CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 103. CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH


__ADS_3

Tetapi, saat ini di dalam kamar hotel ini hanya ada dirinya dan Aisyah. Tak ada orang lain. Dia hanya ingin menumpahkan perasaan bahagianya pada Aisyah, istrinya, meskipun dia menjadi seperti anak kecil karena perasaannya sendiri.


"Mas, kenapa mas Bram jadi melankolis begini." Aisyah menatap mata Bram dengan salah tingkah.


"Aku tak bisa menahan rasa haru...rasanya tak tahu harus mengatakan apa lagi untuk menyatakan aku mencintaimu, aku bersyukur dengan adanya dirimu. Semua masa laluku yang buruk bahkan tak pernah kamu ungkit setitikpun, rasanya aku tak tahu harus mengatakan apa lagi." Bram memperat pelukannya.


"Katakan saja apa yang kamu inginkan, aku akan mewujudkannya untukmu." Bisik Bram di telinga Aisyah.


"Aku ingin satu hal, mas..." Tiba-tiba Aisyah mengangkat jemarinya dan mengelus pipi Bram yang tidak mulus oleh jambang-jambang tipisnya.


"Apa itu?" Bram terkesiap, tak pernah Aisyah meminta apapun padanya selama ini.


"Jangan pernah mengulang kesalahan yang sama, jangan membuat kegagalan dalam pernikahan kita. Aku hanya ingin, meskipun ini bukan pernikahan pertamamu tapi aku mau menjadi pernikahan pertama dan terakhir untukku." Ucap Aisyah dalam suata yang lembut.


Bram menggigit bibirnya, permintaan Aisyah terdengar sederhana tetapi itu menohok sampai ke dalam hatinya.


"Tentu saja, Aisyahku. Tentu saja, insya'Allah aku akan menjadikan pernikahan kita ini sampai till jannah. Doakan saja suamimu ini menjadi suami yang bisa membawa kita pada surganya Allah." Bram memeluk Aisyah dengan sayang.


Keduanya berpelukan begitu lama, saling memadu detak jantung menikmati saat berdua yang syahdu.


"Mas?"


"Hm..."


"Kamu mau aku melahirkan berapa anak untukmu?" Tanya Aisyah tiba-tiba.


"Eh, memangnya kamu mau buru-buru punya bayi?" Tanya Bram dengan mimik lucu.


"Iya...bukankah tiap suami ingin dalam pernikahan mereka segera mendapatkan anak supaya suami tidak berpaling ke perempuan lain?"


"Hey, sayang...dari mana kamu dapat ayat itu?" Bram mendelik.


"Itu...banyak di kampungku yang minta kawin lagi atau meninggalkan istrinya kalau tak segera memberikan keturunan." Jawab Aisyah dengan polos.


"Hush, itu bukan karena harus tetapi memang si suaminya yang brengsek atau kebelet nikah lagi." Bram tergelak.


"Tapi mas Bram tidak begitu, kan?"


"Ya, insya'allah tidak sayang. Kecuali kamu memang ingin mas kawin lagi, mas rela jika di paksa..." Kelakar Bram.

__ADS_1


"Aaaaa...amit-amit." Aisyah mendelik dengan muka masam.


"Mas Bram cuma punya Aisyah." Sifat kekanakan Aisyah akhirnya muncul juga saat bermanja pada Bram, dia seolah menemukan tempat bermanja setelah sekian lama di tinggalkan sosok seorang ayah.


"Iya...iya, mas Bram cuma punya Aisyah. Yang penting otong di kasih makan terus, amaaaan."


"Ih, mas Bram...otong terus urusannya." Aisyah mencubit perut suaminya itu. Bram tertawa sambil memeluk Aisyah dengan jenaka.


"Tapi mas Bram tidak akan minta kawin lagi kan kalau Aisyah belum kasih bayi? Mas Bram tetap sayang Aisyah, kan?" Cecar Aisyah.


"Astaga, Isah sayang. Sejak kapan mas Bram mempermasalahkan anak, sih? Belum apa-apa sudah takut di tinggal kawin, baru aja jebol gawang kemarin sudah takut lambat hamil. Sayang, kamu kira bikin bayi seperti ngadon donat? Habis kamu aduk-aduk sejam ngembang? Kamu kebanyakan nonton sinetron kali, ya? Yang biasa di tonton mama itu, sinetron kumenangis-kumenangis itu?"


"Bukan...bukan begitu. Cuma...eh mpok Mumun bilang..."


"Hush...jangan dengarkan mpok Mumun soal itu. Jangan dengarkan orang lain. Dengarkan aku saja.


