
Keesokan harinya, Bram memboyong Aisuah, Atifa dan Tito ke rumah barunya, sebuah rumah uang memang di beli Bram untuk hadiah pernikahannya dengan Aisyah.
Aisyah terpana menatap rumahnya yang baru, dia terlahir dalam kesederhanaan, tak pernah tinggal dalam rumah yang di nilainya itu begitu wah dan sangat indah itu.
"Sayang, ini rumah untukmu..."
"Untukku?" Aisyah menatap sekelilingnya dengan pandangan terpana. Ruang tamu itu bernuansa minimalis. Begitu hangat dan nyaman meski terkesan simple.
Ketika Aisyah melangkahkan kakinya ke ruang keluarga, mulutnya yang cantik itu tak bisa menahan diri untuk tak berdecak kagum. Ruang keluarganya tidak besar memang hanya sebuah sofa pendek tetapi lebar untuk bersantai, menghadap sebuah televisi. Ruang keluarga itu sederhana tetapi sangat mewah bagi seukuran Aisyah.
Di lantai satu itu ada sebuah kamar tamu, musholla keluarga dan dapur bersih yang menyatu dengan ruang makan. Dapur kotornya tidak besar, tapi cukup leluasa untuk menjadi tempat Aisyah bereksplorasi memasak.
Di lantai dua ada tiga buah ruang tidur dan sebuah ruang kerja.
Di sanalah kamar utama berada.
"Ini kamar kita..." Bram memeluk Aisyah dari belakang punggung.
Aisyah tersenyum bahagia seperti seorang anak kecil yang mendapatkam permen. Bagaimana tidak, kamar itu di dominasi warna favorit Aisyah, soft pink yang manis. Kamarnya tidak terlalu besar tetapi sangat nyaman, membuat siapapun tergoda untuk membaringkan tubuh di atasnya.
"Mas Bram, rumahnya sangat bagus. Rumahnya seperti istana." Ucap Aisyah dengan polos.
Bram terkekeh, Aisyah tak tahu rumah nya dengan Diah jauh lebih besar dari rumah ini. Bahkan untuk kalangan atas, rumah ini tergolong sederhana. Tetapi ini adalah jerih payah Bram yang di belinya dari hasil kerja kerasnya dan di niatkannya untuk menjadi tempat tinggalnya dengan Aisyah.
"Istana ini untuk istriku." Bisik Bram di telinga Aisyah.
"Terimakasih mas Bram." Aisyah membalikkan badannya dengan mata berkaca-kaca.
"Hei, kenapa kamu menangis?" Bram terpana melihat satu titik air jatuh di sudut mata Aisyah.
"Aku...aku sangat bahagia. Rasanya semua seperti mimpi." Suara Aisyah terdengar parau.
__ADS_1
"Mimpi bagaimana?"
"Akhirnya, aku punya rumah bagus dengan suamiku." Jawab Aisyah polos.
Bram tertawa sembari menarik pinggang Aisyah.
"Kamu suka kamarnya?" tanya Bram, setengah berbisik. Aisyah mengangguk.
"Ini tempat pabrik untuk kita membuat anak yang banyak." Goda Bram.
Aisyah tersipu, melihat wajah sang istri terlihat merah jambu, dada Bram berdegup kencang. Si otong boy di bawah tiba-tiba berkerinyutan.
Senyum Aisyah itu membuat Bram tiba-tiba bergairah.
Bram dengan gemas menundukkan wajahnya, menyosor ke arah bibir Aisyah, menciumnya tanpa permisi.
Aisyah terkejut dengan kelakuan suaminya yang mendadak itu. Dia sama sekali belum siap di cium mendadak begitu.
Bram melepas sesaat ciumannya, melihat mata Aisyah yang berbinar pasrah menatapnya Bram tak sabar untuk tidak segera meluncurkan ciuman yang kedua, lebih panas dan liar.
Darah Bram berdesir hangat, seperti sedang naik dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
Tangannya merayap ke sana kemari di punggung Aisyah tanpa melepaskan ciumannya.
