CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
Bab 83. DOUBLE DATE


__ADS_3

"Kita akan bertemu Diah..." Itu yang di katakannya yadi siang usai menelpon Doddy.


"Mbak Diah?" Aisyah tertegun. Bram menganggukkan kepalanya, melihat reaksi Aisyah. Tak ada kilat cemburu yang di takutkannya akan terpampang di sana. Aisyah hanya terkejut dan sedikit takut.


"Apakah...apakah tidak apa-apa? " Tanyanya kemudian dengan ragu.


"Aku dan Diah tak menyimpan perasaan apapun lagi, kami mempunyai kehidupan sendiri-sendiri. Tidak ada yang bersisa kecuali tali silahturahmi demi Bella, anak kami."


"Aku tidak mengkhawatirkan itu."


"Lalu? Kenapa ekspresimu terlihat..."


"Aku hanya khawatir mbak Diah tidak menyukaiku sebagai ibu sambung untuk Bella." Sahut Aisyah.


Bram tersenyum lebar, Aisyah sungguh tak mengenal Diah, meskipun mantan istrinya itu begitu keras hati tetapi tak ada perempuan yang di temui Bram dalam hidupnya, melebihi ketulusannya sampai hari ini.


"Aisyah, Diah sudah menikah...dan aku juga tak berkeberatan dengan itu. Bella juga mendapat kadih sayang dan perhatian yang sama dari kami berdua meski tak lagi bersama. Kamupun sudah begitu akrab dengan Bella, aku rasa tak ada masalah dengan itu."


"Tapi...bagaimana kalau mbak Diah mungkin merasa aku tak cocok untuk mas Bram?"


"Hey, pertanyaan macam itu?" Bram balik bertanya, mukanya merengut menatap Aisyah.


"Cocok atau tak cocok itu aku yang lebih tau, yang menikah kan aku bukan dia. Lagian, Diah tak pernah mengurusi semua urusanku. jangan over thinking begitu..."


"Aku...aku tidak sepintar mbak Diah, tidak secantik dan tidak mengerti fashion seperti mbak Diah..." Aisyah menggigit bibirnya.


"Astaga, sayangku Aisyah. Ku kira kamu cemburu dengan Diah tapi malah kamu insecure dengannya, dengan orang yang tak pernah sekalipun kamu lihat dan temui." Bram tertawa sambil memeluk bahu Aisyah.

__ADS_1


Aisyah menundukkan wajahnya yang merah, dia tak menyahut apapun.


"Dengarlah sayangku, Aisyah." Bram menurunkan suaranya karena abang tukang es kelapa itu terlihat mencuri pandang dari tadi melihat pada mereka berdua.


"Aku tak akan membandingkan dirimu dengan apapun atau siapapun. Kamu adalah Aisyah yang ku mantapkan menjadi calon istriku, calon ibu untuk anak-anakku. Aku tahu kamu bukan yang pertama dalam hidupku tetapi aku berharap kamulah yang terakhir bagiku." Bram menowel hidung Aisyah yang bangir itu, sekarang tangannya memang suka nakal colek mencolek, sedikit-sedikit merangkul. Jika Aisyah menegurnya maka Bram akan berdalih.


"Sebentar lagi kamu istriku, tidak apa-apa lah ku pegang dikit-dikit, dosanya aku yang tanggung daaaah."


Si Duda mantan cassanova ini jangan di tanya kalau soal kerajinanan tangan di masa berkubang dalam perburuan wanita, Sally hanyalah salah satu dari semua obsesinya di masa lalu. Banyak perempuan yang singgah saat dia terlibat dalam pernikahan dengan Diah. Tetapi, di depan Aisyah, buaya ini jinak luar biasa. Dia akan segera menurunkan tangannya jika melihat Aisyah melotot padanya.


"Bukan Muhrim, mas..."


"Belum halal, dosa mas."


Mata Aisyah tak berkedip menatap Bram, seolah tersihir dengan kalimat yang di ucapkan oleh Bram padanya.


"Kenapa?" Tanya Bram sambil menatap mata bulat Aisyah.


"Astagfirullah, Aisyaaah. Mas Bram khilaf..." Bram terkekeh sambil menurunkan tangan kanannya lalu dengan tingkah lucunya dia memukul punggung tangannya sendiri dengan tangan kirinya.


"Tangan nakal, eh! Tidak bisa menahan diri, besok aja sabar. Puas kamu gerilya." Ocehnya.


"Mas!" Aisyah memanggil dan memberi isyarat pada si abang tukang es kelapa yang melongo melihat polahnya.


"Bukan salahku, Syah...siapa suruh kamu cantik." Gumam Bram sambil menyeruput es kelapanya di gelas ketiga, bertepatan dengan Tito yang melambaikan tangan dari gerbang sekolah tepat di seberang kedai es kelapa.


...***...

__ADS_1


Bram menggandeng tangan Aisyah menuju meja sebuah resto tempat Doddy mengundang mereka untuk makan malam bersama. Malam ini benar-benar Doddy mengatur Double Date untuk mereka.


Di sana telah duduk dua orang yang sangat di kenalnya, Doddy dan Diah.


Mantan istrinya itu terlihat elegan dengan atasan peach satin sementara Doddy seperti biasa, kalem dan tampan dalam baju kemeja putihnya yang terlihat kinclong.


"Papaaaa..." Bella melompat dari kursi dan menghambur ke pelukan papanya itu dengan girang, lalu dengan tanpa sungkan setelahnya memeluk Aisyah.


"Ummi...!" Panggilnya dengan raut rindu, setelah beberapa kali bertemu dengan Aisyah dia terbiasa memanggil Aisyah dengan ummi karena meniru panggilan Tito kepada Aisyah.


"Apa kabar, Bella?" Tanya Aisyah sambil mencium dahi anak gadis itu.


"Kabar baik, ummi. Mana abang Tito?"


"Abang Tito di rumah." Jawab Aisyah lembut.


"Ummi, ayo Bella kenalkan dengan mama..."



...Doddy ❤️ Diah...



...Bram ❤️ Aisyah...


(Tuh...kan kurang baik apa othor😅 Double UP lho🤣 Kemarin ada error Noveltoon jadi reviewnya lama, makasih sudah setia menunggu❤️😅)

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis


__ADS_2