
Adka berjalan di depan adiknya dengan muka masam, dia kesal adiknya itu telah mengganggunya untuk bertemu dengan mbak Retno yang cantik itu.
"Siapa yang mencariku?" Tanyanya dengan raut yang masih saja kesal.
"Gak tauh..." Aqsa memang berusia 10 tahun sekarang tetapi dia sangat lambat untuk bis berbicara, saat lahir dia memang mengalami kelainan. Tetapi biar pun kondisi adiknya seperti itu Adka sangat menyayangi Aqsa karena dengan melihat Aqsa dia seperti sedang melihat wajah ibunya.
Yah, aqsa memang lebih mirip dengan ibunya, kulitnya juga putih seperti almarhum ibunya. Sejelek-jeleknya orang bercerita tentang bagaimana ibunya di masa lalu, Adka tetap menyayangi ibunya. Setidaknya, ibunya telah membesarkannya seorang diri sampai bertemu ayah tirinya Faraz, dengan penuh kasih sayang, terlepas apa yang telah di perbuat oleh ibunya yang kata orang telah merebut suami orang di masa lalu.
"Dia dimana sekarang?"
"Di hepan masjid." Jawab Aqsa, lalu dengan lincah berjalan mendahului Adka, mengarahkan Adka supaya tidak berbelok menuju depan rumah tetapi terus menuju jalan ke arah mesjid.
Adka tak lagi bertanya, dia penasaran dengan orang yang katanya sangat ingin bertemu dengannya itu, padahal hari sudah menjelang soere sebentar lagi akan magrib.
Tak lama mereka tiba di pekarangan mesjid dan benar saja ada seseorang yang memarkirkan mobilnya, sebuah mobil mewah merk Mercedez warna merah.
Adka mengerutkan kening ketika melihat siapa laki-laki yang berdiri di depan mobil itu, Lelaki setengah baya di usia hampir melewati kepala empat itu mungkin, tetapi tubuhnya tegap dan gagah. Ingatan Adka segera melayang pada saat acara resepsi pernikahan kakanya Aisyah, laki-laki itu yang tak sengaja di tabraknya saat acara berlangsung dan memanggilnya dengan nama "Fathan".
Nama itu sayup sayup di ingatan Adka yang kala itu berusia tiga atau empat tahun. Nama yang di panggil oleh seorang laki-laki yang di panggilnya ayah, tetapi lebih sering berteriak dan memukul ibunya, entah mengapa.
Ingatan itulah yang paling melekat di kepalanya, selebihnya dia lupa karena ibunya kemudian membawanya pergi dan setelah itu dia tak pernah lagui mendengar panggilan "Fathan" di tujukan padanya.
Nama Lengkap Adka di akte adalah Adka Alfathan Dzimar. Panggilannya adalah Adka, orang tak pernah memanggil nama kecilnya dengan Fathan, karena itu menurut ibunya di berikan oleh neneknya, ibu dari ayah kandungnya.
"Fathan."Laki-laki itu menoleh pada Adka, senyumnya terkembang. Dan Adka merasakan dadanya bergetar hebat, wajah ini begitu dekat di ingatan tetapi terlalu samar.
__ADS_1
"Aqsa, pulanglah. Pergilah mandi dan berganti pakaian, datang kembali ke mesjid bawakan peci dan sarungku, sebentar lagi akan magrib. Katakan pada ayah, biar aku yang akan mengumandangkan adzan." Ucap Adka pada adiknya itu. Tangannya melihat ke arah jam tangan di pergelangan tangannya, empat puluh lima menit lagi waktunya adzan Magrib.
Aqsa segera berlari pulang mendengar instruksi dari kakaknya, senyumnya sumringah karena di bawa sholat magrib di mesjid.
"Fathan, akhirnya aku menemukanmu." Laki-laki itu tersenyum padanya sambil mendekat seolah hendak memberi pelukan padanya. Adka mundur beberapa langkah, membuat laki-lai ini terdiam. Suatu penolakan yang sangat jelas dari Adka.
"Aku tak mengenalmu." Ucapnya dengan tatapan waspada.
"Fathan, aku sudah mencarimu kemana-mana." Lanjut laki-laki itu dengan bersemangat.
