
Aisyah merasakan sakit luar biasa di masa kanak-kanaknya, ayahnya telah menelantarkannya dan ibu yang dalam keadaan hamil tua demi perempuan lain. Dan Aisyah harus menyaksikan keadaan ibunya yang dari hari ke hari semakin murung dan tak perduli dengan orang-orang di sekitarnya.
Atifa hanya tinggal di kamarnya, mengelus perutnya dan mengatakan,
"Ayahmu akan segera pulang, nak. Jangan keluar dulu sebelum ayahmu tiba."
Kadang-kadang setiap pagi dia akan memasak banyak, menyediakan di atas meja seperti akan menyambut seseorang.
Ketika hari lepas siang, dia akan berdiri di depan pintu, melihat ke arah jalan seakan menanti seseorang.
Pamannya Syarif sekarang malah sudah pindah ke rumah mereka deni merawat Atifa. Rahimah dan Aisyah berjarak umur tiga tahun lebih, jadi Rahimahlah yang mengurus kebutuhan Aisyah sebelum mereka berdua berangkat ke sekolah. Rahimah duduk di sekolah SMP kelas akhir sementara Aisyah masih di kelas 6 SD.
Syarif kala itu masih bekerja di Pesantren sambil menyambi memanen dan mengantarkan ikan dari tambak wak Agil ke warung-warung makan setiap subuh.
Kadang kala, dia menitipkan kepada Rahimah untuk mengurus Aisyah dan ibunya sampai dia pulang.
Syarif terpukul dengan kepergian Faras, seseorang yang telah dipilihnya sendiri sebagai suami bagi adiknya, wajahnya begitu murung, kadang dia masih menyalahkan dirinya sendiri mengapa telah membawa Atifa pada neraka ketika menikahkan Faras pada adik satu-satunya itu.
...***...
Saat tiba waktu bersalin, Aisyah dengan tubuh cekingnya menyaksikan bagaimana Ibunya itu menangis meronta-ronta saat di bawa ke rumah sakit.
"Aku tidak mau, kak Syarif...aku harus tinggal di rumah, suamiku akan datang, ini adalah jadwal offnya bekerja. Kak Faras berjanji datang dari Kalimantan membawa boneka untuk Aisyah. Aku harus menunggunya dan memasakkan sambal goreng ikan teri. Dia juga sangat suka sambal terasi buatanku. Setiap dia datang, dia selalu bilang rindu untuk makan masakanku, aku akan membuatnya tahu campur yang enak..."
Entah apa yang ada di fikiran Atifa, yang ada di kepalanya hanya Faras yang segera datang.
__ADS_1
"Atifa, kita harus membawamu ke rumah sakit. Kamu segera melahirkan." Syarif memeluk adiknya itu, wajahnya tegang melihat air yang keluar merayap turun sedikit demi sedikit membasahi kaki Atifa.
Sungguh aneh, Atifa bahkan tak menunjukkan jika dia mengalami kontraksi atau kesakitan apapun menjelang persalinan, meski ketubannya pecah merembes.
Mulutnya terus saja meracau memanggil suaminya. Aisyah yang periang itu hanya kebingungan, banyak hal yang tak dimengertinya tentang kondisi sang ibu. Dia hanya bisa memeluk ibunya saat perempuan yang melahirkannya itu tertidur saja, selebihnya sekarang dia tak lagi menerima kehangatan dari sang ibu.
Sebelum kejadian ini, Atifa adalah ibu yang sangat baik dan perhatian, dia sangat ramah, santun dan menyenangkan. Setiap orang yang mengenalnya tahu benar bagaimana pandainya Atifa bersosialisasi di lingkungannya itu. Dia adalah orang yang sangat perhatian dan ringan tangan memberi pertolongan pada orang lain.
Tetapi sejak kepergian suaminya, Atifa sungguh berubah 180 derajat, Aisyah benar-benar kehilangan sosok hangat sang ibu.
