
"MasyaAllah..." Bram menatap Aisyah seolah baru pertama kali melihat istrinya itu. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya dia melihat Aisyah tanpa jilbabnya.
Rambutnya panjang sedikit ikal, tergerai hitam dan sedikit basah.
Darah Bram segera naik tanpa di komando sampai ubun-ubunnya.
Ini malam yang ditunggunya!
"Kenapa mas Bram menatapku begitu?" Tanya Aisyah dengan bingung.
"Aku baru pertama melihatmu melepaskan jilbabmu." Bram berucap dengan suara serak, pandangannya tak bisa bohong, dia sungguh benar-benar jatuh cinta pada istrinya itu.
"Oh, bukankah boleh istri tidak menggunakan jilbab di depan suaminya? atau...apa aku harus memakainya lagi?" Aisyah bertanya dengan polosnya.
"Akh, jangan! Tidak usah di pasang lagi." Sahut Bram cepat, dia bangkit berdiri dengan canggung tak tahu harus memulai dari mana.
Dia sangat ingin memeluk dan menciumi Aisyah sekarang. Gejolak itu seperti gelombang, begitu memaksa.
"Aisyah, aku..." Bram mendekat dan menarik tangan istrinya itu.
"Apa?"
"Aku harus memikirkan memanggilmu dengan apa?" Bram mencari topik, sementara tangannya merayap perlahan di bahu Aisyah. Sebuah alasan supaya Aisyah tak menyadari kalau tangannya sedang bergerilya.
"Apakah namaku kurang bagus?" Aisyah menepis tangan Bram segera.
"Bukan begitu, kalau suami istri itu harus ada panggilan khususnya."
"Harus?"
"Eh, tidak juga...tapi ya, itu penting biar ada panggilan sayangnya. Suami istri boleh bikin panggilan untuk satu sama lain"
__ADS_1
"Aku suka memanggil mas Bram dengan mas Bram saja."
Bram menggangguk-angguk kepalanya, dia bingung sendiri, keinginan untuk mencumbu Aisyah terasa sampai ubun-ubun tapi mereka malah terjebak dalam topik panggil memanggil yang tak penting ini.
"Mas Bram memanggil mbak Diah dengan apa?" Tanya Aisyah tiba-tiba.
Bram tertegun, delapan tahun pernikahannya dengan Diah, dia tak pernah punya panggilan apapun pada istrinya itu. Malah, dia punya panggilan khusus pada pacarnya Sally dengan Baby.
"Em...tak ada." Jawab Bram sambil menelan ludahnya.
"Akh, sudahlah tidak usah memikirkan panggilan-panggilan itu. Aku bisa memanggilmu dengan ummi saja, seperti Tito dan Bella biasa memanggilmu."
"Terserah mas Bram saja." Aisyah melepas tangan Bram yang merayap di pipinya, mengelus-ngelusnya dengan lembut.
"Atau sayang saja...lebih simple." Bram mengerutkan alisnya, menatap sang istri yang melenggang menuju lemari. Istrinya tak paham dengan perasaannya, benda yang melekat ditempat tersembunyinya terasa berdenyutan.
"Sayang..."Bram memeluk Aisyah dari belakang, dia benar-benar sudah tak tahan lagi.
"Em..." Aisyah berbalik, wajah mereka bertemu dan Aisyah terkurung dalam pelukan Bram.
"Aku...aku mau menciummu." Bisik Bram.
Aisyah tersenyum kecil dan menyorongkan dahinya kepada Bram.
"Bukan...bukan di situ." Protes Bram, sambil mengangkat dagu Aisyah, membuat wajah Aisyah yang polos tanpa apapun itu mendonggak padanya, bibirnya merona segar setengah terbuka dengan kulit mulus meski tak pernah bersentuhan dengan skin care. Aisyah benar-benar cantik alami.
"Di mana?" Suara Aisyah menjadi setengah des@h, mungkin karena efek kebingungannya. Bram menelan ludahnya.
"Di sini..." jempol Bram menguas lembut bibir Aisyah yang basah merah jambu itu.
Aisyah menggigit bibirnya. Matanya tak berkedip menatap Bram. Perlahan, Bram menunduk, mendekatkan bibirnya kepada bibir Aisyah. Sebuah kecupan lembut mendarat di sana, bahkan Bram sendiri merinding ketika bibirnya menyentuh bibir setengah gemetar tetapi hangat dan basah milik Aisyah.
__ADS_1
Bram melepas ciumannya yang singkat itu, menyisakan desis Aisyah meski matanya bulat menatap Bram.
Baru kali ini Bram mencium bibir perempuan yang sama sekali tak memejam matanya. Malah melotot padanya macam orang melihat hantu.
"Kamu...kamu kenapa?" Tanya Bram dengan bingung.
"Mas Bram menciumku!" Mata Aisyah malah semakin melotot padanya.
"Eh, iya...memangnya kenapa? Apa yang salah? Apa...apa kamu marah aku menciummu?" Tanya Bram dengan bingung.
"Itu ciuman pertamaku..." Aisyah tampak seperti ingin menangis.
"I...iya...oh...benarkah?" Bram terpesona mendengar pernyataan Aisyah, rasanya dia berubah menjadi setengah dewa ketika mendengar bahw bibir Aisyah yang merah muda dan basah itu diper@w@ni secara resmi oleh bibirnya untuk pertama kali.
"Seharusnya mas Bram memberiku ciuman pertama nanti." Mata Aisyah berkaca-kaca.
"Astaga, nanti bagaimana? Aku tidak mengerti maksudmu apa?" Bram benar-benar bingung seperti baru saja merebut permen dari seorang anak perempuan lugu. Dan sebentar lagi dia akan menangis.
"Aku barusan habis berwudhu. Mau sholat bersama mas Bram untuk pertama kali jadi menjadi imamku. Tapi...tapi mas Bram memegangku lalu menciumku. Aku kan jadi harus berwudhu lagi."
"Astagfirullah..." Bram mundur beberapa langkah. Dia melongo. Tadinya dia mengira Aisyah ketakutan karena di cium olehnya, ternyata gadis itu komplain padanya, perkara timing ciuman pertamanya yang tidak tepat dan sentuhannya yang membuat Aisyah harus mengambil wudhu ulang.
"Astagfirullah, mas Bram lupa kalau kita belum sholat isya. Hampir mas ke bablasan." Bram segera ngacir, ke kamar mandi, untuk berwudhu, meninggalkan Aisyah yang terlihat masam sambil memegang bibirnya dengan telunjuk. Ciuman pertamanya yang seperti kilat tapi membuat degup jantungnya berpacu lebih keras, sampai-sampai dia merasa seperti mendengar sendiri detaknya.
(Yuk, di vote dong, mumpung hari senin😅 biar othor tambah semangat menulis cerita-cerita lucu Bram menjelang Unbox!ng yang penuh tantangan ini😅😅 Sang mantan duda menahlukkan gadis polos yang awam bercinta😅😅)
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis
__ADS_1