"Akhirnya aku menemukan alamat rumahmu di sini, untung saja aku bertemu denganmu di acara pernikahan kolega, pak Bram itu. Aku sungguh tak menyangka ternyata kamu mempunyai hubungan dengan isteri dari pak Bram."
"Mencari siapa?" Adka menyela, matanya melotot sekarang pada laki-laki ini.
"Mencari kamu dan mamamu."
"Aku dan mama? anda siapa?"
"Aku Januar Herlambang Dzimar, nama yang pasti tertera di dalam aktemu sebagai salah satu dari orangtuamu." Jawaban itu terdengar yakin, senyumnya mekar lebar.
Adka benar-benar terperangah, dia mundur selangkah lagi, lalu bayangan masa lalu di waktu dia kanak-kanak seperti berbaris layak bayang-bayang di ingatannya. Ibunya yang menangis, neneknya yang berteriak memaki ibunya dan seorang ayah yang selalu memukul ibunya jika ibunya menjawab setiap kalimat yang di ucapkannya.
Dia terkejut dan terpukul dalam waktu yang bersamaan, seorang ayah yang tak pernah dirindukannya ternyata muncul tiba-tiba seperti hantu di hadapannya.
"Papa?" Mulut Adka terkesima, dia menatap tak percaya pada laki-laki perlente dalam balutan pakaian mahal itu.
__ADS_1
"Ya, aku papamu?" Laki-laki yang memang agak sedikit mirip dengannya dari garis wajahnya itu tersenyum lebar seolah baru saja berhasil membuka ingatan pemuda tampan sederhana di depannya itu.
"Papa? aku gak punya papa, aku cuman punya ayah." Jawab Adka dengan ketus, entah mengapa kemarahannya tiba-tiba naik mendengar laki-laki yang telah bertemu dengannya dua kali itu mengakui tanpa tedeng aling-aling bahwa dia ayahnya.
"Fathan, aku telah berkeliling mencarimu dan mamamu, dan aku baru tahu beberapa bulan yang lalu jika mamamu sudah..."
"Aku gak perlu cerita omong kosong anda, ayahku ada di rumah sekarang dan anda jangan mengada-ngada." Rahang Adka bergemeretak, pemuda tanggung yang sempat terlihat bingung itu, wajahnya memerah. Ingatan-ingatannya berlompatan dan begitu mengganggu.
"Aku tak mengada-ngada. Aku ayah kandungmu! Aku adalah papamu, Fathan."
"Jika kamu ayahku, kenapa baru sekarang kamu mencari aku dan mama? Kemana saja? Apakah kamu menunggu mama mati baru datang?" Kalimat itu tersembur dengan geram dari mulut Adka.
"Maafkan aku, nak. Aku selama ini mencari kalian tetapi ibu menghilang bagai di telan bumi. Baru beberapa bulan terakhir aku akhirnya menemukan informasi bahwa mamamu..."
"Omong kosong!" Sergah Adka, sekarang dia yakin dengan sepenuh hati, laki-laki ini memang adalah orang yang sama yang pernah menggendongnya dengan sayang tetapi juga di depannya kadang berteriak dan menghajar mamanya.
"Fathan, dengarkan aku. Aku sungguh menyesal dengan apa yang telah terjadi di masa lalu..."
"Aku bukan Fathan!" sergah Adka dengan muka merah padam. Suaranya terdengar kasar bahkan membuat seseorang yang baru saja masuk ke pekarangan mesjid terkejut mendengarnya.
"Namaku Adka, bukan Fathan. Berhentilah memanggilku dengan Fathan-Fathan!" Adka menutup telinganya dia mundur lagi. Tepat saat yang sama, dia menabrak sesorang dengan punggungnya. Dia menoleh dengan gelagapan.
Faraz berdiri di belakangnya dengan peci dan sarung sepertinya dia sedang berisap-siap menuju mesjid untuk sholat magrib.
"Ayah..." Adka memegang lengan Faraz, sementara Aqsa yang berada di sebelah ayahnya melongo sambil memegang lipatan kain dan sebuah peci berwarna putih milik Adka.
__ADS_1
TO BE CONTINUED TO NEXT PART