CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
Bab. 97 Selamat Pagi Cinta


__ADS_3

"Sudah bangun?"


Aisyah hampir terlonjak saat menuruni anak tangga terakhir.


"Astagfirullah!" Aisyah memegang dadanya, suara itu tak asing di telinganya.


"Mbak Retno?"


Mbak Retno senyam-senyum berdiri menghadap meja makan, meletakkan mangkok cream sup di tengah meja. Di atas meja juga sudah tersusun piring lain, dadar telor, nasi goreng dan roti bersama aneka selai. Susu dan teh juga ada. Sarapan sudah siap sedia.


Bahkan di meja itu sudah duduk ibunya menikmati sarapan pagi dengan tampilan sudah rapi jali.


"Kelihatannya jalanmu kok sedikit ndak normal, ya? sepertinya ada yang bekerja terlalu keras malam ini." Goda mbak Retno.


Wajah Aisyah tersipu. Apalagi ibunya dan adik tirinya juga ada ternyata di situ, Adka.


"Eh, Assalamualaikum kak..." Adka berdiri sambil sedikit membungkuk, dia terlihat baru saja tiba, melepaskan jaketnya.


"Wa'alaikumsalam, kamu dengan siapa kemari? Ayah?" Mata Aisyah berputar mencari.


"Akh, tidak kak, aku sendiri bersama mbak Retno." jawab Adka. Pemuda tanggung berumur belum genap 18 tahun itu melirik kepada Mbak Retno, lirikan malu-malu yang aneh.


"Bersama mbak Retno?" Aisyah nenarik kursi di sebelah ibunya, setelah sebelumnya mencium tangan sang ibu.


"Iya, aku dan Adka dari jam setengah 6 sudah di sini. Dia yang datang menemuiku pagi-pagi, minta di antar kemari. Aku kan' pernah kemari sebelum acara akad. Jadi ku antar saja." Sahut mbak Retno cepat.


"Oh, makasih mbak, sudah mengantarkan Adka."


"Kamu juga harus berterimakasih, aku juga sudah membantu bude Atifa menyiapkan sarapan dan Adka mengantarkan Tito ke sekolah tadi." Senyum mbak Retno merekah.


"Waaaah, makasih banyak mbak. Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakan terimakasih kepada mbak." Pias wajah Aisyah merona, rasanya mbak Retno sedang berusaha menggodanya.


"Akh, biasa aja. Aku sudah tahu kok, pengantin baru bakal bangun kesiangan. Malah dulu aku lebih parah lho, bangunnya jam sepuluh, gara-gara kelaparan." Mbak Retno tergelak.


"Akh, mbak...jangan bahas itu." Wajah Aisyah seperti kepiting rebus karena salah tingkah, apalagi Adka menatapnya dengan heran.


"Ada apa kemari? ayah tidak apa-apa, kan?" Tanya Aisyah, dia melirik pada ibunya yang tampak sudah selesai sarapan dan pamit ke kamar untuk minum obat. Dia terlihat tenang, kehadiran Adka sama sekali tidak mempengaruhinya. Adka terlihat sopan serta takjim pada Atifa, berdiri dan membungkuk sambil mengucapkan salam sebelum Atifa keluar dari ruang makan itu, tampak sekali dia begitu segan pada perempuan yang dulu di tinggalkan ayah tirinya demi ibunya.


Dia sudah berkali-kali memohon ampun dan maaf di kaki Atifa untuk kesalahan almarhum ibunya.


"Tak ada yang perlu di maafkan, nak. Aku tahu jalan takdir kami berdua berbeda, dan kamu tak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi. Allah mungkin telah mengaturnya demikian, entah apa rencanaNya, tetapi aku tak berhak menghakimimu demi apa yang telah diperbuat ibumu dan mas Faraz." Itulah jawaban Atifa, kewarasan membuatnya benar-benar berubah total. Setiap saat dia akan duduk mengaji di dalam kamar, dan malamnya dia bertahajjud. Tak ada obat sebenarnya yang melebihi kepasrahan kepada Tuhan.

__ADS_1


"Mas Bram di mana?" Tanya mbak Retno dengan kepo.


"Masih tidur." Jawab Aisyah, dia meraih gelas susu, setelah mengucapkan bismillah di teguknya hampir setengah gelas.


"Oalaaah, masih tidur? Jam piro iki? Dia ndak kerja?"


"Aku...aku tidak tahu mbak." Aisyah menjawab salah tingkah.


