CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 84. RESTU MANTAN ISTRI


__ADS_3

"Ummi, ayo Bella kenalkan dengan mama..."


Bella menarik tangan Aisyah menuju meja makan di mana Diah tampak segera berdiri menyambut Aisyah dengan senyumnya yang ramah.


"Mama, ini Ummi Aisyah yang suka mengajarkan Bella mengaji kalau papa membawa Bella ke rumahnya. Suara ummi sangaaaaat merdu, seperti suara mama kalau bersholawat." Bella mengoceh panjang dengan suara manja, tangannya bergelayut menarik tangan Diah tanpa melepas tangan Aisyah.


"Oh, ya...? Subhanallah, senangnya bisa bertemu dengan ummi Bella, yang selalu Bella ceritakan itu." Diah tersenyum lebar pada Bella, dia senang melihat keceriaan anaknya itu yang begitu bersemangat memperkenalkan Aisyah padanya.


"Assalammualikum, mbak..." Aisyah langsung menyalami Diah sambil membungkukkan badannya dengan sikap hormat tetapi Diah menahan bahunya dan menarik tubuh Aisyah yang gemetar karena gugup ke pelukannya.


"Wallaikumusalam adik..." Sambutnya dengan hangat, matanya yang teduh bening itu tak bisa menyembunyikan kaca-kaca di sana. Rasa haru merasuk bathinnya, entah perasaan aneh apa yang menggelayar saat dia bersentuhan dengan perempuan yang akan menggantikan tempatnya dalam kehidupan mantan suaminya itu.


Cemburu? tidak! Tentu saja tidak, karena Diah telah mendapatkan semua cinta dan kasih sayang dari Doddy, suaminya. Perasaan cemburunya telah mati dari saat Bram melarikan diri dengan Sally bertahun-tahun yang silam.


Yang ada hanya rasa simpati yang luar biasa pada sosok gadis uang telah berhasil menahlukkan hati mantan suaminya itu. Hati yang dingin, kejam dan sekeras batu yang pernah di kenalnya.


Bram yang menyalami Doddy melongo melihat bagaimana Diah memperlakukan Aisyah


"Silahkan duduk, terimakasih sudah datang." Doddy mempersilahkan mereka duduk.


"Saya yang harus berterimakasih untuk ini." Bram menyahut, ingatannya melayang pada terakhir kali dia bertemu Doddy hampir dua tahun yang lewat.


Di sebuah cafe, di mana dia mencoba mengikhlaskan pernikahannya dengan Diah berakhir dan laki-laki yang secara terang-terangan mengakui perasaannya pada Diah adalah laki-laki ini.


"Apakah kamu mencintai istriku?" Pertanyaan itu pernah dilontarkannya kepada Doddy dan apa jawabnya, hampir membuat Bram kehilangan akalnya,


"Ya...aku mencintai Diah. Aku mencintai Diah, jauh sebelum kamu mengenalnya dan menikahinya. Aku mencintai Diah bahkan...bahkan Diah sendiripun tak pernah tahu jika aku jatuh cinta padanya." Ucapan itu di kira Bram hanya sebuah perasaat sesaat yang sari Doddy, pemuda lajang teman sekolah Diah dulu.


Tetapi sekarang, dia meyakininya dengan melihat bagaimana Diah dalam penampilannya yang jauh lebih bahagia saat bersama Doddy.


Perempuan akan terlihat terawat dan bahagia pada laki-laki yang tepat dan Bram tak menyesalinya lagi.


Kadang kala segelintir orang dipertemukan pada jodoh yang tak tepat sampai bertemu dengan jodoh yang sebenarnya, supaya tidak mengulang kesalahan yang sama pada pasangan kita selanjutnya.


"Mas Bram..." Diah mengulurkan tangannya, sebelum dia duduk di seberang meja. Tangan itu terasa hangat dan asing.


Bram tersenyum dengan kikuk, melirik pada Doddy dan Aisyah bergantian.

__ADS_1


"Aku sudah memberitahukan soal keinginanmu bertemu Diah, sehubungan dengan pernikahanmu..."


Doddy memulai pembicaraan sambil menyodorkan sebuah menu table ke depan Bram.


"Maaf untuk ini..." Bram menyahut dengan suara tak nyaman.


"Tidak apa-apa." Diah menyahut sambil melempar senyum manisnya kepada Aisyah.


"Kakek dan nenek Bella telah memberitahuku kalau akan ada pernikahan besok." Diah menambahkan.


"Oh, maafkan aku...seharusnya aku memberitahukan sendiri. Tapi, aku benar-benar lupa. Terlalu fokus untuk persiapannya." Wajah Bram memerah, dia tak nyaman mendengar penjelasan Diah. Seharusnya, dia ingat memberitahukan kepada Diah, biar bagaimanapun Diah adalah ibu dari Bella.


