
Perubahan mereka setelah sekian lama tak saling berbicara sedikit intens seperti sekarang sungguh membuat Diah begitu heran.
Banyak sekali yang berubah dari seorang Bram.
"Teman. Hanya teman." Jawab Bram pendek dan salah tingkah.
"Oh..." Diah tak lagi bertanya.
Semua pertengkaran, kesalahpahaman dan masalah yang membelit rumah tangga mereka seperti menguap entah kemana saat mereka memutuskan untuk mengakhirinya dengan perpisahan.
Diah tak bisa bohong, mereka berdua mungkin merasa lebih bahagia setelah bercerai.
Bram dan Diah bahkan seolah tak pernah saling menunjuk wajah, seperti pertengkaran-pertengkaran yang terjadi beberapa waktu sebelum Bram menalak dirinya dan di masa idah Diah yang selalu di warnai dengan keributan mereka berdua jika saling bertemu.
Semuanya benar-benar berubah banyak antara mereka, perpisahan telah mengajari mereka menjadi lebih tenang bahkan lebih dewasa.
Meski, Diah tak tahu dengan apa yang terjadi dengan kehidupan Bram tapi Diah menyadari sesuatu telah terjadi dan membuat Bram benar-benar berubah sangat banyak.
Dan menurut Diah, putusnya hubungan Bram dari Sally juga salah satu penyebabnya.
Sekarang mereka dipertemukan seperti dua orang baru, terasa sedikit asing tetapi kesannya lebih kearah dua orang teman yang pernah saling mengenal meski tak cukup dekat.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkan pakaian Bella untuk dua hari. Mas tunggu dulu di sini." Diah berdiri dari duduknya, baru dua langkah dia berjalan tiba-tiba Diah kembali berbalik.
__ADS_1
"Mas Bram belum makan?" Tanyanya.
"Oh, sudah..." Jawab Bram segera, dia berbohong karena tak nyaman, takut dia seakan memanfaatkan suasana.
"Mas Bram tidak bohong, kan? Aku dan ibu tadi masak ayam kalasan, baceman tahu dan lodeh. Masaknya banyak. Kalau Mas belum makan siang, bisa makan bersama kami." Tawar Diah.
Bram tak menyahut, matanya mengerjap sambil mendonggak dari tempatnya duduk, sebelum dia sempat menjawab untuk menolak, suara perutnya berbunyi lebih dulu, seperti bunyi kodok yang tercekat.
"Mas Bram, belum makan, kan?"
"Sebenarnya, belum...eh tapi nanti akan makan..." Bram bingung sendiri dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Sebaiknya mas Bram makan dulu, kebetulan kami juga akan makan siang." Ucap Diah tegas.
"Tidak usah." Tolak Bram meski setengah hati meski perutnya keroncongan tetapi memikirkan akan bertemu dan majan bersama dengan mantan mertuanya dia merasa ciut nyalinya.
Pasca bercerai, hubungannya dengan keluarga pihak Diah juga semakin jauh. Dia tahu, orangtua Diah pasti membencinya, bukan saja karena dia telah menyakiti Diah sekian lama tetapi dia telah menghadiahkan status janda pada anak perempuan mereka. Orangtua mana yang tak akan sedih jika di anaknya di khianati, di sia-siakan dalam pernikahannya?
Bram yakin, Diah telah menceritakan bagaimana sedihnya hidup bersama Bram selama menikah, bukankah orangtua adalah pelarian dari anak-anaknya untuk membawa masalah hidupnya? Selama ini, Bram sebenarnya sangat takut bertemu secara langsung dengan keluarga Diah, karena alasan itu.
"Papaaaa...." Bella muncul dengan memeluk boneka beruang yang hampir lebih besar dari badannya.
"Lihat boneka Bella."
__ADS_1
"Waaaah, bagus sekali. Siapa yang beli?"
"Mama."
Percakapan Bram dan Bella sejenak mengalihkan Bram dari Diah yang masih berdiri di depannya.
"Papa, Bella mau makan ayam. Mama goreng ayam. Papa mau?" Tiba-tiba Bella berceloteh. Bram hanya menaikkan alisnya, dia tersenyum lebar tapi tak punya kata untuk nenjawab sang anak.
"Mas, ikut saja denganku. Kita makan, tidak baik menolak rejeki." Suara Diah seolah tak bisa di bantah, sewaktu masih menikah dengan Bram Diah sangat penurut, jika Bram berkata tidak maka dia akan menunduk. Tetapi, sepertinya lepasnya status Diah menjadi istrinya membuat Diah terlihat lebih tegas dan percaya diri. Dia terlihat tangguh dan tak takut pada apapun.
Akhirnya, Bram mengangguk. Dia akan menghadapi orangtua Diah dengan berani, bahkan jika mereka mencaci maki dirinya sekarang, dia akan menerimanya. Hidup ini ada masanya memang harus menuai akibat dari setiap perbuatan kita di masa lalu.
Jika di maki oleh orangtua Diah itu salah satunya, maka Bram harus berani menerimanya. Perbuatannya sungguh begitu buruk pada puteri orang, andaipun Bella nantinya diperlakukan tidak baik oleh laki-laki lain, sebagai ayah dia pasti tak bisa menerimanya.
Bram berdiri dari duduknya, mengikuti Bella yang menarik-narik tangannya.
Diah berjalan lebih dulu. Di ruang makan, tampak duduk ibu Diah menghadap meja makan dengan makan siang yang tertata rapih, hanya ibu Diah seorang.
...***...
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
__ADS_1
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...