"Awww..." Aisyah terkejut saat Bram menaikkan badan Aisyah kepinggangnya, tanpa sama sekali melepaskan ciumannya. Tubuh Aisyah seperti melayang di udara, di gendong begitu rupa tanpa Bram melepaskan ciumannya yang semakin panas membara. Bram terlalu pro dalam urusan bercinta, di bandding Aisyah yang awam itu. Setiap kali Bram mencum8unya, itulah seperti sebuah pengalaman baru yang luar biasa untuk Aisyah.
Sesaat mereka berdua larut dalam posisi itu, bahkan Bram seolah tak lelah menciumi Aisyah sambil mengendongnya dalam posisi berdiri begitu. Bram pernah melihat posisi ini dalam sebuah film jadi di praktekkannya sekarang. Tubuh mungil Aisyah memungkinkannya melakukannya. Untung saja badan Aisyah mendukung fantasi Bram, jika badan Aisyah macam badan mpok Mumun yang montok dan berukuran jumbo, mungkin pinggang Bram bisa patah.
Sekarang Bram benar-benar tak sabar, di lepasnya ciuman mereka yang semakin bersemangat itu.
"Aku mencintaimu, Aisyah." Bram menggendong Aisyah dan membawanya Aisyah ke sofa di kaki tempat tidur, ketika dia mendudukkannya di sofa, mata Aisyah melotot ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Tito melongo di sana.
"Ummi..." bocah itu menatap Aisyah dengan bingung, bertepatan saat Aisyah di turunkan Bram dari gendongannya.
"Tito...!" Mereka berdua terkejut bukan alang kepalang seperti baru saja kepergok satpol PP.
"Ummi kenapa? kaki ummi tidak apa-apa?" Tanya Tito dengan raut cemas dari depan pintu.
__ADS_1
Bram dengan reflek segera berjongkok dan memegang kaki Aisyah.
"Iya, Tito...kaki ummimu tadi kesemutan katanya tidak bisa jalan, makanya ayah menggendongnya." Bram menemukan alasan yang tepat untuk alasan adegan gendong-gendongan di siang bolong itu.
"Dimananya yang sakit, sayang? biar kupijitin?" Bram memegang betis Aisyah sambil mengedipkan sebelah matanya untuk isyarat bekekerja sama, yang dipegang malah melotot, loadingnya lambat bekerja jika di bawa berbohong.
"Ummi tidak apa-apa?" Tito masuk dan menghambur pada Aisyah, selama ini gadis ini adalah ibunya. Dia sangat possesif dan protektif pada Aisyah karena Aisyahlah yang merawatnya dari bayi, mengurusnya dan memperlakukannya seperti anak kandungnya. Jika Aisyah sakit dia akan menangis dan tak mau tidur, selalu berada di samping Aisyah.
"Eh...ummi sudah tak apa-apa." Aisyah menyambut pelukan Tito. Anak laki-laki tampan itu benar-benar cemas.
"Ada apa, sayang?" Tanya Aisyah pada Tito sambil memberi isyarat Bram menyingkir dari kakinya, dia tak nyaman suaminya itu memegang kakinya.
"Nenek menyuruhku bertanya, kami meletakkan barang-barang di mana?"
"Astagafirullah!" Bram baru ingat sang mertua masih di tinggalkannya dilantai bawah, dan mungkin sedang kebingungan harus melakukan apa.
Gara-gara senyum Aisyah dia hampir lupa diri, mencumbui Aisyah siang bolong, tanpa ingat ada mertuanya dan Tito bersama mereka. Bahkan dia lupa menunjukkan kamar tidur untuk ibu mertuanya itu dengan Tito.
"Sebaiknya kita turun, aku harus memasakkan sesuatu untuk makan malam kita." Aisyah berdiri sambil menggandeng Tito.
"Kaki ummi sudah tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa."
"Tadi kata ayah tak bisa jalan?"
"Sekarang sudah bisa."
Jawaban Aisyah yang pendek-pendek dan salah tingkah itu membuat Bram menggaruk-garuk kepala, baru kali ini dia berdoa berharap magrib lebih cepat tiba. Bukan karena tak sabar ingin menunaikan sholat sebenarnya tetapi ibadah lain yang tertunda gara-gara dipan ambruk itu.
"Yang sabar ya, tong..." Ucapnya membathin pada si otong yang sempat terbangun tadi, sambil mengikuti langkah Aisyah dan Tito dari belakang.
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis
__ADS_1