Andaipun kamu tak bisa melahirkan bayi sekalipun aku tak akan membuangmu. Aku mungkin akan berbahagia mempunyai banyak anak-anak bersamamu tapi aku lebih bahagia cukup dengan selalu mencintaimu." Bram meraih dagu Aisyah.


"Aaaaa...mas Bram so sweet." Aisyah tak bisa menahan dirinya untuk tak memeluk laki-laki yang telah menjadi suaminya itu. Bram tertawa senang melihat istri pemalunya itu begitu riang. Dengan wajah pongah yang senang, Bram menerima ciuman Aisyah.


"Awas, ya...mas Bram janji..."


"Janji mencintai Aisyah sampai till jannah."


"Ashiaaaap, sayang." Bram balas mencium puncak kepala Aisyah.


"Eh, sebentar..." Bram meraih telpon di atas meja sebelah kepala tempat tidurnya. Memutar dial nomor untuk lobby untuk layanan breakfast di kamar.


"Hmm...sekarang kita menunggu makan pagi kita datang." Bram menarik kembali Aisyah ke pelukannya.


"Kita tidak mandi dulu."


"Tidak usah. Habis makan kita bekerja keras lagi."


"Kerja keras? Kerja keras apa?"


"Mengadon donat."


"Hahhh...itu si otong lagi?"

__ADS_1


"Iya, pokoknya selama tiga hari ini, istriku ini ku sekap dalam kamar hotel, menikmati bulan madu sepuasnya. Tidur, bangun, makan, ngadon donat, tidur lagi, bangun lagi, ngadon donat lagi."


"Tidak sholat?" Aisyah melotot.


"Oh, itu kewajiban...tidak usah di sebutkan, harus." Bram tertawa.


"Tidak mandi?"


"Kalau perlu saja..."


"Haaaa...mas Bram jorok." Aisyah melompat dari pelukan Bram, langsung berjingkat ke kamar mandi di antar tawa renyah Bram, suami yang bahagia, mantan duda yang beruntung dan pendosa yang telah melewati taubat nasuha hingga di antarkan Allah jodoh terbaik untuknya.


Semoga semua pembacapun di berikan keberkahan dalam perjalanan hidupnya meski mungkin hidupnya pernah sepahit perjalanan Aisyah ataupun seberdosa seorang Bram. Jika kita seikhlas Aisyah menjalaninya dan semenyesal Bram untuk kembali ke jalan yang benar, maka jangan bimbang, setiap ketulusan & kebaikan akan beroleh ganjarannya.


Akhirnya, kisah ini Author tutup dengan tulisan "Tamat". Semoga Kita akan berjumpa kembali dalam novel baru author yang lain, jangan lupa follow kak "Suesant SW" untuk notifikasi novel baru, ya🙏☺️


Terimakasih sudah menjadi pembaca yang setia❤️❤️❤️❤️


"Maafkan othor jika ada kata2 yang tak baik. Buanglah yang buruk dari cerita ini, petiklah yang baik jika ada, selebihnya jadikan hiburan saja🙏☺️❤️"


...***...



Teruntuk para jomblower☺️:


Saat kita mencintai seseorang...


kadangkala tidak memiliki keberanian dan kata sempat untuk tmengungkapkan, ingatlah untuk meminta pertolongan Tuhan. Terutama, di kala semua mata manusia lain sedang terlelap dan hanya ada kesyahduan antara dirimu dan Tuhan adalah langkah halal yang paling tepat dari semua jalan yang pernah kita tempuh.


Nama yang kamu sebutkan dalam do'a, kau sematkan dalam harapan setiap butiran tasbih, dan kerinduanmu yang kau titip di sepertiga malam, yakinlah akan di pertimbangkan Tuhan sebagai jodoh terbaik untukmu☺️



"Aku yang mencintainya dalam hening, hanya mampu diam menyimpan rasa dalam gejolak yang runyam.


Aku berdoa dengan kerendahan hati dan kubiarkan Tuhan menurunkan ribuan malaikatnya untuk bekerja menyampaikan rinduku kepada seseorang yang selalu menjadi bagian doaku di setiap malam.


Aku meyakini Cinta dalam diam adalah perjuangan hati yang lebih mengandalkan tangan-tangan Tuhan. Aku Cukupkan tanganku yang menadah dengan pasrah, menodongkan kalimat-kalimat berserah, sisanya yang kupercayai hanya membiarkan Tuhan menjalankan semua bagiannya."

__ADS_1


...CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH END...


__ADS_2