CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 17. BIDADARI BERLESUNG PIPIT


__ADS_3

(Mohon kembali mengulang baca bab 16, karena ada revisi tetapi terlambat review, jadi sempat bab 16 terupload yang sebelum revisi, hanya berlaku untuk beberapa pembaca saja yang membaca paling awal di bab 16 ๐Ÿ™๐Ÿ˜…)


"Abah, aku juga ingin beriman seperti nabi Ayub...."


"Jika kamu melihat Ninis lebih di sayang Tuhan, dari pada Isah, ketahuilah Kecintaan Allah kepada hamba-Nya di dunia tidak selalu diwujudkan dalam bentuk pemberian materi atau kenikmatan lainnya. Kecintaan Allah bisa berbentuk musibah. Dan ketika Kita berani mengikrarkan diri beriman, maka Allah akan menyiapkan ujian baginya. Untuk apa ujian? Kenapa harus musibah untuk bentuk kecintaan? Karena dengan begitu Tuhan bisa menyelediki yang mana hambanya yang benar-benar beriman dan yang mana hanya ikrar dusta. ย Jadi, nak... jangan mengeluh lagi, bersabarlah dalam kesesakan. Karena Tuhan sayang dengan kita maka Tuhan menyegerakan hukuman dalam bentuk ujian di dunia, supaya di hari kiamat kita di sempurnakan.."


Inilah yang membuat Aisyah tak pernah bersedih lagi, ini juga yang membuat Aisyah tak pernah menangis setelah itu.


Dia menghabiskan waktu membaca Kitab suci, bersholawat dan mengajarkan anak-anak mengaji di teras pondok rumah mereka.


Dulu, rumah orangtua Aisyah cukup besar, sebuah rumah KPR BTN yang di beli ayahnya untuk dia dan ibunya, tetapi rumah itu telah di jual, untuk membiayai perawatan sang ibu sekaligus membiayai sekolah Aisyah hingga tamat SMA.


Abah juga telah berhenti mengajar di Pesantren dia sudah terlalu tua untuk mengaduh santri, sekarang abah dengan sukarela menjadi marbot di mesjid yang berada tepat di depan rumahnya itu.


Abah kadang-kadang tetap ikut membantu panen ikan di tambak wak Agil, juragan tambak di kampung mereka yang semakin hari semakin banyak tambaknya itu.


Selepas tamat sekolah, Aisyah fokus membesarkan Tito sembari mengajar anak-anak mengaji sambil bekerja sebagai juru masak di kedai makan mbok Tiah. Dia akan bekerja dari pagi setelah mengantar Tito sekolah, hingga siang. Pulangnya, dia akan menjemput Tito dari sekolah. Sorenya mengajar mengaji.

__ADS_1


Hidup Aisyah, tak pernah kosong dengan begitu dia bisa berpura-pura lupa dengan semua kepahitan masa lalunya. Bekerja dan beribadah dengan ikhlas adalah salah satu obat penyembuh jiwa.


...***...


"Jika Abah itu adalah pamanmu, kenapa kamu memanggilnya abah?"


Pertanyaan Bram memecah sunyi, Aisyah membuka matanya dengan gemetar seolah baru sadar dari sekelumit ingatan pada adik bayi tampannya yang seperti pangeran itu.


"Sejak ibu mendapat perawatan di Panti rehabilitasi mental, paman memintaku memanggilnya dengan Abah saja karena hanya beliau orangtuaku sekarang. Ibu sedang sakit dan Ayah juga tak pernah kembali. Aku hanya punya Abah saja. Beliau juga sudah kehilangan kak Rahimah, semua orang telah meninggalkan kami berdua." Aisyah tertunduk, menahan air mata yang tiba-tiba serasa ingin mendesak keluar.


"Tolong berhenti setelah belokan itu. Di sana pasar yang kita tuju." Aisyah berusaha tersenyum, mengusir semua hal yang mengingatkannya pada masa lalu.


"Di sana?" Bram menunjuk pada kerumunan orang di sebuah pinggiran jalan yang tampak ramai. Ada gedung besar tetapi di emperannya tampak dagangan yang terhampar dari berbagai macam pecah belah, pakaian baju sampai dengan sayur-sayuran bahkan jajanan-jajanan pasar dalam beraneka bentuk dan warna


"Iya."


"Kita tidak ke mall?" Bram mengernyit dahinya, sedikit bingung. Dia tak pernah masuk ke pasar tradisional seperti itu.

__ADS_1


"Ini adalah pasar." Aisyah menyahut, dia bingung dengan pertanyaan Bram. Alisnya yang rapi itu terlihat naik.


"Tapi di mall lebih lengkap." Sahut Bram. Seumur hidup, dia tak pernah masuk ke pasar tradisional seperti itu, yang dia tahu makanan siap sedia di atas meja kapanpun dia merasa lapar.


"Di sini lebih lengkap dari mall. Mas Bram tak akan menemukan jengkol kesukaan abah di dalam mall." Aisyah terkekeh kecil. Saat dia tertawa, tampak lesung pipit di pipinya, seperti cerukan tetapi cerukan itu membuat Bram tak berkedip.


Tak pernah Bram merasa terpesona seperti ini pada seorang gadis. Terpesona bukan karena menginginkannya tetapi karena rasa kagum yang tak terkatakan.


Aisyah, gadis sederhana dengan tampilan seadaanya itu, benar-benar cantik saat tertawa.



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2