CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 87. MALAM YANG DI TUNGGU


__ADS_3

Bram menatap Aisyah dengan paras menghiba. Rasanya dia sungguh tak sabar duduk di kursi pelaminan sederhana yang di sediakan bagi mereka berdua tepat di teras rumah Aisyah.


Orangtuanya dan keluarga dekat barusan pulang karena sudah sore dan Bram memutuskan untuk menghabiskan malam pertamanya di rumah Aisyah. Mengingat acara itu bakalan panjang berkat ide-ide yang terlalu cemerlang dari mbak Retno dan mpok Mumun.


Mpok Mumun dan mbak Retno memang tak pernah gagal menjadi teman Aisyah, selain bersedia menjadi catering dadakan untuk warga sekitar dengan menu dari goreng ayam, gulai telor, daging semur, sampai sop ceker andalan mpok Mumun tersedia di atas meja, mereka berdua mengundang organ tunggal grup dangdut dari kampung sebelah.


Suasana jadi sangat meriah, semua tetangga yang datang makan sambil di hibur oleh biduan dangdut.


"Ini tidak ada di roundown acara, lho mbak..." Protes Bram.


"Stttt...aman mas Bram, kita siap handel sampai malam." Mbak Retno mengedipkan matanya pada Bram.


"Sampai malam?"


"Eh, kalau di kampung mpok, jangan kate sampai malem, sampai subuh hajar terus." Mpok Mumun menyela dengan riang.


"Laaah, sampe subuh?"


Bukan soal keberatan bayarannya tetapi keberatan panjangnya acara yang kata mpok Mumun bisa sampai subuh siap tempur itu.


"Rencana berdua dengan Aisyah kapan kalau acaranya sampai segala subuh? Mpok Mumun tidak manusiawi banget." Keluh Bram. Di liriknya Aisyah yang tampak berbinar riang, dia begitu bahagia melihat para anak pengajian datang dan begitu bergembira dengan pernikahannya.


"Alah, mas Bram soal belah duren mah gampang. Besok juga bisa." Sahut mbak Retno.


"Kapan lagi bisa jogetan beginian, jarang-jarang, lho. Lagian nikahan Aisyahkan cuma sekali. Janganlah pelit-pelit amat, mas Bram." Lanjut mbak Retno sambil nyengir pada Aisyah


"Ini bukan perkara pelit mbak..." Bram menarik nafasnya, dengan gemas menatap Aisyah yang sudah berganti dengan pakaian gamis warna pink berpadu biru pupus, hadiah dari Bram.


Pakaian pengantinnya tadi terlalu panjang dan sedikit berat, apalagi selepas ijab Qobul, keringat Aiyah karena tegang membuatnya lembab.

__ADS_1



Bram sendiri, tetap menjaga marwah dan pesonanya dengan kemeja bergaris warna putih yang elegant, satu-satunya pakaian yang ada dalam mobilnya selain sebuah celana pendek dan Tshirt putih.


Bram tak berencana menghabiskan malam di rumah Aisyah usai acara nikah tetapi memboyong istrinya itu ke rumah yang baru di belinya di sebelah restonya. Ranjang pengantinnyapun sudah di siapkannya bertabur bunga mawar di atasnya, dengan sepray sutera yang dipesannya secara khusus dari sebuah brand merk terkenal. Pokoknya persiapan unbox!ngnya hampir lebih matang dari persiapan nikahya secara totalitas.



Wajah sumringah para tetangga yang memberikan selamat, membuat Bram harus melebarkan senyumnya.


"Rencananya kan sederhana saja, mpok. Ntar resepsi kan bisa rame-rame." Ucap Bram masih saja cerewet, ketika Mpok Mumun mengantarkan es buah campur-campur andalannya. Segala macam buah di kebunnya sepertinya bercampur baur jadi satu di dalamnya . Dari nenas, rambutan, mangga, buah naga sampai nangka ada. Untung saja buah salak dengan pete yang lagi musim di kebunnya tidak di cemplunginnya juga.


"Nanti kalau resepsi di gedung gede ya kagak mungkin ngangkut tetangga sekampung macam gini. Jadi acaranya kita bikin aja ni hari, biar kalo warga bahagia doanya banyak juga, pengantennya dapet banyak restu, rumah tangganya adem ayem." Oceh mpok Mumun.


