
Mesjid masih sepi, jam menunjukkan jam 09.30 WIB. Setelah Menelpon Aisyah Bram langsung berangkat dari kantornya. Dia benar-benar tak sabar hari ini sehingga datang lebih awal. Dia berencana langsung ke rumah abah tetapi lelaki tua itu sudah berada di halaman mesjid, seperti sedang menunggu seseorang.
Dan Bram merasa abah sedang menunggunya.
Bram datang langsung untuk menemui abah di halaman mesjid tempat abah menjadi muadzin, meskipun belakangan ini dia tugasnya banyak di ambil alih oleh seorang takmir yang masih muda mengingat kesehatan abah yang tak begitu baik.
Dengan penuh kerinduan dan hormat, Bram menciumi tangan abah.
Entah mengapa, Bram merasa kalau wajah abah hari ini lebih bersinar dari biasanya.
"Nak, Bram...apa kabarmu, nak?" tanya Abah sambil menepuk lembut bahu Bram.
"Alhamdulillah abah, saya sehat-sehat saja." Bram membungkuk pada abah.
"Alhamdulillah Wa Syukurillah..." Abah menyahut dengan wajah berseri.
"Bagaimana dengan keadaan abah?"
"Abah sekarang jauh lebih baik. Allah telah memberiku begitu banyak anugerah. Semuanya terbukti dari banyaknya kesempatan berbuat baik yang datang berkali-kali kepadaku dalam keterbatasan ini. Allah masih membangunkanku pagi ini dan memberiku kesempatan melihat matahari dan menghirup udara. Bukankah tak ada nikmat yang melebihi itu?"
Bram menganggukkan kepalanya, dengan takjub. Dalam keadaan apapun, sepertinya abah selalu mengajarkan Bram untuk senantiasa bersyukur.
"Nak Bram, hari ini nak Bram tidak sibuk?" Tanya Abah tiba-tiba.
"Tidak abah." Jawab Bram, meski sekelebat tumpukan laporan belum di selesaikannya, tetapi tak bijak rasanya jika dia mengatakan dia memiliki banyak pekerjaan pada abah yang tampak begitu bahagia hari ini.
__ADS_1
"Hari ini, abah ingin sekali nak Bram menemani abah."
"Tentu saja, abah."
"Menemani abah hingga matahari tenggelam di ufuk barat."
Bram tertegun, menatap abah dengan bingung.
"Nak Bram, bagaimana perkembangan berita ayah Isah? apakah sudah ada kabarnya?"Tiba-tiba abah mengernyit dahinya, bertanya dengan serius.
Sejenak Bram terpaku. Dia tidak tahu apakah dia harus mengatakan sekarang mengenai keberadaan abah Aisyah ataukah nenunggu dia berdiskusi dengan Aisyah.
"Saya...sebenarnya... mendapat sedikit informasi..." Bram berucap ragu.
"Oh, ya? Informasi apa? Di mana dia sekarang" Abah terlihat antusias.
"Tidak apa-apa nak, abah mengerti." Tiba-tiba abah menyela kalimat Bram yang meragu.
"Abah percaya padamu, pasti menemukannya suatu saat nanti. Hanya jika nanti nak Bram bertemu dengannya, katakan padanya, saat dia mengkhianati kepercayaan orang yang begitu mempercayai dirinya, dia juga telah mengkhianati dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dikecewakan oleh satu orang yang kamu pikir tidak akan pernah menyakitimu." Sesaat wajah tua itu menjadi keruh.
"Jika kita telah menemukan ayah Aisyah, abah bisa mengatakannya langsung." Sahut Bram, tiba-tiba merasa tak nyaman dengan kakimat yang di ucapkan abah.
"Ada kalanya, kita tak bisa mengucapkan sendiri sesuatu yang ingin kita katakan jika waktu itu tiba." Wajah abah kembali berseri, senyumnya merekah tiba-tiba.
"Karena waktu Tuhan, bukan waktu kita." Lanjut Abah yang membuat Bram tergugu, matanya tertuju pada laki-laki yang tampak begitu bijak itu.
__ADS_1
"Oh, iya nak Bram, Mesjid sudah menerima bantuan nak Bram untuk alat kebersihan dan dana untuk cat ulang. Masya'Allah nak Bram semoga nak Bram menerima keberkahan dan segala pintu rejeki terbuka untuk nak Bram." Tiba-tiba Abah mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Amin ya Allah. Terimakasih Bah, do'anya. Semoga bisa membantu."
"Tentu saja, nak Bram telah membuat amal yang sangat baik dan tentunya bernilai pahala besar di sisi Allah. Mesjid bersih dan nyaman, masyarakat yang beribadah juga merasa nyaman, bukankah itu perbuatan amal yang sangat baik nak." Suara abah terdengar hangat.
"Abah juga merasa senang sekali melihat nak Bram sekarang menjadi lebih bahagia. Suatu saat akupun ingin melihat Aisyah mempunyai pancaran kebahagiaan seperti yang kini kamu rasakan. Selama ini aku tahu Aisyah hanya berusaha tersenyum tanpa pernah tersenyum dengan sesungguhnya. Do'aku, seseorang bisa mengembalikan senyum anakku yang malang itu. Dan membahagiakannya dunia dan akherat."
Bram tersipu, sambil memeluk sajjadahnya. Entah mengapa, hatinya menghangat mendengarnya, untuk menyembunyikan piasnya yang berubah mendadak, Bram segera permisi untuk berwudhu.
Beberapa saat kemudian, Bram sudah siap masuk ke dalam mesjid. Dia berdiri di belakang abah. Melalukan sholat tahiyatul dua rakaat. Sementara orang-orang sekitar sudah masuk ke mesjid yang tak terlalu besar itu.
Setelah itu dia Ber'itiqaf sambil membaca Alquran dan dzikir sambil menunggu khatib naik ke atas mimbar berkhutbah.
Hari ini abah memilih menjadi makmum karena tugasnya sebagai muadzin telah di gantikan dari saat beliau jatuh sakit.
Ibadah berjalan dengan khidmat. Bram benar-benar menikmati ibadah hari ini. Dia mendengarkan khubah dari khatib dengan begitu seksama.
Tentang bersyukur atas rahmat dan anugerah Allah meski berada dalam kesesakan. Karena, Tuhan tak akan memberikan ujian tanpa maksud dan makna di baliknya. Khutbah itu terasa begitu tepat dan menyentuh hati Bram.
Saat sholat jumat itu selesai, Bram berdiri dan menghampiri abah karena melihat Abah yang tiba-tiba bersujud menghadap ke arah kiblat.
"Abah?" Bram menyentuh bahu laki-laki itu, yang diam membisu tetap takzim dalam sujudnya.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