"Di maklumi saja, kalau mau jadi pengantin itu pasti lupa segalanya, yang mau di lakukan bisa lupa-lupa. Kebanyakan yang lewat di kepala." Doddy mengerling pada Diah.


Suasana cair begitu saja, Bram dan Aisyah yang sedikit banyak tegang memikirkan pertemuan itu ternyata kecemasan mereka berdua tak beralasan sama sekali.


"Ada apa Mas Bram? Apa yang bisa kami bantu untukmu dengan Aisyah?"


Tanya Diah, akhirnya setelah beberapa basa-vasi dengan Aisyah seputar kesibukan masing-masing sambil mereka menunggu pesanan makanan datang.


"Aku mau minta bantuanmu untuk mencarikan baju...maksudku pakaian pengantin yang cocok untuk Aisyah." Bram menyentuh bahu Aisyah dengan lembut. Aisyah hanya menganggukkan kepalanya, dia malu sendiri dengan tingkah calon suaminya ini yang minta bantuan ke mantan istri hanya untuk urusan baju. Tapi, mau apa lagi? Besok acaranya, jadi dia pasrah saja.


"Ooooh...begitu. Tentu saja bisa." Diah menatap manis kepada Aisyah, seperti sayangnya seorang kakak kepada adik. Umur mereka terpaut cukup jauh, mungkin sepuluhan tahun. Jadi, Diah merasa Aisyah benar-benar seperti seorang adik perempuannya.


"Aisyah mau bajunya seperti apa? Warna, motifnya bagaimana? Bahannya apakah dari satin, organza, taffeta atau brokat mungkin? Nanti aku akan menghubungi kak Sarah."


Aisyah menoleh kepada Bram sebentar, dia tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Diah. Bram hanya menggedikkan bahunya, dia juga tak tahu selera Aisyah, kecuali melihatnya setiap hari menggunakan kemeja atau baju gamis yang di balut hijapnya.


"Terserah mbak Diah saja." Akhirnya Aisyah menjawab pasrah.


"Lah, yang menikahkan dik Aisyah, yang cantik dan cocok seperti apa? Atau begini saja, besok aku akan membawamu ke butik kak Sarah? Biar kita bisa pesankan."


"Aaaah, itu masalahnya." Bram memotong cepat.


Diah mengalihkan perhatiannya kepada Bram. Mengerutkan dahinya dengan heran.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Kami akan menikahnya besok, tidak sempat lagi memesan..." Jawab Bram dengan pias bersemangat.


"Haaah..." Diah dan Doddy bertukar pandang, terkejut.


"Mama bilang, waktu aku menjemput Bella kemarin dari rumah neneknya mungkin seminggu atau dua minggu lagi?"


"Oh, yang mama bilang itu mungkin resepsinya. Untuk ijab qobulnya besok."


"Astaga, Bram? kok tergesa-gesa sekali?" Doddy sampai lupa mengatupkan mulutnya.


"Takut keburu Aisyah dilamar orang lagi." Jawab Bram. Di sambut tawa Doddy dan Diah. Aisyah menunduk dalam-dalam. Bram memang suka membuatnya sakah tingkah di depan orang.


Pertemuan dua keluarga yang si satukan oleh seorang anak anak dan kenangan masa lalu itu sungguh berlangsung hangat. Diah menjanjikan mengirim baju untuk ijab qobul Aisyah besok pagi-pagi sekali lewat seorang sopir kepada Bram. Bahkan Diah menjanjikan akan menghadiahkan sepasang baju pengantin untuk resepsi Bram dan Aisyah dari butik Sarah.


"Kirim saja tagihannya kepadaku." Bram menyambut dengan senang, satu permasalahan telah terpecahkan, dia bisa tidur dengan lega malam ini.


"Tidak usah, Bram. Itu hanyalah bentuk kecil dari restu kami untuk pernikahanmu." Doddy menyela sambil melingkarkan tangannya di bahu Diah. Sikap itu segera membuat Bella cemburu, dia naik ke pangkuan Doddy.


"Bella juga ikut nikah, ya." Ocehnya, di sambut derai tawa semua orang.


Diah menatap lembut pada Aisyah, senyumnya terkembang dengan tulus,


"Jangan pernah sia-siakan adikku Aisyah, mas Bram. Bahagiakan dia dunia dan akherat." Ucap Diah dengan suaranya yang setenang air mengalir.


(Kadangkala perpisahan jauh lebih baik dari pada bertahan dalam rumah tangga yang tak sejalan🙏🤗 Dan maaf untuk masa lalu, menerimanya dengan lapang apapun yang telah terjadi justru memberi jalan untuk kebahagiaan menemukan celahnya kepada kita😉)


...



Masa lalu dan masa depan Bram...


(Tetaplah berusaha menjadi orang baik dan tulus dengan begitu setidaknya meski sakit kita masih bisa tersenyum😅)


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis

__ADS_1


__ADS_2