CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 25 SETELAH KARAMNYA PERNIKAHAN


__ADS_3

Betapa dia kemudian mengagumi kesabaran dan kebaikan Diah sebagai seorang istri yang mungkin akan sulit di temukannya di masa depan, Bram benar-benar mengaguminya sekarang, sayangnya dia baru menyadarinya saat mereka telah mengakhiri pernikahan mereka dengan kata cerai.


"Ibu akan naik ke kamar untuk mengantarkan makan untuk ayahmu. Beliau tidak enak badan, asam uratnya kumat jadi tidak bisa makan bersama." Ibu Diah membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.


"Silahkan kalian makan saja." Pamit perempuan paruh baya berwajah lembut itu sebelum meninggalkan ruang makan.


Sesaat kemudian, Diah dan Bram berpandangan dengan canggung, sementara Bella asyik sendiri mengunyah makanannya.


"Papa, nanti Bella mau jajan es cream dengan papa. Boleh?" tanya Bella sambil mulutnya dipenuhi oleh ayam goreng.


"Boleh...tentu saja boleh." Sahut Bram, sambil mengalihkan pandangannya kepada Bella kemudian menyendok nasike mulutnya.


Betapa kerinduan membuncah ketika ingatannya pada sekelumit kenangan makan di meja yang sama pada masa lalu, walau hanya sedikit kenangan yang pernah mereka punya duduk di meja makan bersama bahkan sering di lakukan tanpa bicara tetapi situasi sekarang sedikit banyak membuat Bram berusaha mengingatnya.


Suara denting sendok beradu halus dengan piring. Diah dan Bram berpura-pura sibuk dengan makanannya padahal keduanya sebenarnya sibuk dengan fikiran masing-masing.


"Kamu tak menceritakan pada ayah dan ibu, penyebab kita bercerai?" Tanya Bram perlahan, rasa penasaran itu terasa sangat menggelitik.


Sejenak Diah terdiam lalu mengangkat wajahnya, melirik pada Bella yang begitu asyik makan di sebelah Bram.


"Penyebabnya adalah kita sudah tidak sejalan lagi..." Jawab Diah kemudian.

__ADS_1


"Kamu tidak mengatakan karena aku yang..."


"Mas Bram." Diah memotong dengan suara tajam.


"Aku tak perlu mengumbar kesalahanmu supaya membuat status jandaku begitu mulia di mata oranglain. Biarlah salahmu adalah urusanmu dengan Allah dan apa yang ku alami adalah salah satu dari ujian yang memang harus ku jalani. Orangtuaku sudah cukup terguncang dengan perceraian kita, aku tidak perlu menambahkan luka di hati mereka dengan mengatakan alasan di balik perceraian kita."


"Tapi, aku tak nyaman seolah penyebab perceraian ini adalah kamu."


"Siapapun penyebabnya, tak ada bedanya. Perpisahan sudah terjadi. Aku merasa ini benar-benar jalan terbaik. Bisakah kita tidak lagi mengungkitnya?" Diah menyendok nasi ke piring Bella, berbicara tanpa menoleh pada Bram.


Bram diam tanpa suara, mencoba menikmati nasinya, yang ketika di telan terasa begitu berat melewati kerongkongannya.


Suara Diah terdengar ringan tetapi terasa seperti tamparan di wajah Bram. Dia benar-benar telah membuat kesalahan besar dengan melepaskan Diah.


Bram dan Diah kembali pada piring masing-masing, sesungguhnya di meja itu sekarang kesannya mereka adalah keluarga kecil yang normal dan bahagia tetapi sungguh di sesalkan terjadi setelah karamnya sebuah pernikahan.


Bella yang lahap seolah tak perduli dengan pembicaraan papa dan mamanya itu dia menikmati ayam gorengnya, masakan mamanya yang paling di sukainya. Bram merasakan betapa berbedanya sekarang, berhadapan dengan mantan istrinya yang begitu asing.


Bahkan selama mereka menikah, sepanjang pernikahan dia tak pernah memanggil Diah dengan sebutan sayang, papa-mama, ayah-bunda seperti orang lain lazimnya kepada sang istri. Dia memanggil Diah dengan nama yang akan di serukannya dengan nada tinggi. Tak ada yang spesial di lakukannya dalam cara menghargai keberadaan Diah.


Saat mereka hampir selesai makan, ketika Diah menyusun piringnya, Bram mengangkat kepalanya pada Diah.

__ADS_1


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Ya?"


"Apakah kamu dan Doddy menjalin hubungan setelah perceraian kita?" Pertanyaan itu terdengar ragu dan hati-hati, saat di lontarkan oleh Bram.


Mata Diah membulat takjub dengan pertanyaan Bram, dia tak bisa menyembunyikan betapa terperanjatnya mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Bram.


"Maksudmu?" Diah balik bertanya.


"Apakah Doddy akhirnya jujur padamu kalau dia telah mencintaimu sejak lama?"


...***...


Ditunggu ya, lanjutannya hari ini๐Ÿ™


Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2