CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 100. RIAK HATI


__ADS_3

Suasana resepsi itu berlangsung meriah, mc membawa suasana menjadi begitu menyenangkan.


Tak lupa Bram meski terlihat gugup memberikan pidatonya sebagai pengantin pria yang tengah berbahagia,


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak, ibu, teman dan keluarga sekalian, yang kami hormati. Terimakasih atas kehadiran semua tamu dan undangan yang telah meluangkan waktu untuk bisa hadir di acara resepsi sederhana yang kami helat hari ini.


Saya dan istri, mengucapkan terimakasih untuk restu dan ridhonya sekalian, malam ini menjadi suatu monen yang indah yang tak akan kami lupakan karena mendapat begitu banyak restu untuk kami memulai hidup baru, membuka lembaran baru. Do'a restu dan kasih sayang dari kalian semua adalah pondasi awal yang akan menguatkan perjalanan rumah tangga kami. Tentu saja dengan seijin Allah SWT.


Sekali lagi kami berdua secara pribadi menghaturkan terimakasih, begitu pula dengan keluarga besar kami berdua..."


Aisyah menatap dengan bangga pada suaminya yang terus berkata-kata dalam pidatonya itu, jemari Aisyah tak lepas menggenggam tangan Bram yang ternyata tak kalah dinginnya.


Saat duduk di kursi kembali, keringat di dahi Bram sebesar kutil.


"Tangan mas Bram dingin sekali." Bisik Aisyah sambil memberikan tisue ke tangan Bram.


"Kamu kira mudah sayang berpidato di depan banyak orang." Bram melap keringatnya.


"Tapi mas Bram sudah nikah dua kali." Aisyah protes.


"Nikah pertama tidak ada resepsian-resepsian, tidak pakai speech-speechaan. Aku menghapal pidato ini satu malam, sampai-sampai lupa jenguk landasan." Sungut Bram.


"Astagfirullah, mas...di dengar papa, lho " Aisyah mencubit lengan Bram sambil melirik papa Bram yang cengar-cengir di sampingnya.


"Aman, nak. Papa tidak dengar apa-apa, kok." Papa Bram bangkit dari duduknya sambil menyeringai lebar. Lalu menyongsong seorang tamu.


Ayah Aisyah hanya duduk, sementara ibu Atifa menyambut ucapan selamat para tamu undangan dengan senyum ramah.


Faraz hampir tak berhenti menatap kemanapun Atifa bergerak, wajahnya sedikit pucat, jika dilihat lebih cermat Faraz memang tidak begitu sehat.


Kadang kala dia seakan ingin mengajak Atifa berbicara, tetapi segala kata seolah hilang di tenggorokannya.


"Dik..." Panggilan itu serupa desah, tak ada yang mendengarnya di antara keriuhan. Atifa seakan tak menggubris semua gerakan tubuh Faraz, yang terlihat gelisah ingin mengatakan sesuatu padanya.


Dulu, mereka pernah saling cinta dan saling sayang tetapi waktu dan berbagai kejadian bertahun-tahun belakangan ini merenggut semuanya hingga yang tersisa hanya rasa hambar bahkan mungkin titik kebencian di satu pihak.

__ADS_1


Kadangkala, orangtua yang sudah tak lagi punya rasa hanya bertahan untuk satu alasan saja yaitu anak, dengan mengabaikan perasaan mereka sendiri berusaha terlihat baik-baik saja.


Tapi, pernahkah ada yang tahu kedalaman hati seseorang? Sungguh, riak tak selalu bisa menggambarkan luas dan dalamnya telaga.


"Aku memaafkan dirimu, kak Faraz. Ku rasa itu lebih dari cukup." Hanya itu yang di katakan Atifa, sebelum mereka berdua sepakat mengantarkan Aisyah menuju pernikahannya.


Raka dan Doddy bertemu dengan beberapa kolega di sana, pernikahan Bram sekarang menjadi ajang temu beberapa kolega bisnis. Doddy sendiri tampak lebih santai di acara itu ketimbang Diah. Biar bagaimanapun, Bram dan Diah pernah bersama dalam satu kapal pernikahan namun pada akhirnya karam, remah kenangan itu suka atau tidak suka membuat mereka tak bisa berlaku sewajar dua orang teman, bagaimanapun juga.