Bram memang tak pernah menang kalau soal berdebat dengan duo ini.


"Akh, mbak Retno, ngomong apa, sih?" Aisyah mencubit pinggang mbak Retno, entah berapa kali hari ini wajahnya di buat meona oleh godaan orang-orang.


Bella dan Tito membaur bersama anak-anak warga, Bella tak mau pulang karena merasa sangat seru bermain. Sopir akan menjemput sore, setelah acara selesai.


Dan akhirnya, Bram ikut-ikutan menikmati juga hiburan ala kampung yang murah meriah itu, dia tak pernah mengalaminya. Selamanya dia hanya tahu gedung dan band pengirin lengkap jika ada pernikahan, papanya adalah mantan sebuah kepala Dinas inatansi pemerintahan yang dimasa pensiunnya juga aktif mengelola CV. Mamanya, wiraswsta yang mengelola beberapa toko bakery dan bos rumah kost 25 pintu. Dia tak pernah merasa kekurangan dalam hidupnya.


"Ayo kita joget sebentar." Usul Bram pada Aisyah, membawa Aisyah menari bersamanya. Dia gemes melihat beberapa bapak-bapak yang asyik berjoget. Tentu saja Aisyah yang pemalu menolaknya. Ibu Aisyah hanya tertawa melihat tingkah pasangan suami istri baru menikah itu. Bram yang sedikit over aktif dan Aisyah yang terlihat malu-malu.


"Mas, hati-hati nanti encok, lho." Tegur Aisyah ketika Bram sedikit unjuk keahlian bergoyang sedikit mengikuti irama musik di depannya.


"Ya, tidak apa-apa encok dikit. Ada istri yang mijitin nanti malam." Sahut Bram konyol. Aisyah hanya melotot padanya dengan wajah bersemu merah.


Faraz dan anak-anaknya duduk di kursi, mata Adka remaja beranjak dewasa tujuh belasan lewat itu berkali-kali melirik kepada mbak Retno, tatapan kagum seorang brondong terhadap wanita dewasa.

__ADS_1


...***...


"Akhirnya, selesai juga." Bram duduk dengan lega, di atas tempat tidur Aisyah, ranjang kayu sederhana hanya berukuran nomor tiga itu. Sepraynya berwarna pink muda itu tidak baru tetapi sangat harum dan bersih. Pertama kali Bram masuk ke dalam kamar Aisyah. Dia hanya mengenakan celana pendek dan baju kaos tshirt warna putih.


Jam wekker di atas meja sudut kamar Aisyah yang tak seberapa besar itu, menunjukkan jam 20.32 WIB. Malam beranjak, para tamu sudah pulang menjelang magrib tadi. Abang pemilik organ tunggal dan dua biduannya juga sudah pamit setelah dapat bayaran dua kali lipat dari Bram karena berhasil memeriahkan acaranya hari ini.


Mpok Mumun dan Retno juga sudah selesai membersihkan sisa-sisa acara bersama beberapa tetangga lain, mengangkut semua piring dan tempat saji ke rumah mpok Mumun. Yang masih berdiri hanya tenda dan kursi. Pemilik rental tendanya berjanji besok mengambilnya dengan pick up.


"Sttt...Jangan lupa yang mbak Retno ajarin, ya..." Mbak Retno sempat-sempatnya mencolek Aisyah yang akan pergi ke kamar mandi, sebelum dia pulang tadi. Kamar mandi di rumah Aisyah terletak di belakang dapur dekat dengan tempat menjemur pakaian.


"Memangnya mbak Retno ajari apa?" Tanya Bram, dengan mimik penasaran.


"Rahasia, mas..." mbak Retno tertawa sambil mengedipkan mata kepada Aisyah. Yang dikedipin malah kabur.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Bram menoleh pada Aisyah, yang muncul dengan rambut basah dan pakaian panjang. Dia terlihat begitu segar dan cantik.


"MasyaAllah..." Bram menatap Aisyah seolah baru pertama kali melihat istrinya itu. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya dia melihat Aisyah tanpa jilbabnya.


Rambutnya panjang sedikit ikal, tergerai hitam dan sedikit basah.


Darah Bram segera naik tanpa di komando sampai ubun-ubunnya.


Ini malam yang ditunggunya!



Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis

__ADS_1


__ADS_2