CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 55 RINDU DUA HATI


__ADS_3

"Tapi ini berbeda..." Wajah Bram menjadi serius.


"Aku telah lancang menyimpan rindu pada seorang gadis yang dititipkan orangtua sekaligus guruku untuk kujaga, tetapi aku malah...malah telah jatuh cinta padanya?"


"Rindu pada seorang gadis yang dititipkan padaku, tetapi aku malah...malah merasa telah jatuh cinta padanya?" Bram tidak mengalihkan matanya dari langit yang terlihat pekat itu, mungkin sebentar lagi akan turun hujan.


"Bapak sedang jatuh cinta dengan siapa?" tanya mang Diman sambil mengerutkan keningnya, dulu fia tidak terlalu dekat dengan Bram karena tuannya ini sangat jarang berada di rumah bahkan jika dia sedang pulang tak pernah menegur sedikitpun. Tetapi sekarang tuannya ini sungguh jauh berubah, dia terlihat ramah dan murah senyum. Sejak bercerai dengan nyonyanya, Bram terlihat lebih tenang dan alim. Sholat lima waktunyapun jarang terlewatkan.


Jika perceraian kadang-kadang menghancurkan banyak orang tetapi tak pernah mang Diman melihat efek perceraian sebaik yang terjadi pada tuan dan nyonya rumahnya itu.


Kadang-kadang Bram mengajaknya mengobrol berjam-jam. Membicarakan banyak hal, Bi Irah dan Mang Diman kadangkala terheran-heran dengan bagaimana banyak perubahan tuan mereka itu.


"Dia...gadis tercantik yang pernah ku lihat seumur hidupku." Sahut Bram sambil tersenyum kecil.


"Gadis itu pasti sangat cantik, sampai-sampai bapak terlihat begitu bahagia hanya dengan memikirkannya." Tukas Mang Diman.


Bram tersipu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dia cantik...dia baik, dia lembut..." Bram tersenyum malu-malu mengatakannya pada mang Diman.


Mang Diman mengangguk-angguk sambil membereskan pekerjaannya.


Fikirannya melayang pada Bu Diah, rasanya apa yang di sebutkan Tuannya itu seakan menggambarkan mantan istrinya itu.

__ADS_1


"Dia cantik, secantik Diah...tidak...tidak seperti Diah, mereka sama-sama cantik tapi...tapi dia baik. Eh, maksudku...dia...seperti..." Bram seakan mengerti apa yang di fikirkan mang Diman tetapi dia akhirnya bingung sendiri menggambarkan sosok Aisyah pada Mang Diman yang terlihat meliriknya dengan penasaran.


"Kenapa tidak bapak katakan saja padanya? Bagaimana dia bisa tahu jika...jika bapak hanya memendamnya sendiri." Mang Diman berucap, sambil membereskan barang-barangnya yang berserakan ke dalam kotak peralatan.


"Dia seorang gadis yang tak pernah menikah." Sahut Bram salah tingkah, merasa bersalah dengan perasaannya yang aneh itu.


"Bapak sekarang seorang duda. Hampir satu setengah tahun menyendiri, tidak ada salahnya jatuh cinta pada perempuan, entah janda atau gadis." Mang Diman tersenyum pada Bram.


"Aku pernah gagal dalam rumah tanggaku, karena kesalahanku sendiri. Aku menyia-nyiakan seorang istri yang mencintaiku dengan pengkhiantan yang kejam. Karena itu aku tak berani mengatakan cinta lagi, aku takut itu akan menyakiti orang lain." Ucap Bram lirih.


"Tapi jika bapak sungguh mencintainya, tak ada yang salah." Mang Diman menyahut.


Bram terdiam, dia hanya tercenung, di tatapnya tasbih pemberian abah yang dipegangnya sedari tadi. Wajah Aisyah bermain di pelupuk matanya dengan senyum malu dan lesung pipitnya yang manis.



...***...


Aisyah terbangun tepat saat jam 12 lewat beberapa menit, dia bermimpi bertemu dengan abah.


Dalam mimpinya abah sedang berdiri menatapnya dari seberang sungai dalam jubahnya yang biasa di gunakan ketika hari raya.


Abah tak mengatakan apapun tapi senyumnya begitu lebar, dengan wajah yang di terangi cahaya. Dia hanya mengulurkan tangannya seolah hendak memberi sesuatu, saat Aisyah berusaha melihatnya, ternyata itu sebuah tasbih, tasbih cokelat muda yang serupa yang di hadiahkan abah di hari ulang tahunnya.

__ADS_1


Sebelum tidur Aisyah menangis, tanpa sadar hingga terlelap. Ingatannya terbawa pada Abah, pada ibunya dan terakhir pada sebuah wajah yang akhir-akhir ini mengganggu benaknya. Wajah Bram dengan tatapan dewasa dan penuh perhatian, orang yang paling perduli padanya tetapi menghilang entah kemana sudah berhari-hari sejak dia meluapkan kekesalannya, saat laki-laki itu begitu berkeras tetap menemukan ayahnya untuk dirinya.


Dengan badan gemetaran Aisyah membuka lemarinya dan mencari sebuah tasbih warna cokelat muda dari kayu cendana.


Di ciumnya tasbih itu dan kemudian mengambil mukena.


Aisyah merasa abah sedang menyuruhnya berdzikir, berdoa untuk ketenangan bathin saat gundah gulana seperti yang selalu di ajarkan abah. Kalimat itu terngiang di telinganya,


"Isah anakku, sesungguhnya di malam hari, ada satu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya itu dan itu berlangsung setiap malam karena itulah salah satu waktu paling mustajab adalah berdoa saat malam, di sisa sepertiga akhir malam. Barang siapa berdoa di waktu itu pasti di kabulkan, barang siapa memohon akan diperkenankan, barang siapa berharap pengampunan maka dia akan di ampuni. Panjatlah do'amu dengan sepenuh hati, karena hanya engkau dan Tuhanmu yang terjaga di kala itu. Apapun yang ingin kamu katakan, utarakanlah, Allah akan senang mendengarmu berserah pada-Nya."


Sekumpulan ingatan berlompatan di kepala Aisyah dan setelah berlutut dalam sholat tahajjud dan istiqarahnya, dia mengingat satu nama yang ingin di sebutkannya di antara untaian do'a nya, yaitu nama seorang" Bram".



(Yuk, di voting dulu mumpung senin ya😅 hari ini akak crazy UP ya, di tunggu lanjutannya saat Aisyah memanggil Bram dalam ketakutannya, akankah Bram menyatakan cinta?


Terimakasih like, komennya, tips dan bunga kopinya, bikin akak tambah semangaaaaaaat menulis lanjutannya🤣)



...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2