Di sudut ruangan yang lain, Adka yang sibuk mengekor Mbak Retno, dengan gaya maskulin memegang segelas sampanye yang di ambilnya dari seorang pelayan yang berlalu lalang mengantarkan minuman di nampan.


"Hey, anak muda. Kamu belum boleh meminum alkohol!" Tegur mbak Retno, berbalik dan merebut gelas sampanye dari tangan Adka.


"Astaga, mbak. Adka sudah hampir sembilan belas..."


"Dari tadi kamu sibuk mengumumkan umurmu. Mbak sudah hapal. Kamu belum dua puluh satu tahun!" Bibir mbak Retno yang seksi itu di monyongkannya.


"Memangnya, ada undang-undang ya mbak kalau belum dua puluh satu gak boleh minum alkohol?" Adka merapikan leher jasnya dengan sikap sok dewasa.


"Makanya buka google, sayang. Selama kamu tinggal di Indonesia, jika belum berusia 21 dilarang minum alkohol!" Tandas Mbak Retno dengan gaya seorang guru.


"Hah...begitu, ya? Adka kok baru dengar? Mbak gak bohong, kan?"


"Kalau tahu begitu, aku mau pindah negara aja mbak, khusus malam ini."


"Anak ini bener-bener deh, nurut manut sama mbak kalau ora iso ya ora iso! Mbak ini sudah puluhan tahun lebih banyak makan garam dari pada kamu, jadi ora usah ngoyo."


"Makan garem aja mbak bangga, lah aku mbak sering makan nasi cuman pake garam aja gak bilang-bilang." Adka terkekeh, dengan sikap menggoda mbak Retno.


"Adka, kamu ta laporin ke mbak Aisyahmu. Mau???"


Segera wajah Adka masam-mesem, dia manyun. Kalau soal di laporin ke mbak Aisyah, pemuda tanggung itu paling enggan. Dia sangat menghormati Aisyah, karena ayahnya selalu mengatakan, Aisyah adalah kakaknya. Meski mereka sama sekali tak ada hubungan darah, tetapi ayah tirinya Faraz telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang seperti dia mencintai putrinya itu.


Adka menutup mata untuk silang sengketa orangtua mereka di masa lalu, yang dia tahu, Faraz adalah orangtua di mana ibunya dengan penuh rasa percaya menitipkannya sebelum meninggal.


"Yah, embak. Gak Asyik. Dikit-dikit laporin mbak Aisyah, dikit-dikit laporin mas Bram." Adka melirik Mbak Retno dengan muka kesal yang di buat-buat.

__ADS_1


"Makanya minum sirup aja dulu, noh banyak es krim. Nanti kalau kamu mabok yang ngurus ayahmu siapa? yang urus adikmu siapa?" Mbak Retno nyengir dengan penuh kemenangan, berhasil berdebat dari Adka yang kadang kala kalau ngomong tak pernah mau kalah itu.


Dengan semua orang Adka bisa bersikap hormat tetapi di depan Mbak Retno dia tak bisa menahan diri untuk tidak bersikap kurang ajar.


Dari jauh Bram tampak memberi isyarat pada Adka, dengan enggan Adka beranjak.


"Mbak Retno jangan kemana-mana, ya. Adka lagi di panggil mas Bram." Ucapnya dengan penuh peringatan.


"Memangnya kenapa?" Cibir mbak Retno, sambil meminum sampanye, itu gelas yang tadi di rampasnya dari Adka.


"Nanti Adka susah cari mbak lagi."


"Memangnya kenapa cari mbak? Huh?"


"Aku gak bisa hidup kalau gak liat mbak." Adka terkekeh, sambil berjalan tanpa memperhatikan langkahnya.


"Bruk!!!"


Tanpa sengaja menubruk tubuh seorang tamu, yang berdiri sedari tadi menatap pada Adka.


"Oh, maaf..." Adka memegang lengan laki-laki setengah baya yang tampak masih gagah dalam balutan jas warna biru malam yang mewah dan terlihat tampan pada usia yang mungkin sudah di awal kepala empat itu.


Laki-laki itu tak menjawab, matanya tak lepas menatap pada Adka.


Sesaat, mereka beradu pandang.


"Fathan?"


Adka tak menjawab, tapi jelas sekali dia terhenyak, itu nama yang hanya di panggil oleh satu orang di dunia.


^^^



ADKA^^^

__ADS_1



...RETNO...


__ADS_2