
Sesaat mereka terdiam, Bram meraih gelas tehnya dan kemudian matanya tertuju pada bocah tampan yang tampak sedang serius mengajarkan sesuatu pada Bella di kertas.
"Dan...bagaimana bisa ayah Tito meninggalkan perempuan sebaik kamu, Aisyah?"
Pertanyaan itu hampir di keluarkan oleh Bram dari mulutnya, tetapi kemudian dia menyadari pertanyaan itu terlalu lancang untuk di lontarkan olehnya. Bram mengurung niatnya untuk menanyakan hal yang paling menggelitik fikirannya ketika melihat sosok Aisyah.
Aisyah mungkin bisa mengomentari semua hal tentang kehidupan Bram karena Bram tidak menaruh semuanya sebagai rahasia, dia telah jujur pada Abah dan sedikit banyak sebagai anak, Aisyah tahu tentang bagaimana dirinya dari abah.
Tetapi kehidupan Aisyah, dia tak berhak bertanya jika perempuan itu tak mengatakannya lebih dulu.
Mereka bukan siapa-siapa. Tak ada hubungan yang melandasi mereka boleh saling bertanya untuk hal yang terlalu privacy. Setidaknya hal itu berlaku bagi Bram, yang disini hanya datang mencari ketenangan hati bersama Abah, seseorang yang telah berjasa banyak menariknya dari dalam lumpur dosanya sendiri.
Jika dilihatnya, Aisyah adalah sosok yang baik, dewasa, sholehah? Kenapa ada orang yang tega menyakitinya?
Tapi ketika dia memikirkan ke sana, kemudian dia sadar sendiri, banyak laki-laki brengs3k di luar sana yang mungkin kesulitan menghargai miliknya sendiri. Contoh realnya adalah dia sendiri!
Bram ingat Diah, mantan istrinya itu adalah perempuan yang sempurna di mata orang lain tetapi Bram telah berlaku kejam. Dirinya adalah Manusia dari segelintir golongan brengs3k itu, yang tak menyadari memiliki berlian di genggaman tetapi silau oleh emas sepuhan.
Jika dia bertanya pada Aisyah, bagaimana Tito bisa tega menyakiti Aisyah, maka itu seperti menampar wajahnya sendiri.
"Ketika menghadapi perpisahan kedua orang tuaku saat usia sangat belia kemudian menginjak remaja dan menjadi dewasa, hal yang paling kurasakan adalah merasa pesimis pada cinta." Aisyah sekarang mengalihkan pandangannya pada Bram yang segera melempar pandangan ke arah lain, berpura-pura melihat ke arah Bella. Dia tak enak hampir terciduk sedang menatap wajah perempuan berhijab yang terlihat begitu muda saat dilihat lebih seksama.
"Yang tertanam di benakku, orang tuaku yang dulunya saling sayang kenapa bisa berpisah? Apakah suatu saat aku juga akan berakhir seperti itu? Apakah ada yang bisa kupercayai dan menemukan cinta sejati? Kenangan perpisahan, perasaan sedih, kecewa yang kualami ketika kecil membekas dan membuatku begitu pesimis memandang hubungan pria dan wanita. Aku takut hal serupa akan di alami Bella."
__ADS_1
Kelanjutan kalimat itu membuat Bram seketika terhenyak, tak terfikirkan olehnya jika seorang anak sekecil Bella bisa merekam hal seperti itu dalam ingatan dan ketakutannya pasca perceraian mereka.
"Apakah akan separah itu?" Tanya Bram tanpa sadar, seolah dia tak yakin dengan apa yang di dengarnya.
"Yang pernah aku tahu, dampak orang tua bercerai sebenarnya pada anak bisa sampai kepada sikap agresif yang sudah merusak seperti kemarahan tak wajar pada orang-orang di sekeliling dengan alasan supaya orang lain juga merasa tidak bahagia seperti yang dialaminya. Kemarahan-kemarahan tak wajar ini seringnya ditunjukkan dengan sengaja membuat kesal, bikin keributan di sekolah, memberontak terhadap aturan yang dibuat di rumah dan sekolah serta sengaja membuat orang di sekeliling marah. Tapi sepertinya tidak berlaku pada Bella, mbak Diah tahu benar cara mendidik Bella. Seharusnya, mas Bram bersyukur dengan itu."
Sekarang Bram tak bisa menampik betapa dia kagum dengan kedewasaan Aisyah, dalam kesederhanaannya dia mempunyai banyak pengetahuan dan pemikiran serta mampu menilai sesuatu dengan sudut pandang yang bijak.
"Aku bersyukur pernah memiliki Diah dalam hidupku." Sahut Bram, dengan sejujur hatinya.
"Seharusnya mas Bram lebih berusaha memperbaiki semuanya. Tak ada yang terlambat."
"Maksudmu?"
Pertanyaan Aisyah yang tak di sangka-sangka membuat Bram tertegun entah untuk ke berapa kalinya.
"Itu...Itu tidak mungkin. Kami sudah bercerai. Aku dan Diah sudah bercerai." Jawab Bram dengan setengah tergagap.
"Apakah mas Bram masih memikirkan perempuan yang telah membuat mbak Diah terkhianati itu?"
Bram benar-benar kehilangan kata-kata, suara Aisyah tidak keras, bahkan mungkin hampir hanya mereka berdua yang mendengarnya tetapi membuat Bram terpana.
Kepala Bram menggeleng kuat, dirinya sekarang tak bisa bohong, mulai merasa tersudutkan dalam obrolan mereka berdua.
__ADS_1
"Aku sudah tak lagi memikirkan siapapun yang bisa membuatku terjerumus lagi."
Aisyah tersenyum hangat, terlihat misterius. Bahkan Bram tak bisa menyelami kedalaman hati perempuan yang duduk santun pada kursi kayu di depannya itu.
"Apakah mas Bram benar-benar tidak mencintai mbak Diah?" Tanya Aisyah sejurus kemudian, seperti memecut telinga Bram,
Sesaat Bram dan Aisyah berbalas tatap. Hening menyelimuti antara mereka, kecuali suara gelak tawa Bella terdengar, di sambut suara Tito yang menimpali dengan kata,
"Bella benar-benar pintar..."
Mata Bram tertumbuk pada jam dinding yang menunjukkan jam 20.15 WIB.
"Sudah sangat malam, kami berdua Bella harus pulang. Neneknya mungkin mengkhawatirkan kami, tadi aku pamit pada mama hanya mengajak Bella keluar sebentar." Ucap Bram kemudian, dia harus menyudahi pembicaraan mereka yang terasa semakin dalam itu. Aisyah mungkin tak mengerti, semua yang terjadi dalam rumah tangganya tidak sesederhana yang difikirkan Aisyah. Sungguh tidak sederhana, karena semuanya sangat rumit sejak dia tahu, Doddy mencintai Diah.
...***...
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1