat matahari mungkin Allah berkehendak sisa umur yang ada ini harus diisi dengan kebaikan-kebaikan dan amal saleh saja." Selalu saja Abah punya kata-kata untuk semua ujian dalam hidupnya, tak pernah sekalipun dia berburuk sangka dengan segala musibah yang terjadi padanya.

__ADS_1


Bram menganggukkan kepalanya, sambil menarik sebuah kursi kayu di sudut kamar kecil itu, duduk dengan setengah membungkuk ke arah Abah.


"Aku akan membawa abah ke dokter spesialis." Ucap Bram akhirnya.


"Dokter telah menanganiku dengan baik, nak Bram. Tidak usah terlalu mencemaskan aku." Abah tertawa kecil sambil menarik selimutnya yang hampir pudar warnanya itu.


"Saya tahu, bah. Tapi ke dokter spesialis kita akan mendapatkan diagnosa yang lebih spesifik."


"Untuk apa?" Tukas Abah tiba-tiba.


Bram tertegun menatap raut yang mendadak begitu serius itu.


"Supaya abah bisa di tangani dengan benar." Jawab Bram.


"Jika aku tidak ada, aku tak tahu siapakah yang akan mengurus mereka." Keluh itu terdengar seperti tertahan.


Bram terpana sejenak, dia menunggu abah melanjutkan kalimat yang mengawang itu.


"Nak Bram, aku tak tahu harus membicarakan hal ini pada siapa, tetapi saat aku terbaring dalam keadaan antara sadar dan tidak, entah mengapa ingatanku tertuju padamu." Abah menatap lurus kepada Bram, suaranya di rendahkan, seolah tak ingin orang lain mendengarnya.


"Ya, abah...apa yang bisa ku lakukan untukmu?"


"Nak Bram, umur seseorang tiada yang tahu, hanya Tuhanlah yang empunya garis takdir maha mengetahui. Aku tak tahu seberapa lama tubuh renta ini bisa berada di dunia ini, ketika Allah mengambilnya maka tak ada yang bisa menahan. Semakin ku fikirkan, semakin pula aku menjadi gelisah, meski perasaan ini tak pantai aku sematkan jika aku menyebut diriku beriman. Sebagai manusia, aku tak bisa menahan diriku untuk memikirkannya kadang-kadang." Abah menghela nafasnya.

__ADS_1


"Abah, apa yang membuat abah merasa begitu gelisah? Katakan saja. Jika aku mampu membantu abah, aku akan melakukannya." Bram berucap dengan sikap meyakinkan.


"Aku tahu nak Bram pasti mengatakan ini, karena itu aku kadangkala ragu, apakah aku pantas memintanya pada nak Bram. Aku takut seolah-olah sedang memanfaatkan kedekatan kita, tetapi demi Tuhan sekarang aku hanya mempercayakan hal ini pada nak Bram saja." Matanya yang sayu di tudungi kelopak yang berkerut di makan usia, menatap Bram tak berkedip.


"Abah...katakan saja."


"Nak, Bram...bisakah kamu melakukan satu hal untukku, supaya saat ajalku tiba, aku bisa tenang meninggalkan kefanaan ini."


"Abah, aku akan melakukan apapun yang abah minta."


"Waktu berjalan cepat, tak terasa 10 tahun telah berlalu setelah Faraz meninggalkan Aisyah yang berumur 11 tahun dengan Ibunya yang hamil tua, tetapi aku masih saja berkutat dalam akar pahit di dalam hatiku yang terdalam. Aku tak mampu menyingkirkan bayang-bayang seseorang yang pernah menerbitkan kebencian yang begitu dalam hingga meracuniku bahkan dalam saat aku berusaha beristigfar. Kebencian itu mungkin telah pudar bersama berapa banyak lututku ku lipat di depan hadiratNya tetapi banyak tanya yang tak ingin ku bawa andai aku harus mati." Suara Abah terdengar serak, tak pernah Bram melihat mata tua itu begitu sedih.


"Nak Bram, bisakah nak Bram menolongku mencari di mana ayah Aisyah berada? jika dia masih hidup, aku ingin bertemu dengannya, sekali saja..."


Bram terkesima menatap wajah tua yang terlihat semakin layu itu.


"Apapun yang terjadi padanya, aku hanya ingin mendengarkannya saja, kenapa begitu tega meninggalkan Atifa dan anak kandung yang tak pernah di lihatnya itu? Aku hanya ingin mendengar kenapa dia menelantarkan Atifa begini sengsara?"



Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2