"Kamu apain mas Bram? kamu kasih obat tidur, ya?" Retno menepuk bahu Aisyah sebelum dengan santai dudul di kursi.


"Akh, mbak Retno, aku tidak kasih apa-apa." Aisyah menyahut malu. Jadi pengantin baru itu memang selalu di goda.


"Ada yang bisa aku bantu?" Aisyah meraih roti dari dalam piring, berusaha menghindar dari tatapan mbak Retno yang masih menggodanya.


"Aku hanya ingin bertemu om Bram " Adka menunduk. Dia jelas tak ingin membicarakan niatnya pada Aisyah.


"Kenapa kamu ingin bertemu dengan mas Bram?" Mata Aisyah tak berkedip menatap Adka.


"Aku..." Adka terlihat ragu, dia melirik sesaat kepada Retno yang cuek bebek mengambil nasi goreng ke piringnya.


"Aku hanya ingin meminta nasehat darinya." Jawab Adka kemudian.


"Nasehat apa?" Tanya Aisyah terlihat sekali penasaran.


"Tentang pekerjaanmu? kamu ada masalah?" Selidik Aisyah. Adka menggeleng tegas.


"Maafkan aku kak Aisyah, ini hanya pembicaraan lelaki mungkin." Adka menundukkan wajahnya.


"Ya, sudahlah. Terserah kamu saja. Kita tunggu mas Bram bangun dan turun saja. Sepertinya dia tak ada rencana kemana-mana hari ini." Aisyah terlihat ragu sejenak saat menuangkan secangkir teh.


Dia ingat kewajibannya sebagai istri untuk melayani suami, sejak dia sah sebagai istri. Meneguk teh sendiri terasa menjadi aneh sekarang baginya.


"Aku akan membangunkan mas Bram dulu..." Aisyah berdiri dan pamit pada dua orang yang hanya melongo menatap kepergiannya kembali naik ke atas, sambil membawa secangkir teh manis.


...***...


Aisyah duduk dengan tanpa suara di pinggir tempat tidur, menatap laki-laki yang nampak tertidur lelap di sana. Rasa haru menggelitik, dia tak pernah menyangka berjodoh dengan Bram, laki-laki yang pernah di ceritakan abah, menangis tersedu di depan abah karena menyesali dosanya.


"Lebih baik seribu kali seseorang berdosa kemudian bertobat nasuha dari pada orang yang baik tetapi menganggap dirinya lebih benar dari yang lain." Kalimat Abah masih terngiang jelas di telinganya.


"Hey...Selamat pagi cinta."Bram tiba-tiba membuka matanya dan memandang Aisyah dengan lembut, mengejutkan Aisyah yang masih memandang wajah Bram sambil melamun di tepian ranjang. Teh dalam cangkir yang dipegangnya hampir jatuh.

__ADS_1


"Tidak perlu mengagumiku seperti itu, suamimu ini memang gagah dan perkasa."suara berat yang mengantuk itu membuat Aisyah tersipu malu.


"Mas Sudah bangun?"Aisyah gelagapan dan salah tingkah, berusaha mengalihkan pembicaraan Bram.


"Masih tidur, sayang dan masih ingin terus di tempat tidur denganmu sepanjang hari ini..."Jawab Bram sambil berguling mendekati Aisyah.


"Mas tidak lapar?"


"Aku laparnya kamu..."


"Akh, mas Bram." pipi Aisyah bersemu merah.


"Aku tidak lapar. Melihatmu saja rasanya sudah kenyang." Bram tersenyum sendiri, sambil menarik badannya bersandar di bantal.


"Teh itu untukku?" Tanyanya sambil mengerutkan dahinya.


"Iya." Aisyah menyorongkan teh di tangannya dengan malu-malu.


Bram mengambilnya sambil sempat-sempatnya mencium dahi Aisyah.


"Akh, teh ini..." Bram berucap sambil menyeruput tehnya, alusnya bertaut aneh.


"Kenapa dengan tehnya?" Aisyah melotot tegang.


"Tawar." Bram menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Astaqfirullah, maafkan Aisyah, mas, tadi tidak memeriksa apa gulanya sudah pas." Aisyah menggigit bibirnya hendak mengambil kembali teh dari tangan Bram.


"Tehnya baik-baik saja hanya terasa tawar, karena manisnya habis di kamu."


"Glek!"


Aisyah benar-benar di buat salah tingkah oleh kelakuan Bram.


"Gombal!"Aisyah menyahut, bibirnya dimanyunkan begitu rupa.


...***...


Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅


Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️

__ADS_1


Biar author tambah rajin UP


__ADS_2