
Bram berdiri di depan pusara yang masih merah itu, sementara Aisyah masih bersimpuh di sana.
Beberapa orang tetangga yang terakhir bersama mereka telah pergi termasuk mpok Mumun dan mbak Retno, serta bu Hasni istrinya wak Agil yang selalu mendampinginya selama proses menjelang abah di makamkan. Mereka pamit karena malam nanti akan kembali untuk melakukan sembayang tahlilan di rumah keluarga Aisyah atas prakarsa para tetangga yang selama upacara pemakaman abah benar-benar membantu keluarga itu bahkan menyediakan makanan untuk para pelayat.
Abah benar-benar adalah orang baik, begitu banyak yang datang memberi penghormatan terakhir, membantu secara materi dan tenaga, begitu banyak pula doa yang diberikan menfantar kepergian abah. Amal sholehnya, kebaikan-kebaikannya seolah menjadi bekalnya menuju Surganya Allah yang selalu di rindukannya.
Kini yang ada di sana hanya Bram dan Aisyah, serta Tito yang tampak masih sesenggukan. Anak itu menangis keras memanggil kakeknya, saat jasad abah di turunkan ke liang lahat.
Aisyah lah yang dengan sabar menenangkan Tito,
"Ummi ada di sini, jangan menangis lagi, kamu ingatkan, kakek tidak suka Tito menangis." Aisyah memeluk erat tubuh bocah itu.
Dan Bram hanya terpana dengan apa yang di saksikannya, dua orang itu kini seolah anak yatim piatu di matanya. Apalah arti ibu Aisyah yang bahkan tak sadar dengan dirinya sendiri ataupun ayahnya yang belum tentu pasti keadaannya. Tito sendiri, orangtuanya telah pergi saat anak itu bahkan tak mengenal orangtuanya dengan baik.
"Mas Bram, jika mas Bram ingin pulang, silahkan.
Bukankah mas Bram dari pagi tidak pulang-pulang?" Aisyah tiba-tiba berdiri dan berbalik menghadap Bram. Wajah itu pucat tetapi tegar.
__ADS_1
Bram melihat langit di atasnya, matahari masih bersinar di barat tetapi hari masih cukup tinggi sebelum senja menjemput.
"Aku telah berjanji, menemani abah sampai matahari tenggelam hari ini." Jawab Bram, matanya perih karena tadi tak bisa menahan air mata saat jenazah abah selesai di sholatkan.
Aisyah termangu, matanya menatap sesaat ke arah Tito, anak itu masih bersimpuh di depan tanah yang merah. Dalam umur kurang dari sembilan tahun dia telah cukup dewasa untuk mengerti, abah meninggal dan tak akan pernah kembali ke dunia lagi.
"Terimakasih sudah menjadi teman abah selama beliau hidup dan di akhir hayatnya, abah begitu bahagia dengan kehadiran mas Bram." Suara Aisyah parau dan tertahan seolah dia berbicara dengan dada yang bergemuruh oleh sesak.
"Aisyah, aku sangat menghormati dan menyayangi abah. Tanpa kehadirannya di saat yang tepat aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku." Sahut Bram hati-hati.
Aisyah menunduk, kuat-kuat, pundak gadis itu gemetar. Sekarang Bram tahu, Aisyah benar-benar sedang menahan kesedihannya yang luar biasa. Dia hanya berusaha kuat di depan orang lain.
"Aisyah...Jika kamu ingin menangis, menangislah. Abah pernah berkata begitu padaku. Itu manusiawi, jangan kamu tahan. Karena menahan tangisan itu lebih menyakitkan dari menangis." Ucap Bram.
Aisyah mengangkat wajahnya, matanya yang memerah itu berair dan beberapa detik kemudian Aisyah menangis dengan kuat, tubuhnya gemetaran sampai-sampai lututnya tak lagi bisa menopang tubuhnya. Bram menangkap tubuh Aisyah sebelum terduduk di tanah.
Bram menopang tubuh Aisyah ke dalam pelukannya dan pertama kali dia mendengar Aisyah menangis begitu kuatnya dengan memeluk dirinya.
__ADS_1
"Abah...abah sudah tidak ada lagi. Abah sudah tidak merasakan dadanya sesak lagi, abah tidak sakit lagi...abah telah bersama Bibi Asniah, berkumpul dengan kak Rahimah. Abah telah bahagia di sana." Kalimat itu meluncur dari bibir Aisyah di sela tangisannya.
Sedu Aisyah membuat hati Bram terasa remuk redam.
"Abah...abah...Isah harus bagaimana abah? Isah tak tahu harus bagaimana tanpa abah..."
Tangisan Aisyah yang pecah itu menyayat hati, Bram tak tahu kalimat apa yang tepat saat ini untuk menghibur Aisyah.
(Yeay, akak adh double UP yaaađđ€Yuuuuuuuk, besok pagi senin jangan lupa VOTE ya, biar mak Othor tambaah semangat menulisnyađ€đ€đ€â€ïžâ€ïžâ€ïžâ€ïž
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othorđ€ i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulisđđđ
__ADS_1