CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 102. MEMASTIKAN BUKAN MIMPI


__ADS_3

Aisyah terbangun ketika matahari sudah tinggi. Setelah bercint@ di vawah shower, mereka berdua melanjutkannya di atas tempat tidur. Percint@@n dahsyat di suguhkan Bram, permainan lid@hnya yang panas membara itu benar-benar membuat Aisyah serasa makan boncabe level hot.


Dan Alhasil, dia dan Bram terkapar seperti ikan yang di lempar ombak hingga bibir pantai. Terdampar hingga tertidur tanpa sempat bermimpi. Tidur yang nyenyak luar biasa.


"Astagfirullah..."


Refleks matanya memicing dan meletakkan punggung tangannya menghalangi matanya. Cahaya matahari dari luar, masuk lewat celah-celah gorden.


Suaminya itu , tapi tampak terlelap. Wajah tampannya tampak segar merona.


Badan Aisyah masih terasa pegal luar biasa, sebenarnya membuatnya enggan bergerak. Bram telah membuatnya hampir-hampir tak punya waktu memejamkan mata.


Untung saja dia bangun mandi dan sholat subuh tadi meski kemudian Otong yang nakal itu minta lagi. Aisyah bingung sendiri, suaminya ini macam mesin jahit saja. Tidak ada capek-capeknya. Aisyah yang masih muda belia inipun di buatnya kewalahan.


"Efek si otong kelamaan nganggur, sayang. Maklumi saja." Bram cuma cengengesan, untung saja Aisyah yang baru diperkenalkan dengan surganya dunia ini lagi penasaran-penasarannya dengan si perotongan ini. Jadi dia manut saja sama suami dan menikmatinya.


Sebenarnya Aisyah masih kelelahan, tetapi dia tak bisa bermalas-malasan di tempat tidur saja, sebagai seorang istri tentu saja Aisyah tak hanya berkewajiban di atas tempat tidur tapi juga di dapur.


Aisyah menyangga kepalanya dengan telapak tangan dan berbaring miring, dia menarik perlahan pakaian dalamnya yang terhimpit badan Bram.


"Emmm..." Sejenak wajah Aisyah merona, melihat badan sang suami yang kekar menawan itu.


Senyumnya mengambang, dia tersipu sendiri melihat suaminya terlelap dengan begitu nyamannya.


Jemari Aisyah menyentuh dada suaminya itu dengan lembut. Dia tak bisa menampik betapa dia terpesona dengan sang suami, seumur hidup baru kali ini dia mengagumi seorang laki-laki.


Trauma yang dulu pernah dikiranya akan di bawanya seumur hidup karena melihat penderitaan ibunya dan perbuatan sang ayah, ternyata terkikis perlahan dengan keyakinan yang diberikan Bram.


"Sayang, kamu mau otong lagi?" Mulut Bram bergerak, sesungging senyum tertarik di ujung bibirnya. Bahkan dia menanyakan kalimat itu tanpa membuka matanya sama sekali.


"Akh..." Aisyah membuang muka dengan jengah, dia malu sendiri terciduk sedang menatap wajah suaminya itu.


"Otong masih sanggup satu ronde lagi, kalau mau..." Tawar Bram sambil mencekal lengan Aisyah yang mau menggelosor turun dari tempat tidur.


"Ini sudah siang." Sahut Aisyah dengan tersipu.

__ADS_1


"Tapi, kamu mau, kan?" Mata Bram terbuka lebar sekarang, sedikit merah tetapi jelas wajah itu nampak bahagia.


"Siapa bilang?" Sergah Aisyah.


"Dari tadi ku senyam senyum sendiri melototi wajahku." Tuduh Bram.


"Akh, aku cuma sedang melihat-lihat saja."


"Melihat apa?"


"Menghitung kerutan di wajah suamiku." Jawab Aisyah dengan Asal.


"Masa? jadi kamu mau bilang mas Brammu ini sudah tua?" Mata Bram membeliak. Lalu menarik kepala Aisyah dengan gemas, menciuminya berkali-kali. Aisyah tertawa geli, karena tangan Bram yang nakal itu menggelitik pinggangnya.


"Tapi benerkan, mas Bram kalau tidur kelihatan kerut-kerutnya seperti om-om yang lagi mikirin hutang" Aisyah tergelak.