Di hari yang menegangkan itu, dengan menggunakan pick up milik wak Agil mereka membawa ibu Aisyah ke rumah sakit, tetapi ibunya tak sampai rumah sakit, dia di bawa ke puskesmas terdekat karena bayinya akan segera keluar.
Aisyah tak tahu bagaimana kejadiannya, dia tinggal di rumah bersama kakak sepupunya Rahimah dan esok sorenya ibunya telah pulang bersama paman Syarifnya dengan membawa bayi laki-laki mungil yang tampan.
"Dia adikmu, Isah..." Wajah paman Syarifnya berbinar cerah, tak pernah Aisyah melihat senyum selebar senyum paman Syarif yang kini di panggilnya abah itu, kala menggendong adik bayinya.
"Bidan bilang adek bayi hanya rentan terhadap suhu, jadi kulitnya yang sensitif akan memerah jika dia kepanasan. Nanti akan hilang sendiri."
Aisyah kecil terpesona melihat adiknya yang tampan dengan rambut hitam legam lebat dan sedikit ikal mirip rambut ayahnya. Dia begitu lucu saat membuka matanya yang kecil, mulutnya bergerak-gerak mengeluarkan lidah kecilnya seakan mengecap sesuatu.
Ibunyapun tampak lebih tenang, dia selalu ingin menyusui adik bayi Aisyah, bahkan meski bayi itu kenyang.
"Biar ku susui, biar dia cepat besar, biar dia menjemput ayahnya pulang."
Kesehatan mental Atika memang terdeteksi kurang baik tapi dia masih bisa bersikap normal mengurus dirinya dengan baik.
__ADS_1
Syarif selalu mengawasi Atifa, apalagi jika dia sedang mengurus Faiq, adik bayi kesayangan Aisyah itu.
Dia sangat protektif terhadap Faiq, jika di luar pengawasan Syarif, bayi itu tak di biarkannya berlama-lama dengan Atifa, dia hanya khawatir dengan sikap Atifa yang meskipun lebih tenang tetapi kadang termenung sendiri, seolah sedang memikir sesuatu dengan begitu dalamnya.
Sebagai kakak yang begitu menyayangi Atifa, dia berencana memeriksa adiknya itu ke psikiater setelah dia mendapatkan gajih di bulan berikut. Untuk gajihnya di bulan ini hampir tak bersisa untuk membiayai persalinan Atifa. Uang yang di tinggalkan Faras hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja sekaligus membeli kebutuhan bayi.
"Kenapa namanya Faiq?" Pernah Aisyah menanyakan itu, dia malah berharap nama adiknya lebih keren dari itu. Mungkin khalid atau Gerald, seperti nama temannya di sekolah.
Faiq, nama yang di berikan oleh Syarif, karena menurutnya nama itu berarti anak yang istimewa.
Dia merasa suatu hal yang luar biasa, seorang bayi hadir di tengah-tengah keluarganya meski di antara badai yang kini sedang melanda rumah tangga adiknya itu.
"Dia adalah anak istimewa, yang akan menjadi cahaya bagi Atifa. Meski suaminya menghilang begitu saja, tetapi cahaya ini menuntun Faras kembali kepada Atika suatu hari nanti. Biar bagaimanapun, tidaklah sah hukumnya jika dia menalak istrinya dalam keadaan hamil. Faras masih suami Atifa..." Kata Syarif sambil menimang sang bayi.
Tetapi, Tuhan sungguh berencana lain, serasa tak cukup semua badai menggulung kehidupan Syarif dan adiknya itu,
Di sore hari itu, saat hujan deras melanda, bunyi air bersentuhan dengan atap begitu riuh.
Aisyah sungguh tak bisa melupakan hari naas itu, ketika ibunya berteriak-teriak melawan bunyi hujan di dalam kamar sambil menunjuk ke arah jendela, paman Syarifnya berlari dari dalam dapur masih memegang secangkir kopi panas, sepertinya dia baru saja menyeduh kopi untuk dirinya.
"Aaaaaa...aaaaa....tolong...toloooooong, anakku, anakku...dia terbang...!"
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
__ADS_1
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...