"Wah, istriku ini mulai berani menggoda suaminya ya?" Bram memeluk Aisyah dengan gemas yang tak tertahan.


Aneh sekali rasanya, hati Bram begitu bahagia berlipat-lipat dengan Aisyah. Bagaimana tidak? dengan perempuan manapun dia tak pernah bermain-main seperti ini, sikap manja Aisyah begitu natural, seperti anak-anak yang bermanja pada ayahnya.


"Eh, jangan menghindariku, pura-pura amnesia, kita tidak sedand di rumah. Kita masih di hotel menikmati bulan madu kita." Bram merengut.


"Astagfirullah, aku lupa, mas." Aisyah menepuk jidatnya, dia hanya ingat kalau pagi harus bangun dan memasak sarapan.


Kalau dulu dia menyiapkan sarapan untuk Tito dan Abah. Sekarang, tentu saja dia harus memasak sarapan buat suaminya selain Tito dan ibunya.


"Tapi aku lapar..." Dalih Aisyah.


Perutnya yang keroncongan membuatnya merasa harus segera turun dari tempat yang menyenangkan itu, terlalu lama di sini bisa saja membuatnya tak bisa kemana-mana. Bram akan terus menawannya di atas tempat tidur yang nyaman ini.


"Agh, sudahlah, nanti aku pesan saja biar di antar ke kamar saja breakfastnya. Pokoknya kamu tidak boleh kemana-mana"


"Tapi, mas. Aisyah harus mandi juga." Aisyah menggeliat.


"Jangan, jangan pergi dulu." Bram mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Tapi..."


"Aku mau memeluk istriku ini, sekali lagi, memastikan semuanya bukan mimpi."Lanjutnya lagi dengan raut memohon.


"Mimpi apanya, kitakan sudah menikah?" Aisyah menyahut manja sambil mendonggakkan kepalanya, di sambut ciuman di dahinya.


Sejenak mereka berdua berpelukan erat.


"Saat bersamamu bahkan aku tidak merasa lapar. Melihatmu saja rasanya sudah kenyang." Bram tersenyum sendiri, sambil memainkan anak rambut Aisyah yang jatuh di dahinya.


Mereka berdua berbaring saling berhadapan, saling memandang begitu dekat.


"Kamu tahu tidak?" Tanya Bram dengan wajah iseng.


"Tidak." Aisyah menjawab setengah berkelakar.


"Kamu adalah hal terindah yang Tuhan berikan padaku."Telunjuk Bram memencet hidung bangir Aisyah.


"Aku telah menyebut namamu ribuan kali di dalam setiap rangkaian tasbih yang ku gulirkan lewat ujung jariku. Aku telah memohon kepada Tuhan untuk mempertimbangkan jodohku di sepertiga malam. Menikung Tuhan dengan banyak bujukan dalam rengekan doaku." Bram mengerjap matanya, menatap Aisyah yang tak berkedip mendonggakkan wajahnya dalam pelukan Bram.


"Dan aku tak tahu bagaimana cara mengucapkan syukur sebaik-baiknya, ketika kamu akhirnya menjadi milikku. Tuhan telah begitu baik, bahkan pendosa sepertiku di berikan jodoh sebaik dirimu." Mata Bram tampak berkaca, suaranya bergetar.


"Kenapa...kenapa mas Bram seperti mau menangis?" Aisyah menayap Bram dengan bingung.


"Aku hanya sangat bahagia..." Bram terkekeh, anehnya sebutir air bening jatuh di sudut matanya.


"Aku jatuh cinta padamu saat berdoa dan memikirkanmu. Rasanya luar biasa. Aku bersumpah, namamu tidak pernah luput dari doa malamku. Setelah sembilan puluh sembilan butir tasbih telah selesai menyebut asma Allah, namamu selaluku bawa-bawa dalam setiap curahan hatiku kepada yang kuasa dan ternyata sujud setiap malam tidaklah sia-sia. Aku dulu mencintai dalam diam sampai menangis dan sekuatnya merelakan jika memang kita tak berjodoh serta yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik. Dan Tuhan memang tak pernah ingkar, aku memilikimu sekarang sebagai istriku." Bram tak pernah mencurahkan hatinya begitu dalam seperti sekarang.



...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...

__ADS_1


__ADS_2